katanya ngomongin uang

by nuzuli ziadatun ni'mah


Membicarakan uang semacam membicarakan sesuatu yang menyebalkan. Katakan lah saya bukan orang yang sungguh-sungguh paham ekonomi dan semua ilmu-ilmu yang menyertainya. Pun tidak seberapa paham konflik sosial yang terjadi di negara ini. Tapi anggap saja saya bicara sebagai warga sipil pada umumnya.

Saya mencita-citakan dunia ini kembali bertransaksi dengan menggunakan sistem barter, dimana di sana terdapat sesuatu yang sama mahalnya dengan uang, yaitu kepercayaan antar dua orang yang sedang bertransaksi. Tapi, belakangan saya semacam pesimis dengan impian utopis saya yang itu. Semacam mimpi yang tidak berguna dan tidak akan membawa saya kemana-mana.

Tapi mungkin layak kita memulainya dengan melogika nilai uang.

Sejak lama saya tidak memahami inflasi dan prinsip perubahan nilai mata uang. Sepelajaran saya ketika masih SD, atau entah SMP, pembuatan uang didasarkan pada jumlah cadangan emas yang dimiliki suatu negara. Artinya setiap uang yang dikeluarkan memiliki jaminan yang disimpan sesuai dengan kekayaan negara.

Menjadi susah dilogika jika kemudian masing-masing orang meningkat jumlah kekayaannya karena jual beli. Penambahan kekayaan itu sungguh terjadi dengan adanya keuntungan-keuntungan yang diperoleh dari pengembangan modal. Tapi, menjadi aneh ketika kemudian semua orang mendapat keuntungan dalam bentuk uang namun cadangan emas yang dimiliki negara masih dalam jumlah yang sama.

Misalnya nih ya, uang sejumlah x rupiah dijamin dengan emas sejumlah x juga. Tapi kemudian si uang bertambah menjadi x+y rupiah, sementara jumlah emas masih saja x. Maka, nilai uang yang beredar menjadi kurang. Nah, bisa dibilang di sini inflasi itu terjadi. Terjadi penurunan nilai mata uang terhadap barang. Tapi, jika sejumlah y rupiah tadi ditabung di bank, perkaranya menjadi lain, karena uang yang beredar kembali hanya menjadi sejumlah x rupiah. Maka dengan jaminan emas sejumlah x juga, maka nilai mata uangnya menjadi tetap sama. Dan inflasi tidak terjadi.

Membutuhkan waktu yang sangat lama untuk saya memahami hal semacam itu. Saya masih saja tidak terima jika uang hanyalah sebuah permainan semata. Tapi sungguh itu yang sedang terjadi disini. Kita bertikai karena angka-angka yang sebenarnya tak terlihat bentuk fisiknya. Kita bertransaksi dengan sesuatu yang tidak nyata dan abstrak saja. Setiap yang bertransaksi dengan debit sesungguhnya hanya orang-orang yang gila angka, bukan yang sungguh-sungguh memahami prinsip jual beli.

Bagaimana pun, transaksi jual beli dengan uang fisik masih menjadi hal yang begitu nyata untuk saya. Setiap pembelanjaan dengan prinsip ekonomi yang diajarkan semenjak saya masih SD. Maka, saya mencoba membiasakan diri untuk tidak mendigitalkan uang-uang itu dalam bentuk uang.

Dulu saya tak paham mengapa membeli barang bisa disebut sebagai sebuah bentuk investasi. Tapi belakangan saya lebih menghargai ketidakberadaan kekayaan saya dalam bentuk uang asal segala kebutuhan saya terpenuhi.

Uang itu menyebalkan, sungguh. Selalu saja menyebalkan setiap membicarakan konflik dengan uang. Selalu sedih melihat perjuangan seseorang mendapatkan satu atau dua ribu saja dengan begitu berat, namun yang lain membuangnya begitu saja. Uang membuat kita menjadi tidak manusiawi.

*

Lagi-lagi, berita menyajikan begitu banyak permasalahan sosial karena uang. Pertikaian antar anggota keluarga, pertikaian antar saudara, teman, kelompok masyarakat, atau bahkan korporasi, semua hanya didasar pada uang dan kekuasaan. Bosan. Sungguh.

Saya nggak mau berceloteh atau ngasih ceramah kalau uang bukan segalanya, atau kebahagiaan tak bisa dibeli dengan uang atau semacamnya. Karena semua itu memang bisa. Bohong jika dibilang uang nggak bisa membawa bahagia. Toh ketika suatu barang terbeli dengan uang, kebahagiaan itu sungguh nyata. Atau ketika kesehatan bisa ditebus mahal dengan uang. Kebahagiaan semacam itu sungguh ada.

Tapi benda-benda itu hanya media.

Buat saya, ketenangan yang paling menyenangkan adalah kesadaran bahwa saya masih akan tetap bisa hidup bahagia tanpa uang. Maka, ketika membayangkan kita tak punya uang lantas tak mampu mencari solusi untuk hidup, saya pikir itu kemiskinan yang nyata. Hahaha, opo sih ini.

Ya gitu, eneg aja sama masalah uang yang nggak ada habisnya. Sementara untuk kembali berbarter ria, kecepatan hidup orang-orang telah menjauhkan dari impian-impian yang itu. Yah, balik lagi aja mungkin ke kampung, yang kecepatan hidup dan aksesnya membuat kita nggak pusing akan segala permasalahan.

Ah tapi nggak sih, biasakan saja kalau idealitas itu tak selalu bisa diterapkan. Mungkin, bisa jadi.

wordsflow