oh hei para guru

by nuzuli ziadatun ni'mah


Emm, mari mulai dengan mengakui bahwa saya lupa jika hari ini adalah Hari Guru. Kapan terakhir merayakan untuk guru-guru?

SMA kelas 2, sepertinya itu acara yang paling mengharukan dalam rangka memperingati hari guru. Ketika itu saya bahkan menangis ketika menyampaikan setangkai mawar. Ah, betapa mudah kita tersentuh dengan sesuatu yang mengharukan.

Oh hei guru, pekerjaan itu pernah sangat saya impikan di masa kecil, seperti mengejar layang-layang yang putus tertebas benang lawan, begitu juga dulu saya mengejar cita-cita menjadi guru matematika. Percayalah, ada pengaruh seorang guru pada diri siswanya, dan tak terkecuali saya.

Sejak kelas 1 SD, setiap guru kelas saya selalu memberikan pelajaran matematika yang menyenangkan dan memotivasi saya begitu dalam. Ah, mungkin hanya kelas 5 yang sedikit emm, nggak saya suka gurunya. Tapi mungkin memang saya rada gila matematika ketika itu, sesuatu yang dengan pelitnya saya simpan sendiri dan tak pernah mau berbagi tugas sekolah. Hahaha.

Nah kan, lupakan nostalgia ini.

Oh hei Ibuk, Bapak, dan Mas, rayakan apa yang menjadi kesenangan kalian menjadi seorang pendidik. Semoga kalian memang sungguh mendidik, bukan hanya mencetak dan mendikte. Bukan untuk memberi ceramah, tapi menelaah.

Begitu saja karena saya pun tak pernah melihat kalian mendidik semua anak-anak itu. Tapi dari intensitas mereka berkunjung ke rumah kita, kupikir kesimpulannya dapat begitu mudah untuk ditarik. Ah, saya jadi teringat murid-murid kelas 4 yang lucu dan nakal-nakal itu.

Menjadi guru itu susah, dan maka terima kasih karena tetap bertahan menjalaninya.

wordsflow