Kamila (ii)

by nuzuli ziadatun ni'mah


Ada kagum yang malu-malu ingin kuutarakan kepadamu; tapi, bagaimana?

Tak ada kata yang mewakili perasaanku, bukan cinta, bukan sayang, bukan kagum. Tidak kah kau paham? Ini adalah kagum yang malu-malu.

Seketika aku teringat kepadamu, suatu ketika saat kali pertama kita bertemu. Tak ada kata, tak juga tatap, bahkan sentuhan. Tak ada apapun, meski tak bisa tidak mataku mengekor pada sosokmu. Tak ada prasangka ketika itu, kau hanya menarik saja untuk ditelusuri, mungkin begitu mataku menerjemahkan ketidakmampuannya untuk berpaling.

Ada kenangan-kenangan absurd yang terus berkelebat dalam ingatanku. Aku begitu sering melihat dan memperhatikanmu berjalan menjauh, sehingga ada beribu gambarmu terpatri dalam ingatanku, meski semua hanyalah gambar punggungmu. Segalanya tergambar begitu jelas, cara berpakaianmu, atribut yang kau kenakan, sepatumu yang kotor itu, cara berjalanmu, suasana kepergianmu, semuanya seperti gabungan foto-foto yang dilebur menjadi satu. Indah.

Rasanya begitu sulit untuk mengatakan bahwa semua itu tak nyata. Tapi untuk merasa yakin itu sungguh pernah terjadi membuatnya terasa lebih absurd lagi.

Sayang, aku tak paham. Aku tak mampu membaca pikiranku sendiri, aku lupa bagaimana cara mengeja maksud dan tujuan dari sebuah perbincangan. Karenanya aku tak melakukan apapun padamu. Tak ada kata yang terucap, tak ada maksud yang tersampai, tak ada tujuan yang terbaca. Tak ada apa-apa. Semuanya hanya rekaan dalam tempurung kepala.

Bahkan ketika sejauh mata memandang tak kutemukan pula seujung bagian dari tubuhmu, seakan-akan itu tak ada artinya, karena bagiku hidupmu sepenuhnya tersimpan dalam ingatanku. Tapi bahkan demikian pun ada yang memberontak setiap kali ‘suatu ketika’ itu muncul. Aku menyebutnya rindu. Mungkin kau menyebutnya dengan nama yang sama pula.

Ketahuilah, yang datang tak boleh dihalang-halangi, dan yang pergi tak boleh ditahan. Bukan lantaran tak ingin bertahan atau mempertahankan, tapi setiap yang merusak jaringan akan dibuang oleh tubuh dan diperbaiki dengan jaringan baru. Siklus kita juga akan begitu. Setiap pemberontakan memicu tumbuhnya jaringan baru, hidup mungkin juga memiliki hukum yang demikian.

Ah tapi sudahlah, yang barusan kulihat bukan kamu, karenanya aku menerjemahkan perasaanku kepadanya sebagai kagum yang malu-malu.

Sedang padamu, perasaanku tak pernah sesederhana itu.

wordsflow