tokoh

by nuzuli ziadatun ni'mah


Penyakit lama. Saya menyebutnya demikian ketika melihat cara orang lain mendewakan satu nama atas hal yang dia lakukan. Bukan apa-apa, ah tidak, atau sebutlah ini sebagai otokritik tentang hal-hal yang terjadi belakangan ini.

Tanpa pernah sungguh-sungguh tahu dan kepo, saya tiba-tiba sering mendengar nama-nama semacam Mas Wayan, yang bikin tangan robot, Mbak Mirna, Mas Krishna Murti, bahkan kawan saya sejak SMP, Mas Ataka. Mereka tiba-tiba menjadi pembicaraan Nasional dengan sebab musabab yang berbeda-beda, dengan proses penyeleban (dari kata dasar seleb) yang berbeda-beda.

Entah sejak kapan, saya tak pernah sungguh mencari tahu bagaimana cara media menjadikan seseorang selayaknya selebriti, entah sebagai tokoh penting perubahan, tokoh kontroversi, maupun korban suatu tragedi. Aneh saya pikir, masyarakat (mungkin saya juga termasuk) begitu mudah berpaling pada tokoh yang baru, mencari tahu sampai lembur berhari-hari, berlaku layaknya detektif dadakan, tukang analisis, ahli spekulasi, dan ujung-ujungnya menulis berita palsu, sukur-sukur menelurkan fitnah baru.

Kecenderungan ini menurut saya adalah penyakit masyarakat komunal kita. Opini yang disuarakan berbondong-bondong semacam menjadi wabah masyarakat, selayaknya penyakit sampar kemudian menjangkit semua orang. Lebih parahnya lagi, tak sedikit yang kemudian terjangkit begitu fatal hingga hilang kesadaran. Yang ia tahu hanya itu, itu, dan itu saja hingga ia merasa puas dengan analisis dan kesimpulan yang ia buat.

Padahal, kita membicarakan kenyataan. Padahal kita membicarakan manusia yang sungguh-sungguh hidup dan memiliki kehidupan. Padahal yang kita bicarakan adalah kemanusiaan. Tak pantas kita bercanda tentang hal itu. Tak pantas kita mengesampingkan itu hanya sekedar untuk mencari kepuasan.

Saya tak mampu memahami berita-berita spekulatif itu, sedih saya bacanya, sedih saya nontonnya. Itu juga sekiranya yang membuat saya muak dengan televisi, muak dengan radio. Saya muak mendengarkan orang-orang berbicara ngawur-ngawuran. Saya jauh lebih menyukai tulisan, karena dalam tulisan kita bisa menganalisis cacat opini yang ada, cacat data. Tulisan lebih mudah dilawan. Meski bukan lantas saya meremehkan orasi dan dialog, bukan. Saya hanya mencoba lebih memilah mana yang cukup pantas saya dengarkan dan mana yang sebaiknya disingkirkan jauh-jauh dari kuping saya.

Mengapa kita begitu mudah menokohkan seseorang?

Setiap yang dirasa menggebrak, berlomba-lomba masyarakat mewartakan, mencoba menjadi yang pertama dan aktual. Kadang padahal itu sebenarnya nggak penting. Bisa jadi malah itu jadi ajang kontestasi popularitas baik tokoh-tokoh yang diselebkan, media, atau baik pendukung dan haters-nya. Aneh sekali masyarakat kita.

Media sosial yang begitu masif menjadi sangat berpengaruh pada hidup seseorang. Sehari mereka mengelu-elukan, sehari menjatuhkan. Sehari kemudian dilupakan. Seakan tak pernah terpikirkan bagaimana nasib orang-orang yang diangkat dan dijatuhkan ini di kemudian hari. Seakan kemudian tak peduli dengan masa depan mereka. Yang penting kan pernah ikut berkontribusi aktif mendukung dan menjatuhkan. Kan, begitu aja kan perkaranya. Yang penting ikut rame-ramean.

Jangankan artis propinsi selevel Florence, presiden pun dielu-elukan dan dijatuhkan esok harinya. Latah sekali orang-orang ini. Latah sekali kita. Terlalu bersemangat atas opini komunal, tapi tak berani bersuara seorang diri.

Saya kesal sih sesungguhnya dengan opini-opini, terutama mereka yang meng-opini-kan sejarah. Sedang saya terus meyakini bahwa fakta sejarah tak akan pernah mampu dibuktikan secara keseluruhan, secara mendetail, untuk kemudian memberi pemahaman yang sama pada setiap orang. Ibaratnya, pada suatu kejadian ada begitu banyak kepala, jadi cerita yang ada pun akan berasal dari berbagai perspektif. Begitu kemudian detektif bekerja, mencari inti masalahnya dan mencari benang merahnya saja. Tak usah ditambahi aksesoris ini-itu. Cari intinya, simpulkan, paksa tersangka untuk memberi pengakuan. Simpel, nggak usah ditambah-tambahi, tak usah digosipkan, tak usah jadi selebriti untuk kemudian dibuang.

Sudahlah, nggak usah lagi kita menyelebkan manusia-manusia ini. Jadi selebriti tuh nggak mudah. Kasihan yang tiba-tiba ditinggalkan para penggemar dan media massa. Dikiranya memberi simpati, tapi ternyata hanya mencari rating bagus. Dikira peduli ternyata hanya ingin dianggap berempati. Biasa aja. Toh yang mereka lakukan bukan hal yang seharusnya membuat mereka menjadi seleb.

Misal kalau Mbak Mirna meninggal, nggak usah lah dicari tau siapa pacarnya, makanan kesukaannya, itu urusan mereka yang mengenalnya lebih dekat. Nggak usah sok-sok menulis fakta-fakta misterius kematiannya atau beberapa berita sampah lainnya. Menyedihkan sekali cara negara ini bersimpati.

Manusia-manusia ini; korban kejahatan, pahlawan masyarakat, tokoh pendidikan, maupun orang biasa yang kebetulan terkenal, juga adalah manusia seperti saya, dan Anda. Juga orang-orang yang punya privasi dan tanggungjawab moral masing-masing. Bukan dengan diselebkannya mereka lantas kemudian mereka bisa menyelamatkan manusia. Itu utopis sekali. Lagi-lagi terjebak dalam istilah-istilah media “satu-satunya mahasiswa Indonesia yang bla bla bla”, atau “orang biasa yang memberi gebrakan pada dunia robotik”, atau “polisi ganteng yang menarik perhatian warga” dan sebagainya. Padahal manusia, sejatinya tidak bergerak seorang diri untuk mencapai impian-impian komunal itu.

Jika kita belum juga lepas dari kekaguman dan mabok tokoh nasional, maka bisa jadi yang kita bicarakan tak ubahnya hanya menjadi bungkus nasi kucing untuk kemudian dikomentari orang kelaparan “ih kasus ini gimana akhirnya ya?” Begitu saja, ia kemudian sudah lupa begitu suapan pertama masuk ke mulut. Padahal bisa jadi negara salah mengadili, keluarga korban dibiarkan kelaparan, dan seterusnya, dan seterusnya.

Sampai mungkin kita baru akan marah jika nasib itu mendatangi diri.

wordsflow