jadi, brengsek-an yang mana?

by nuzuli ziadatun ni'mah


Ah, tak berbeda, entah perempuan atau laki-laki sama saja; hanya level brengsek kita yang membedakan.

Nggak mau sok suci dengan bilang saya bukan orang jahat atau saya berhati malaikat, percayalah, saya pun tumbuh dalam keabu-abuan yang pekat. Sangat terasa ketika saya sendirian mengevaluasi diri dan merefleksikan keseharian.

Kedengaran kurang ajar sih untuk menuliskan ini, tapi saya hanya sedikit, ya sedikit, merasa bersalah karena sering mengatakan bahwa lelaki itu brengsek. Belakangan itu menjadi semacam mantra ampuh untuk mengembalikan mood saya yang berantakan di suatu hari. Atau saat beberapa hal tiba-tiba berkelebat meminta untuk diingat.

But wait, sesungguhnya saya pun tak lebih baik dari para lelaki yang saya pisuhin ini. Pasalnya, saya juga kan manusia biasa, jadi mengapa saya harus selalu memasang standar ganda atas tindakan saya sendiri?

Kejahatan perempuan saya rasa adalah kemampuan drama kami yang terlampau mengerikan. Mungkin yang pernah nonton Gone Girl bisa punya sedikit bayangan tentang tindakan-tindakan paling ekstrimnya perempuan. Kejadian-kejadian semacam itu sungguh terjadi di dunia nyata. Atau semacam kumpul-kumpul antar perempuan yang sedang menyusun strategi mencapai keinginan mereka; kejadian semacam itu juga nyata adanya.

Ya jika saya boleh menguraikannya, silahkan berhati-hati pada perempuan yang emosional namun tidak ekspresif, mereka yang cerdas, dan mereka yang pencemburu. Gabungan semua itu membahayakan nyawa dan kesehatan jiwa Anda.

Hah, jadi ya, nggak mau nulis panjang-panjang. Saya cuma mau ngasih tau kalo emmm, sesungguhnya kita mungkin sama brengseknya dengan laki-laki. Hahaha.

Pardon for my bad words and this post.

wordsflow