menyambut keramaian

by nuzuli ziadatun ni'mah


Seperti layaknya Jogja pada musim liburan, selalu saja ada hal yang dikeluhkan setiap orang yang akrab dengan jalanan Jogja. Entah libur kenaikan kelas, libur lebaran, libur tahun baru, atau libur aja, jalanan tiba-tiba semacam jadi lautan kendaraan.

Terkadang saya heran melihat begitu banyak orang bergerak menuju satu arah yang sama. Hal itu memunculkan pertanyaan akan apa yang sedang mereka cari. Lebih anehnya, saya pun menjadi rombongan yang juga sedang bergerak menuju satu tempat yang sama dengan mereka. Bagian lebih baiknya, sedikit banyak saya tahu gang-gang kecil di Jogja yang bisa menjadi jalan alternatif menuju lokasi tujuan saya, sementara banyak orang mengantri dengan tidak sabar dan suara klakson yang menyebalkan.

Baru saja saya mencoba untuk mengetahui jumlah peningkatan kendaraan pribadi di Jogja melalui web Badan Pusat Statistik. Sayang sekali pembaharuan data terakhir dilakukan pada tahun 2012, jadi yah, selama 3 tahun belakangan saya jadi nggak tahu berapa peningkatannya. Hadeh.

Jadi saya coba cari-cari data lagi, dan saya temukan berita di sini tentang jumlah peningkatan kendaraan pribadi baik motor maupun mobil di wilayah Bantul. Disebutkan bahwa kurang lebih sekitar 20.000 kendaraan bertambah setiap 6 bulan sekali, dan itu pun disebut mengalami penurunan. Hemm, belum-belum saya sudah ngeri sendiri membacanya.

Bukan lantaran ingin melarang orang untuk memiliki kendaraan pribadi, karena tak ada yang salah dengan hal itu. Setiap orang toh merasa butuh mobil untuk bisa mengajak jalan-jalan seluruh keluarganya entah kemana. Sistem simpan pinjam di bank juga menyebabkan kestabilan ekonomi yang membuat semua orang merasa tetap sejahtera dan kaya meski secara fisik uang mereka tidak ada. Belum lagi kemudahan kredit kendaraan yang semakin membuat orang tak pernah ragu untuk mengambil kendaraan baru.

Tapi, lagi-lagi kita harus juga punya kesadaran spasial, terutama menyangkut jalanan kota. Percuma saja kita memiliki mobil jika itu justru mempersulit diri sendiri dan laju kendaraan di sepanjang jalan yang kita lewati. Bukankah setiap hal harus disesuaikan sesuai konteksnya? Bagi saya, Jogja bukan kota yang ramah mobil, karena jalannya yang masih begitu sempit dan bahkan di setiap simpangan terjadi penyempitan bahu jalan. Dengan hanya melihat itu saja, kita bisa berkesimpulan bahwa manuver di setiap tikungan di jalanan Jogja menjadi lebih sulit dibandingkan dengan kota-kota yang memiliki jalan lebih lebar.

Ini bukan perkara karena saya adalah pengguna sepeda motor. Tapi karena kekesalan saya akibat merasa ruas jalan pengendara motor semakin dimanipulasi oleh mobil. Jl Solo misalnya. Jalan tersebut hanya memiliki dua jalur mobil, sehingga jika dipaksa, maka yang terjadi justru kemacetan yang tidak terhindarkan akibat mobil mengunci jalur motor. Bukan kah wajar jika motor dapat melewati sela antar mobil karena ukuran dan modenya yang sesuai dengan medan demikian? Lantas mengapa harus kesal dengan motor yang nyelip sana sini?

Etika berkendara yang tidak dibarengi dengan kesadaran spasial menjadikan segalanya menjadi lebih rumit.

Lihatlah bagaimana orang-orang bermobil yang berusaha melewati daerah Seturan karena ingin mencapai lokasi tujuan dengan cepat. Padahal setiap jalan di Seturan memiliki ukuran tidak lebih dari 5 meter, yang membuat dua mobil yang berpapasan menjadi terlalu sulit.

Jujur saja, saya memang pendukung pengendara motor dan sepeda, apalagi kendaraan umum. Mungkin lebih karena saya tidak pernah terpuaskan dengan tindakan-tindakan pengendara mobil di Jogja pada tahun belakangan ini.

Ya gitu deh, saya hanya ingin berkeluh kesah. Karena saya lelah ngedumel di jalan raya padahal tak ada hasilnya. Setiap pagi dan sore justru saya yang harus ekstra hati-hati di jalur lambat Ring Road karena mobil bisa seenaknya saja masuk ke jalur motor tanpa mendahulukan kami. Atau terkadang bahu jalan yang diperuntukkan untuk motor disambar begitu saja oleh pengendara mobil.

Jika hal ini terus menerus berlanjut, entah kapan jalanan Jogja akan begitu penuh dengan kendaraan hingga tak ada yang mampu bergerak maju maupun mundur. Mungkin ketika itu terjadi, harga sepeda sudah begitu melambung tinggi.

Hemm, apa saya jadi pengusaha sepeda aja yak? Hahaha.

wordsflow