dilematika sosial

by nuzuli ziadatun ni'mah


Pernah nggak sih merasa iba dan empati sama peminta-minta di perempatan atau simpangan semacam itu? Secara naluriah kita akan merasakan perasaan semacam itu, meski entah kemudian kita justru tak acuh karena tidak tega, atau justru merelakan beberapa receh untuk mereka, yang pasti, perasaan kasihan akan ada.

Dan tak terkecuali saya.

Saya pribadi tak pernah punya sikap yang jelas pada orang-orang ini. Saya nggak suka melihat orang meminta-minta, karena menurut saya mereka merendahkan diri mereka sendiri, dan jika saya memberi sereceh dua receh artinya saya pun merendahkan mereka. Karenanya, saya jauh lebih menghargai orang yang berjualan di perempatan, misal jualan koran atau menjajakan makanan.

Tapi ya tapi, suatu pagi sepulang saya dari kantor, lewat lah saya di perempatan MM, tempat yang nggak pernah absen dari sejumlah orang yang meminta-minta dan menjajakan koran belakangan ini. Selama mereka meminta-minta, saya hanya sekali dua kali memberi sejumlah receh yang kebetulan ada, tapi selebihnya tak pernah saya niatkan. Jujur saja, karena menurut saya mereka mengganggap itu sebagai sebuah pekerjaan. Berbeda kasusnya ketika dalam beberapa bulan belakangan mereka akhirnya menjajakan koran, yang membuat saya merasa ‘nah, begini kan mendingan’. Ya meski harganya dua kali lipat, tapi tu amat jauh lebih baik dari sekedar meminta-minta.

Nah, kembali ke suatu pagi itu. Biasanya yang ada di perempatan itu adalah dua orang anak dan seorang ibu. Yang seorang anak mungkin kisaran sudah SD, sedang anaknya yang kecil mungkin 3 atau 4 tahun lah. Saya pribadi sering bertanya-tanya dari mana mereka datang, dan kemana mereka kembali pulang. Dan begitu lah, di pagi itu saya mendapatkan jawabannya.

Tersebutlah seorang bapak dengan motornya mengantar mereka ke TKP, memberi bekal makan siang dan tas berisi kebutuhan mereka selama seharian di perempatan. Tak lupa juga dengan setumpuk koran yang akan dijual. Begitu saja pertanyaan saya seputar mereka terjawab.

Mungkin ini prasangka, tapi hal itu secara tak sadar menghapus perasaan-perasaan yang saya rasakan sebelumnya. Ah, tapi saya hanya memaparkan sikap. Ya tapi kan sikap masing-masing orang kan berbeda, jadi sila bersikap sesuai hati nurani saja.

*

Atau suatu sore yang lain ketika saya dalam perjalanan dari KM 0 ke kantor saya. Ketika itu saya punya waktu 50 detik untuk menunggu lampu merah di pertigaan (entah saya lupa pertigaan yang mana). Kala itu hujan sedang bermain-main denga rintiknya.

Ketika saya menengok ke kiri, ada seorang bapak yang sedang merambat pelan di atas pagar setinggi 2,5 meter. Saya bertanya-tanya bapaknya sedang melakukan apa.

Beberapa detik kemudian bapaknya mengambil barang-barang yang digantung di luar pagar lantas memindahkannya ke bagian dalam pagar. Saya masih belum paham. Terus menerus sampai ketiga kali bapaknya melakukannya saya baru mengerti, jika bapaknya sedang ‘pulang’ ke rumahnya di dalam pagar.

Jadi, ada sepetak tanah kosong berpagar di sana. Karena si bapak seorang diri, maka dia membuat kait-kait gantungan di luar dan di dalam tembok untuk menaruh barang-barangnya. Begitu kemudian bapaknya akan memanjat pagar dan memindahkan barang di gantungan luar ke gantungan di dalam. Lantas ketika akhirnya bapaknya selesai, ia tinggal turun ke dalam pagar dan mengambil barang-barang di gantungan. Dan begitu lah prosesi pulang itu berakhir.

*

Banyak ya, terlalu banyak dilematika sosial yang ada di sekitar kita, hingga rasa-rasanya mau apapun sikap yang saya ambil terasa kurang tepat juga. Tapi saya mencoba untuk tidak ambil pusing. Karena selama saya cukup mengikuti hati nurani, sepertinya semua akan baik-baik saja.

Ah, habis ini deh saya menulis tentang pendapat saya mengenai uang. Biarkan saya rehat sejenak.

wordsflow