absurd

by nuzuli ziadatun ni'mah


Siang ini ketika merebahkan kepala selepas makan siang, tiba-tiba saya teringat dengan buku-bukunya Albert Camus di kosan saya, baik yang sudah saya baca maupun yang belum. Lalu pandangan mata saya menjadi kabur, dan gagasan bahwa “inilah absurditas” itu muncul. Entahlah, saya sebelumnya tak pernah yakin untuk menjunjung tinggi suatu paham tertentu, tapi berulang kali saya diganggu dengan konsep absurditas ini, melebihi gangguan yang berasal dari konsep nihilismenya Nietzsche.

Mungkin selain karena memang saya tidak mendalami nihilisme (ya padahal absurditas juga nggak sih), tapi hanya dengan menyadari bahwa betapapun saya protes dalam hati atau ragawi, pada faktanya saya tetap melakukan segala hal absurd dan sia-sia itu. Saya tak melihat keharusan untuk memilih yang lain. Saya merayakan absurditas hidup dengan menjalaninya sebaik yang saya bisa. Absurd kan.

Mungkin pula semua ini dipicu oleh penyakit rekan kantor saya yang tiba-tiba hilang ingatan (ah, atau kalau kata temen saya dia hanya lupa). Dia kehilangan ingatan sejak SMA hingga sekarang, dan hanya sebagian kecil ingatannya yang tersisa. Maka, apa arti eksistensi untuknya? Bukti itu hanya dimiliki oleh ingatan yang samar, dan disepakati bersama sebagai bagian dari sejarah hidupnya. Tapi jika kemudian ia menyangkal bukti eksistensi masa lalunya dalam ingatan kita, bisa apa kita?

Di sana, saya sadar bahwa sesungguhnya saya sendiri yang bisa menciptakan eksistensi itu. Dengan atau tanpa persetujuan orang lain, saya menanggung sendiri bukti-bukti eksistensi itu.

Hampir semua ingatan saya kabur bertumpuk satu sama lain, seakan saya menjadi orang lain setiap kali berpindah tempat. Hari tiada berguna, dan waktu seakan tak ada. Betapa pun hati saya lelah menanggung segala protes dan pikiran gundah serta buruk, tapi secara nyata saya menjalaninya seolah baik-baik saja.

Kadang saya bersyukur ketika akhirnya berkesempatan berjalan seorang diri dari Sardjito ke sekret di tengah malam. Di sana lah saya sungguh sendirian. Berkali-kali mencoba membuktikan bahwa dunia tidak seabsurd yang saya pikirkan. Bahwa yang Ada dan meng-Ada tak pantas lagi dipertanyakan. Tapi berapa kali pun saya tak pernah puas dengan logika di pikiran saya.

Bisa jadi belakangan saya begitu menyukai saat saya merasa menderita, sakit, ataupun lelah yang amat sangat. Bukan karena saya sadomasochist, tapi lebih karena rasa yang ada membuat saya merasa sungguh-sungguh Ada di dunia ini. Hanya hal-hal itu yang bisa membuat saya tenang melawan absurditas yang mengganggu.

Sesungguhnya saya sehilangan arah di keramaian, karena begitu penasarannya saya dengan jalan hidup yang dipilih orang lain. Begitu saya menemukan satu sosok menarik, secara terus menerus mata saya akan mengekor padanya, membuat analisa, membuat skenario, untuk kemudian merasa kecewa ketika menemukan fakta bahwa ia bukan apa-apa dalam hidup saya. Bahkan membuktikan eksistensinya dia di hadapan orang lain pun tak bisa. Tak ada gunanya, tak penting.

Secara sadar, saya seolah mengasingkan diri dari segala hal, terutama dari manusia-manusia yang ada di sekitar saya.

Nggak terlalu paham sih dengan isi kepala saya sendiri, tapi kesadaran tentang absurditas ini membuat saya mengalienasikan diri dengan lingkungan saya. Hanya saja, mungkin pula absurditas yang saya maksud tak sama dengan yang digagas Camus, saya juga nggak terlalu paham.

Bukan berarti kemudian saya ngikut saja dan mengalir bersama pikiran-pikiran saya yang nggak mudah difilter. Tidak. Saya sesungguhnya mencoba untuk tetap optimis dan melawan. Mungkin menulis ini juga salah satu bentuk perlawanan itu. Tapi bahkan ketika menulis ini pun saya merasa absurd, di ruangan berukuran 5×6, duduk seorang diri di depan laptop, seorang lagi nonton film, seorang lagi main game. Apa lah ini semua? Aneh sekali kita mengikuti segala kesia-siakan tak berguna dengan tertawa dan menangis seolah sungguh-sungguh tahu ‘apa itu’?

Duh, saya bingung menjelaskan. Saya bingung menyampaikan.

Ya meskipun kalian yang membaca tak perlu tahu bagaimana kondisi batin saya, atau penderitaan apa yang saya rasakan, atau gagasan apa yang terlintas di pikiran saya, biarkan saja saya menderita seorang diri. Toh saya juga tak pernah ingin mengambil jatah penderitaan orang lain.

Ah sudahlah, saya hanya ingin menulis.

wordsflow