karena setiap orang pun memiliki kesulitannya sendiri

by nuzuli ziadatun ni'mah


Maka, nikmatilah setiap kesulitan-kesulitanmu.

Saya pikir saya sedang ingin memotivasi diri sendiri untuk tak perlu memikirkan ini atau itu yang tidak perlu. Tapi terkadang pikiran buruk datang secepat hujan di gunung, tanpa kabar, tanpa pertanda, begitu saya menyerbu membasahi dan membawa dingin.

Ini adalah sebuah self note buat saya, karena sepertinya menulis menjadi obat yang lain.

Kadang saya sangat ingin mengadu pada seseorang, hingga segala hal yang ada tertumpah tanpa saringan. Di kala yang lain saya begitu ingin menutup diri serapat mungkin karena terlalu banyak yang tak mampu dipercaya. Dan itu terjadi berulang kali. Lantas, dimana letak pembelajarannya? Tak ada. Saya pikir dalam mempelajari hal lain saya kerap kali menghapus memori yang lain lagi, hingga saya lupa pernah menjalani yang sebelumnya. Hah, dasar keledai, haha.

Saya tak pernah tahu beratnya berjalan sebagai orang lain, saya hanya tahu bahwa saya terlahir sebagai seorang aku dan berusaha menjadi aku saja. Jadi, menjalani yang paling baik adalah sebaik-baiknya jalan.

Dalam perjalanan pagi ini menuju ke kantor, tetiba saya teringat dengan episode Kera Sakti, dimana saat itu Dewi Kwan In (gimana sih nulisnya?) menghukum seseorang untuk selalu membawa air dengan keranjang, setiap hari. Maka, layaknya seseorang yang menerima hukuman, ia melakukannya dengan rajin dan terus menerus dari hari ke hari, hingga suatu ketika ia tak sanggup lagi. Marah lah ia pada Dewi Kwan In, yang kemudian datang ke hadapannya, tetap dengan baju putih bersinar-sinar dan cantik. Dia bilang, “Mungkin membawa air memang tak ada gunanya untukmu, tapi lihatlah, keranjang yang kau gunakan kini menjadi bersih dan tak ada kotoran sama sekali.” Kata-katanya tidak jauh berbeda dengan seruan untuk membaca kitab suci setiap hari, agar meski kita tidak paham isinya, setidaknya hati kita menjadi bersih. Hem, hemm.

Ya begitu, sudah menulis saja. Karena ini jauh lebih menenangkan ketimbang berkeluh kesah pada seseorang. Layaknya berbicara pada diri sendiri, saya melakukan dialog dua arah dengan saya dalam tulisan, dan saya dalam kenyataan. Hahaha.

Selamat pagi menjelang siang.

wordsflow