on nothingness #2

by nuzuli ziadatun ni'mah


Sudah lah, apa lagi yang kamu harapkan dari sebuah hal yang hampir tak mungkin di dunia ini?

Berulang kali saya meneriaki diri tentang kalimat itu. Semacam ingin meyakinkan bahwa saya telah melakukan kebodohan berkali-kali. Dan laksana keledai, kembali lagi, lagi, dan lagi ke diri saya yang lampau. Untuk kemudian menyadari dan mengulanginya sekali lagi. Ha, begitu saja hidup ini berlalu.

Saya ini orang yang sangat bebal, hingga begitu bebalnya sampai bahkan saya sangat paham hal-hal apa saja yang tidak akan pernah saya dapatkan. Tapi entah mengapa, justru hal-hal semacam itu yang membuat saya merasa butuh untuk menjadi bebal. Ya udah gitu maksudnya, bebal mah bebal aja kan.

Bukan lantaran saya nggak ingin berubah menjadi lebih menerima atau apa. Maksudnya bebal di sini adalah ketidakmampuan saya untuk meninggalkan sesuatu yang telah begitu lama saya cintai. Prinsip saya sih sederhana aja sesungguhnya. Kan kalau misalnya nggak ada tuntutan untuk move on alias bergerak maju, atau karena memang tanpa meninggalkan saya masih tetap bahagia, lantas kenapa harus?

Hemm, retoris sekali hal ini.

Ya enggak sih, sesungguhnya saya hanya berusaha untuk terus mengikuti kata hati aja, karena setiap hal begitu mudah ditinggalkan atau tetap menjadi tempat pilihan. Tinggal yang mana yang akhirnya kita putuskan. Mana yang akhirnya menjadi prioritas untuk hidup kita.

Bahkan dalam hal pekerjaan, tempat nongkrong favorit, kosan, atau bahkan pakaian pilihan harian, masing-masingnya punya daya pikat yang terus bertahan. Hingga entah ada hal baru yang datang pun, benda-benda yang telah begitu lama tetap memiliki daya pikat yang sama.

Pilihannya kan hanya itu, mau berpaling atau nggak. Ehehe.

wordsflow