leukemia, dementia, and then what?

by nuzuli ziadatun ni'mah


Ah, apalah arti tahun baru, jika dibandingkan dengan apa yang terjadi setiap harinya.

Ketika pada suatu hari yang bagi kita biasa saja, tetiba handphone bergetar dan terkabarlah seorang kerabat terkena leukemia. Semacam masuk ke dalam dunia buku dan film, mengenal penyakit yang entah apa itu. Baru begitu melihat yang terjadi sesungguhnya, kita semakin tak percaya bahwa semua itu nyata adanya.

Saya takut sejujurnya. Tak yakin bahwa yang sedang terjadi sungguh-sungguh ada di lingkungan saya. Adik jauh saya, dan beberapa hari yang lalu seorang senior saya berpulang karena leukemia.

Penyakit apa dia, ha? Jenis apa dia?

Masih begitu ‘aneh’, manusia datang dan pergi begitu saja, tanpa kita tahu kemana dan dengan apa mereka akan pergi.

Lantas, rekan kerja yang hari sebelumnya masih bisa tertawa bersama di meja makan yang sama, esok harinya telah lupa siapa kita, siapa kami, dan siapa dirinya. Dementia katanya, bahkan ia sendiri yang berkabar pada kami bahwa penyakit itu yang merenggut memorinya.

Seolah tak percaya, ada banyak yang tak kita tahu selangkah dari kaki berpijak.

Yang pergi dan tak kembali, atau yang ada tapi tak menghidupi. Hidup tak sesederhana menjalani, lantas mati. Tapi seberat itu pun, suatu ketika ada tawa yang begitu tulus, yang pantas untuk diingat dan diulangi sekali lagi. Meski telah tiada, meski ia lupa, meski kita bukan apa-apa untuk mereka.

wordsflow