mimpi

by nuzuli ziadatun ni'mah


Ah tahun baru.

Biasanya di akhir tahun semacam ini saya dan mungkin kalian juga tiba-tiba mengingat resolusi tahun baru kemarin yang mungkin sepanjang tahun terlupa. Haha. Tapi resolusi saya tidak berdasar tahun baru, tapi berdasar umur kok, jadi nggak perlu menulis resolusi tahun ini.

Hemm, banyak hal yang terjadi selama setahun belakangan ini. Saya menikmati masa-masa terakhir kuliah saya, menempuh bagian paling, errrr, sulit dan menyenangkan dari masa-masa kuliah. Melihat banyak orang mulai meninggalkan kesendirian mereka dan memilih untuk menikah. Melihat banyak teman melanjutkan studi ke tempat-tempat yang nun jauh di sana. Melihat yang sebelumnya tak tampak, dan mencoba menerima keadaan untuk kemudian memperbaiki yang dirasa kurang.

Ah, terlalu banyak hal yang terjadi di tahun ini untuk bisa saya sebutkan satu per satu. Biarkan diary saya saja yang merekamnya, nanti semoga saja ketika saya mati masih ada yang bisa membacakannya untuk anak cucu saya kelak. Hehehe.

Bicara tentang bertambahnya tahun, saya semakin dihadapkan pada realita pilihan hidup. Bahwa harus ada mimpi yang saya kejar sebelum akhirnya saya kehilangan arah.

Telah terpikir untuk menulis topik ini sejak beberapa waktu yang lalu. Ketika itu saya sedang menceritakan cita-cita saya ketika kecil, tumbuh besar menjadi apa, memiliki profesi yang bagaimana, mendeskripsikan rumah impian dan tempat-tempat yang ingin saya kunjungi. Hingga akhirnya seseorang menyeletuk, “Jadi mimpimu apa sih?”

Seketika saya terdiam dan mencoba menganalisis keinginan pribadi saya.

Banyak, teramat banyak hal yang saya inginkan di dunia ini. Ada sangat banyak hal yang ingin saya coba, entah sebagai pengetahuan pribadi maupun untuk kemudian ditularkan ke orang lain. Banyak profesi yang menarik perhatian saya. Banyak ilmu yang ingin saya pelajari, entah seorang diri atau berguru kepada orang lain. Yang pasti, saya menemukan banyak hal di dunia ini yang begitu menarik dan saya tak mampu merelakan mereka dengan memilih salah satunya saja.

Tapi saya harus, saya tahu itu. Dan mungkin jawaban, “Ingin keliling dunia” adalah jawaban yang paling masuk akal yang bisa saya berikan. Saya ingin mengunjungi banyak tempat, melihat begitu banyak hal untuk entah sekedar dituliskan di dalam jurnal maupun disampaikan ke dunia dalam bentuk tulisan. Hanya saja, saya harus segera menentukan pilihan jalan yang harus saya tempuh. Yang manapun mungkin sama saja, tinggal bagaimana saya merangkainya menjadi jalan yang menyenangkan untuk ditempuh.

2015. Di tahun ini saya berulang kali mencoba berdamai dengan diri sendiri. Berdamai tanpa dendam yang mengarat. Berdamai begitu saja. Jika memang terjadi maka terjadi lah kan.

Ah itu saja dulu yang ingin saya tulis. Mungkin nanti jika selesai membaca buku saya masih berminat, maka akan saya teruskan.

Dan di tengah malam ini, saya ucapkan selamat mengejar mimpi.

wordsflow