katanya belajar cerdas

by nuzuli ziadatun ni'mah


Banyak, terlalu banyak artikel tentang perdebatan yang benar dan salah belakangan ini, semua berdebat begitu saja, dan tak banyak yang melakukannya dengan basis data yang kuat. Segalanya tiba-tiba terasa hitam atau putih semata. Jika tidak mendukung ini, ya berarti mendukung yang sana. Memilih hanya karena tidak suka pada pilihan yang kedua.

Lantas, dimana posisi orang-orang yang memilih untuk tidak memilih salah satunya?

Mereka pun bisa dibedakan menjadi yang apatis sama sekali (mungkin semacam saya), dan yang tidak memilih karena telah mengkaji dan menelaah dengan seksama dan dengan basis data yang kuat.

Ah, dunia teks adalah dunia interpretasi yang seluas-luasnya. Dalam setiap yang tertulis selalu ada yang terrahasia dan tersurat dengan begitu jujurnya. Tapi bahkan, tak semua yang menulis mengerti apa yang ia tulis. Bisa jadi saya juga semacam itu, hehe.

Lelah sih, membaca begitu banyak hal yang selalu penuh dengan tendensi dan kebencian dari satu pihak ke pihak yang lain. Begitu banyak yang menulis tapi hanya sekedarnya saja. Sayang, sayang waktu yang terbuang untuk menuliskannya, dan waktu lain yang terbuang untuk menyingkirkan haters yang terlanjur memberi komentar nyinyir.

Saya sebenarnya suka membaca berita-berita miring tentang isu-isu yang sekarang sedang begitu santernya diberitakan di media cetak maupun media online. Semua yang tiba-tiba menjadi sensasi untuk menenggelamkan sensasi lain yang dianggap usang. Mengesampingkan subtansi masalah yang terjadi untuk sekedar menuai rating bagus. Lantas setelah itu dinyinyirin sana sini. Sungguh seru membaca komentar-komentar itu, menghibur nan menyindir.

Dan ya, untuk mencari artikel yang ditulis tanpa tendensi, rasanya semacam mencari kutipan bagus dari sebuah novel 1000 halaman. Susah-susah gampang. Bisa saja melihat dari siapa yang menuliskannya, atau dimana tulisan itu dipampang. Begitu saja. Sisanya hanya euforia semata.

Tulisan ini juga sama sampahnya dengan sebagian besar yang ada, yang hanya sekedar untuk dibaca dan diabaikan kemudian. Kadang, buat saya lebih baik artikel tertinggal tanpa komentar. Cukup saja membalasnya dengan artikel yang bobotnya lebih berat dan ditulis dengan lebih cerdas.

Ah, belum lagi yang menulis tentang teori konspirasi. Haha, dunia online sungguh menarik. Tapi ya, tertawakan saja semuanya. Hehe.

wordsflow