etika berlalu lintas dan kehidupan jalanan

by nuzuli ziadatun ni'mah


Belakangan berkendara di Jogja semakin sulit saja. Selalu saja terasa salah bahkan ketika merasa telah berkendara dengan benar.

Coba saya ceritakan, beberapa pemicu yang membuat saya akhirnya ingin menulis ini.

Jadi kemarin, tepatnya Kamis, 11 Desember 2015, seperti biasa saya melakukan perjalanan pulang kantor di jam-jam sibuk pulang kantor, alias jam 5 sore. Karena satu dan lain hal, hari itu saya terpaksa melewati rute pulang melalui jalan Seturan, yang mana biasanya bukan merupakan jalan yang biasa saya lalui. Tentunya, karena kantor saya berada di Kalasan, saya lebih memilih melewati Ring Road utara yang memang jalannya lurus dan lebih luas dibandingkan jalan lain yang ada. Selepas Ring Road saya kemudian berbelok di ruas jalan Gejayan dan mengambil belokan ke barat di jalan Selokan Mataram. Saya lebih memilih Gejayan ketimbang Kaliurang karena jarak tempuhnya memang lebih dekat. Dan ya, saya lebih suka jalan itu.

Kembali ke perkara kemarin. Dalam perjalanan pulang itu, saya sebenarnya masih dalam kondisi was-was karena pagi sebelumnya telah melakukan kesalahan bodoh dengan menabrak orang lain yang mendadak keluar gang. Bagian ini akan saya ceritakan belakangan.

Saya eneg dengan kendaraan di Jogja, terlepas dari fakta bahwa saya juga pengguna kendaraan pribadi. Saya sendiri prihatin dengan diri sendiri karena suatu ketika terpaksa membuat SIM dengan jalur belakang karena kebutuhan mendadak. Padahal saya sudah berangan-angan untuk mempersiapkan diri tes dengan benar, yang juga merupakan alasan penundaan saya membuat SIM meski saya sudah cukup umur sejak SMA. Tapi yah, apa boleh buat, itu sudah berlalu.

Entah sejak kapan, pengendara di Jogja semakin tidak manusiawi, tidak ramah, dan yang paling menggelikan adalah ketidaktahuan akan rambu-rambu dan penanda lalu lintas. Bukan hanya masalah pengendara sepeda motor, tapi bahkan pengendara mobil dan kendaraan umum pun sama tidak pahamnya.

Ada kondisi dimana di perempatan Outlet Biru di Seturan, kendaraan dari semua penjuru terhenti dan terkunci di tengah-tengah perempatan, tanpa bisa bergeser kemanapun, dan bahkan tidak bisa mundur. Ketika itu saya berpikir, ya jika manusia-manusia ini masih saja belum mengenal makna sabar dan tertib, mau seribu penanda lalu lintas dalam satu ruas pun, tetap saja tidak berguna. Entah mengapa, begitu susah membuat orang paham bahwa segala hal itu ada aturan dan urutannya. Setiap antrian yang tertib akan membawa kita pada penyelesaian masalah yang lebih baik.

Saya sangat berterima kasih pada pengatur lalu lintas dadakan, jauh lebih menghargai mereka dibandingkan sebagian besar tukang parkir di Jogja. Mereka-mereka ini, yang entah dibayar oleh siapa, selalu bisa memaksa pengendara kendaraan pribadi untuk tertib dan menunggu antrian jalan. Mereka adalah orang-orang yang sangat sabar menghadapi teriakan orang-orang tak sabar yang ingin mendapat giliran lebih awal. Dan anehnya, saya tak pernah sekali pun membayar mereka atas jasa-jasa kecil (dan bermanfaat) itu.

Mungkin bisa dibilang bahwa saya bukan hanya kecewa dengan pengendara motor atau pengendara mobil, tapi hampir semua pengguna jalan.

Misalnya pejalan kaki. Saya akan jauh lebih menghargai mereka yang marah-marah di trotoar karena jalannya yang terhalang oleh pengendara motor atau mobil daripada mereka membela diri ketika jalan di badan jalan karena merasa wilayahnya diambil. Menurut saya, bukan begitu cara membalasnya. Karenanya, ketika saya harus bersabar karena jatah badan jalan yang ‘kemakan’ pejalan kaki yang turun di badan jalan, mau nggak mau saya mengeluh dalam hati.

Jadi merasa serba salah menentukan mana yang salah dan benar. Sementara yang selama ini saya anut adalah segala hal yang telah terpampang dengan jelas sebagai sebuah aturan, tapi selalu saja ada orang-orang yang merasa dirinya benar. Ya, bisa jadi saya sekarang juga sedang melakukan itu di mata orang lain.

Nah, di pagi harinya, saya menabrak orang yang keluar gang tiba-tiba. Entah benar atau salah, tapi dalam prinsip saya, orang yang berkendara di jalan utama lebih berhak untuk jalan terus daripada yang berkendara di jalan-jalan sekunder. Maka, ketika ada simpangan semacam perempatan, yang diwajibkan untuk berhenti adalah yang berada di jalan sekunder. Mungkin bisa dibilang dalam kasus ini saya ingin membela diri, tapi memang begitu keadaannya. Jalan utama dibuat untuk memfasilitasi jumlah kendaraan yang lebih banyak dan lebih beragam dengan kecepatan-kecepatan yang diatur, sedangkan jalan sekunder selalu lebih kecil. Maka, bisa dibilang saya nggak sepenuhnya salah ketika mengalami tabrakan itu. Hanya saja saya juga mengakui kecerobohan saya karena tidak memakai helm dan tidak membunyikan klakson.

Tapi ah, sejujurnya saya membenci penggunaan klakson. Menurut saya itu tidak ramah.

Ya gitu. Masih banyak sih yang ingin saya tulis tentang lalu lintas di kota. Tapi saya nggak mau kedengaran paling benar. Namanya juga kan perspektif. Hehehe.

Ah satu lagi. Bicara lalu lintas, saya paling suka lalu lintas di jalan-jalan primer yang isinya truk dan bus. Hampir sebagian besar memori SMA saya rekam di sepanjang jalan dari Jogja menuju Jakarta dan sebaliknya. Protes-protes terhadap penggunaan lahan yang sembarangan di sepanjang jalan tol, keinginan yang tak pernah terpenuhi untuk camping di pinggir tol, atau masa-masa memperhatikan orang-orang yang bercocok tanam di pinggir-pinggir tol, semua itu menyenangkan untuk dilihat. Hujannya, teriknya, keringatannya, dan yang pasti, keramahan supir-supir truk dan bus yang melakukan perjalanan di tengah malam.

Saya sering mengganggap mereka semacam superman, yang bisa menempuh perjalanan begitu jauhnya dan harus tetap terjaga di malam hari. Sering sekali mereka terlihat saling membantu supir bus atau supir truk lain. Terkadang ada truk-truk yang berjalan amat sangat pelan karena muatan yang begitu besar dan masifnya. Setiap penanda truk juga menyenangkan untuk dilihat. Setiap warna lampunya menandakan jenis muatan yang selalu mereka bawa. Bagian yang paling saya suka adalah interaksi bus-bus saat berpapasan dengan armada sejenisnya dalam perjalanan. Semacam memberi salam ‘semoga selamat sampai tujuan’.

Hem, romantika jalan raya.

Tiba-tiba saya jadi pingin nonton 3 Hari untuk Selamanya. Hehe.

wordsflow