by nuzuli ziadatun ni'mah


Bacalah surat ini.

*

Hei kamu. Aku begitu rindu, hingga ingin rasanya aku merebahkan diri dan memimpikanmu. Begitu inginnya hingga aku tak tahu bagaimana caranya selain mengadu di ketiadaan ini.

Hei, aku sangat ingin merebahkan diriku di pundakmu, berujar tentang kesulitan-kesulitanku. Tidak kok, aku tak ingin membebanimu dengan itu, aku hanya ingin mengadu. Semua rasa lelah ini, semua sedih ini, aku sekedar ingin membaginya denganmu. Dengar lah, sekali saja. Bagaimana aku mencoba bertahan dari hari ke hari, untuk sekedar menjadi waras tanpa perlu bermuram durja.

Dengarlah bisikanku tentang betapa inginnya aku berbagi denganmu. Bagaimana sulitnya menahan diri untuk tidak mengetikkan sesuatu yang tak berguna untukmu. Betapa sulitnya menahan diri untuk tidak mengganggu kesibukanmu yang kutahu jauh lebih penting dari sekedar aku rindu.

Tidak, tidak ada yang terlalu berarti dari rinduku kepadamu. Aku cukup tahu bagaimana caranya berdamai denganmu dan dengan keinginanku yang terlalu menggebu.

Sungguh, aku sangat ingin mengadu padamu, meski aku tahu aku terlalu pengecut untuk memulainya.