Kamila (i)

by nuzuli ziadatun ni'mah


Kekasih, hari ini aku mengunjungi makammu. Kubawakan kau sebuah buku tentang petualangan ke negeri seberang, kisah pengembaraan dengan sebuah sampan. Bukan kah kau pernah bilang kau begitu menyukai buku semacam itu? Maka maafkan karena baru sekarang aku mampu menghadiahkannya untukmu.

Seharusnya umurmu 28 di hari ini, jika saja bertahun-tahun lalu kau tak pernah menginginkan masuk ke klub 27, kumpulan orang-orang yang kau kagumi itu. Jika bisa berbincang, kuyakin kau sangat bangga dengan keberhasilanmu yang satu ini.

Lalu, apa yang kalian lakukan di sana? Mungkin kamu sedang berdiskusi dengan Soe Hok Gie tentang keadaan pecinta alam di masa kini, atau kamu sedang bermusik dengan Jimi Hendrix dan Kurt Cobain? Haha, pasti hari-harimu membahagiakan di sana.

Tapi ketahuilah sayang, sesungguhnya aku ingin bercerita tentang isi buku harianku. Subuh ini kubacai lembar per lembarnya, dan aku menemukan 4719 namamu tertera di sana. Aneh sekali, karena meski kita tak pernah bertukar canda, tapi aku mampu menulis begitu banyak tentangmu. Bahkan aku tak menemukan setitik duka tertera di setiap halamannya, itu aneh sekali.

Aku tak lupa rupamu, atau wangi tubuhmu, atau cara berjalanmu, atau semua hal yang pernah melekat dan menjadi identitasmu. Setiap obrolan kita, entah di muka umum atau ketika berdua, aku ingat semuanya. Yah, selain janji-janji yang ternyata tak pernah kamu ingat itu, segalanya tampaknya indah untuk tetap kukenang.

Tapi jarak kita terlalu jauh, jutaan tahun cahaya katanya. Meski aku tak pernah mampu membayangkan bagaimana ‘jarak’ yang sesungguhnya. Kita sejujurnya tak pernah berjarak, karena kutemukan kau di setiap mimpiku, dalam selipan ingatanku, atau tersebut berulang kali oleh orang-orang terdekatku. Kau ada dimana-mana.

Ketahuilah sayang, meski kau telah lama pergi, orang-orang ini masih tetap menduga-duga segala yang terjadi antara aku dan kamu. Mereka tetap menduga-duga tanpa tahu lebih jelasnya. Jika kau tanya mengapa aku tak bicara, mungkin lebih karena aku sesungguhnya sama tak tahunya dengan mereka. Aku tak mengenalmu lebih dalam, aku hanya tahu kamu sering nangkring di sudut hidupku sebelum akhirnya beranjak lagi.

Tapi sudahlah, kita memang sering kali tak paham tapi tetap menduga dan berharap. Bahkan jika kuceritakan pun, tak terlalu banyak yang peduli karena mereka terlanjur percaya dengan angannya sendiri. Bisa jadi aku dan kamu juga begitu.

Duh, bukan maksudku berkeluh kesah di makammu, maafkan aku. Aku berkunjung hanya untuk berkabar, bahwa aku tetap masih menyimpan rasa yang sama padamu. Entah bagaimana menjelaskan, tapi seharusnya kita sama pahamnya, bahwa yang demikian tak butuh penjelasan.

Oh hey, ada seseorang berjalan kemari, kupikir aku akan harus segera pergi. Nanti aku datang lagi, begitu buku ini selesai kau baca hingga tuntas.

wordsflow