mari bersulang, sayang

by nuzuli ziadatun ni'mah


Selepas angka 19587, fokusku buyar

Aku tak lagi mampu menatap jalan dengan benar

Entah siapa yang ada di depan, atau yang diam-diam mengikuti dari belakang

Cahaya-cahaya menyilaukan kian mengganggu penglihatan; tapi bagaimana cara menyingkirkannya? Tak kulihat ia mampu dibelokkan, atau ditiadakan

Dari jauh terdengar sayup suaramu meninggalkan, tapi tak tampak sesiapa yang melangkah lebih awal

Bukan, bukan

Nadanya tidak begitu sayangku

Yang ketika itu kutanam bukan benih, tapi bakal bunga

Karenanya ia membusuk menuju ketiadaan

*

Aku ingin melantunkan lagu-lagu lama. Saat tak ada sesiapa yang menyelinap begini dalam tanpa diduga. Menghabiskan waktu berhari-hari hanya untuk tulisan dan gambar, hanya untuk aku dan buku. Bukan dengan lamunan dan angan-angan yang entah datang dari kabut tebal sebelah mana; yang kutahu hanya bahwa ia cukup mengganggu penglihatanku.

Kukira rekah bunga di depan pintu rumah cukup memberi wewangian, tapi bunga tetangga bersemai lebih lebat, wanginya lebih semerbak. Aku tak suka dengan wanginya; itu bukan wangimu.

Citra-citra yang bias karena mata yang tak pada tempatnya. Tatapnya tak menuju kepada yang terada, namun yang dulu pernah terlupa. Tapi mengapa masih juga aku melangkah ke depan? Ah, kukira aku mengejar jeda yang selalu sama. Bukan kah antara kita tak pernah ada persetujuan? Bukan kah tak pernah ada rencana walau secuil saja? Atau pernah tapi memilih tidak?

Rupanya ia paham yang kuinginkan. Rupa-rupanya kamu pun mengerti yang kusembunyikan. Tak ada rahasia di antara kita; bukan kah memang tak ada rahasia? Tak ada yang tak kutahu, dan seharusnya kamu pun tahu cerita yang itu.

Jejak-jejak rupa yang terpetakan di ingatan kian mengganggu perjalanan yang sedang kurencanakan. Maka aku mengatur ulang perletakan simpangan dan tujuan. Aku ingin melihat bagaimana caraku berjalan dan dimana letak tujuan. Ada kah kamu bersinggungan atau hanya berada di seberang jalan? Ah, tapi belakangan kupikir kau berada di luar teritorial, sedang sibuk membangun kekaisaranmu, tentunya dengan kesulitan-kesulitanmu.

Di sekitaran cerita yang kusampaikan kepadamu, ada satu yang tak kau tahu, bahwa aku memilih berseberangan denganmu. Tak ada yang begitu sama dari kita, bukan rerupa atau cita-cita. Tak juga kita mampu saling menyamakan nada dan laju darah di bawah kulit kita; sungguh, aku telah membuktikannya. Tak juga ada langkah yang beriringan.

Ya, aku telah tahu sejak awal, karenanya benih-benih yang kutanam tak pernah sengaja kuperlihatkan. Atau bunga-bunga yang terlanjur mekar tak pernah jadi kuberikan. Malah mungkin kau satu-satunya yang tak pernah kuijinkan masuk ke kebun itu. Ah, lucu sekali peran yang kumainkan ini.

Lalu langkah-langkahmu yang ternada lewat rerindu yang tersirat; kau tampak namun tak nyata. Begitu saja aku menyimpulkan setiap langkah yang kau cipta dan nada-nada yang kau dendang. Bukan kah suaramu mengandung ragu? Dan suaraku pun begitu. Aku, hanya tak tahu.

Ingatkan saja pada hujan-hujan yang pernah membawa kekagumanmu, atau suatu ketika yang pernah mengawali kita. Selalu ada awal atas setiap peristiwa, bukan? Begitu pula sebaris yang kita tulis bersama; itu ada, tapi kau melupakannya atau sengaja menghapusnya. Tapi siapa lah yang peduli pada sebaris cerita? Aku iya, karena bisa saja itu adalah titik balik dari sebuah cerita.

Bifurkasi. Selamat atas simpangan yang kau pilih, atas yang begitu berat kau jalani. Seperti mendaki, menelusur, memanjat, atau mengarungi, alangkah menyenangkannya pernah begitu giatnya kita belajar mengorbankan diri. Alangkah indah mengingat setiap tetes darah yang kita tinggal di sepanjang jalan. Bifurkasi; kini saatnya aku menghadapi.

Detak jarum jam pada setiap gelap, atau ketika cahaya tak tampak, beriring nadi dan darah, beriring jantung, beriring napas. Hidup begitu saja, terlampau pada angka-angka, tapi tidak sayang, kita pada sepanjang masa. Ya, tunggu saja masa kita berada pada ketinggian yang sama; ketika berseberangan justru memberi pemandangan yang berbeda.

*

Oh hey, gelasku telah terisi penuh. Mari bersulang untuk kita. Ah bukan, ‘aku dan kamu’ saja.

wordsflow