on the road

by nuzuli ziadatun ni'mah


Sepanjang perjalanan pulang dalam rintik hujan, saya sering dan selalu membayangkan banyak hal. Bayangan-bayangan ketika saya masih kecil, atau saat saya masih sekolah, atau ketika saya baru-baru masuk kuliah. Setiap hal yang ada selalu menyenangkan untuk dikenang. Bahkan ketika ada hal-hal yang memalukan atau terlalu menyakitkan untuk diingat.

Kadang rasanya segalanya menjadi begitu tak berarti ketika saya sedang berjalan seorang diri. Adakah di luar sana yang bisa membantu saya? Atau bahkan sekedar memikirkan saya? Apa yang terjadi jika saya tak lagi ada di dunia ini?

Ya, tak akan ada yang begitu besar berubah, yang mati biarlah mati, yang hidup hiduplah sepenuh hati. Hanya itu saja jawaban yang saya temukan.

Seorang diri, lahir, hidup, dan mati, semuanya seorang diri. Maka dalam kesulitan yang begitu besar, sebenarnya tidak akan ada yang bisa membantu kita kecuali diri kita sendiri. Begitu saja hidup ini berjalan, dan dalam kesendirian saya akan terus sadar.

Begitu sulit menghilangkan pikiran-pikiran semacam itu. Pikiran akan kesendirian yang selamanya abadi. Bukankah tak ada yang sungguh-sungguh paham pemikiran kita selama ini dan seterusnya. Tak seorang pun. Sungguh tak seorang pun. Dan hanya kita adalah satu-satunya yang harus menyelamatkan diri kita sendiri.

Tapi entah mengapa pemikiran seperti itu selayak candu. Pikiran-pikiran menakutkan yang ingin terus menerus dilogika, padahal nggak bisa juga dibegitukan, haha.

Dan hari ini hujan lagi. Sudah dua hari Jogja diguyur hujan, dan selama itu pula banyak hal-hal yang begitu bersifat masa lalu teringat kembali ke permukaan. Saya terkadang bertanya-tanya kenapa setiap musim hujan tiba, segala memori masa lalu selalu kembali kepada kita. Mengapa setiap hal yang mungkin ingin kita lupakan kembali dengan cara yang lebih puitik. Mungkin karena di setiap hujan kita lebih banyak diam dan merenungi diri sendiri. Atau mungkin saja ketika hujan kita pernah merekam memori yang begitu menyenangkan untuk diingat dan disimpan di dalam ingatan. Entah mengapa.

Terlepas dari entah apa yang saya ingat selama perjalanan seorang diri di musim hujan, saya menemukan fakta-fakta lain, bahwa setiap manusia sejatinya adalah orang asing. Ini masih berkorelasi dengan paragraf di atas sih, dimana memang setiap manusia sealu menyimpan rahasianya seorang diri semalanya. Bahkan ketika kita berusaha untuk menyatakan sebuah rahasia kepada seseorang, banyak hal yang akhirnya tersampaikan denganan maksud yang berbeda dengan yang sebelumnya ingin disampaikan.

Kadang saya begitu ingin mengajak bicara orang-orang yang ada di lampu merah. Sekedar ingin meyakinkan diri bahwa mereka memang makhluk hidup seperti saya dan sedang menuju suatu tempat seperti saya. Mereka juga orang-orang yang memiliki rasa dan kekasih di tempat yang tidak saya ketahui.

Bagaimana pun, pikiran-pikiran semaacam ini membuat saya bersyukur bahwa saya sungguh-sungguh memiliki orang yang bisa saya ajak berbagi dalam banyak hal. Orang-orang yang terasa nyata meskipun saya tak tahu apa-apa tentang mereka.

Ah, bukan kah memang menakutkan ya ketika kita sendirian?

wordsflow