Kepala

by nuzuli ziadatun ni'mah


Sejenak saya terpaku pada sebuah video yang dibagi seorang teman di laman utama facebook saya. Entah bagaimana kronologis dalam sistem syaraf saya, tapi pikiran saya distimulasi oleh video itu hingga saya memutuskan untuk menulis di sini. Yah, meski perlu saya wanti-wanti sejak awal, bahwa topik bahasan kali ini adalah kepala. Jadi, jika setelah ini saya membicarakan sesuatu yang lepas kendali, harap diabaikan dan ambil informasi yang itu saja. Hehehe.

Bagian tubuh manusia selalu menarik untuk dibahas, bagaimana pun juga, dan saya pikir saya akan memulai dengan membahas bagian kepala. Saya nggak terlalu tahu bagaimana cara orang menelisik seseorang dari kepalanya, tapi saya pribadi orang yang suka memperhatikan orang lain dengan detail, malah terkadang terlampau menyebalkan. Anehnya, sebagian kecil bagian tubuh manusia ini lebih sering menjadi parameter utama dalam pengaruhnya terhadap hubungan antar manusia.

Kepala merupakan bagian yang menyimpan hampir semua pertimbangan prioritas manusia dalam memilih teman, musuh, pasangan, lawan, dan hubungan sosial lainnya. Kepala merupakan tempat wajah kita bercokol serta pemikiran kita berproses dan berada. Bisa dibilang, kepala adalah bagian yang paling awal ditelisik manusia ketika bertemu dengan orang lain; baik sejenis maupun lawan jenisnya. Pesona kepala sebagai bagian kecil dari manusia mencakup kerupawanan, kecerdasan, dan keindahan.

Bagi saya pribadi sesungguhnya memikirkan kepala sebagai bagian yang terpisah dari manusia sangatlah aneh rasanya. Lebih-lebih ketika kita membedakan pembahasan antara rambut, telinga, mata, alis mata, bulu mata, hidung, mulut, pipi, dagu, dan bahkan tulang pipi maupun rahang. Terlalu banyak komponen terlihat dari sebuah kepala sehingga jika harus membahasnya satu persatu rasanya akan sangat lama meski pada faktanya pembahasan itu akan menarik.

Mari mulai dengan pembahasan matematika sederhananya dulu. Katakanlah komponen pembahasan yang saya sebut tadi ada 11 komponen dengan 3 jenis variasi bentuk berbeda sehingga jika mengikuti teori probabilitas matematika, akan terdapat 4! pangkat 11 (dibaca: empat faktorial (4x3x2x1) pangkat sebelas) bentuk wajah orang yang berbeda. Itu saya belum menghitung jika mata kanan dan kiri berbeda, alis berbeda, dan sebagainya. Belum lagi jika saya menghitung ada berapa jenis alis manusia, berapa jenis bentuk jidat manusia, dan seterusnya. Dari sana, bukankah sudah jelas bahwa untuk menemukan orang dengan bentuk wajah yang sama akan maha sulit, meskipun mungkin.

Nah, dengan peluang yang sangat kecil untuk memiliki rupa yang sama dengan orang lain, aneh sekali jika orang justru berpikir untuk menjadi sama. Aneh sekali jika kemudian orang memilih satu di antara begitu banyak probabilitas standar kecantikan internasional. Aneh sekali bukan, jika menetapkan satu dari banyak itu pun ternyata diamini oleh banyak orang dan bahkan dianut.

Duh, kalau begini saya jadi pengen membahas wajah aja. Tapi tidak, saya akan mencoba untuk konsisten.

Saya tak terlalu mengikuti sejarah fashion atau make up sih jadi nggak terlalu tahu tentang hal itu. Tapi setahu saya tentang sejarah kecantikan (yang lebih dinamis ketimbang standar ketampanan) adalah bahwa standar kecantikan setiap jaman itu berbeda. Nah, di sini saya akan mempersempit pembahasannya setelah masa postmodern aja biar pembahasannya nggak kemana-mana.

Sejak popularitas make up semakin menjadi di akhir abad ke 20, telah terjadi pergeseran makna ‘cantik’ dan (mungkin) ‘tampan’ di masyarakat. Seingat saya, masa sebelum tahun 2000 masih begitu jarang kita temukan wanita bersolek di jalanan. Masih begitu jarang saya melihat gadis yang belum menikah menggunakan make up. Jangankan sulam alis, yang memoles dengan gincu dan bedak pun masih begitu sedikit. Namun belakangan, ketika begitu banyak alat rias dijual dengan bebas, tutorial make up yang tersebar luas dan mudah diakses di youtube.com, dan semakin maraknya iklan-iklan kecantikan di hampir semua media massa, maka orang berbondong-bondong mengikuti standarisasi media massa tersebut.

Akibatnya nih (setidaknya di mata saya), mata seakan mengalami bias ketika bertemu banyak orang di keramaian. Setiap gadis berpoleskan gincu, bedak, eye liner, mascara, pensil alis, dan blush on. Kesemuanya menyatu di wajah dan mempercantik wajah alami mereka. Saya tak ingin banyak menyindir atau nyinyir, karena bahkan saya pribadi adalah orang yang suka memakai gincu di bibir dan terkadang eyeliner di bulu mata. Sekedar info saja, saya menganggap itu sangat menarik meski make up selebihnya saya anggap tak berguna. Tapi ya gitu, make up yang begitu beragam di wajah seseorang kadang membuat saya jadi tak mampu menemukan sisi menarik dari orang tersebut.

Bukan hanya make up yang membuat mata saya bias, tapi juga bagaimana para wanita mencoba untuk ‘mengemas’ kepala mereka dengan apik. Standar cantik yang menyebar di masyarakat itu jelas mau tak mau membuat orang mulai mengeksplorasi gaya rambut dan hijab untuk bisa tampil lebih menonjol di antara banyak wanita lainnya. Akibatnya, jika make up secara langsung menonjolkan keindahan wajah maka rambut dan hijab menjadi ‘bungkus kado’ yang bisa memfokuskan pandangan orang ke wajah mereka.

Pada masa saya duduk di SMP bahkan gaya rambut lurus pernah begitu heboh sampai-sampai semua orang ingin rambutnya lurus. Bahkan yang sudah lurus pun tetap minta diluruskan. Kemudian muncul tren rambut berwarna, sampai-sampai semua orang ganti warna rambut, entah dia berhijab maupun tidak. Belum lagi tren di kalangan hijab; ketika kerudung ‘tsunami’ (sungguh, suatu ketika kerudung jenis ini pernah populer) menjamur, semua orang ingin memilikinya. Lantas berganti ke kerudung persegi katun, ganti ke kerudung ‘paris’, pashmina, dan entah berapa banyak jenis kerudung lagi yang populer hingga akhirnya segala jenis kerudung ada di hari ini. Saking banyaknya sampai saya begitu heran bagaimana mungkin masih ada inovasi gaya dan model hijab baru! Sementara gaya rambut lebih stabil dan nggak banyak pilihan, karena variasi rambut lebih banyak pada model perawatannya.

Begitu dahsyatnya perubahan tren di kepala ini hingga hijab bukan saja menjadi kebutuhan wanita, tetapi juga kebutuhan sosialnya. Hijab bukan hanya menjadi, errrr, parameter keimanan (???!), tetapi justru bisa mengaburkan. Entah bagaimana, hal-hal yang sifatnya sangat fisik ini menjadi sangat tidak valid untuk dijadikan referensi dan bahan pertimbangan dalam membaca sifat dan karakter seseorang. Ya meskipun bisa, saya akan memilih cara yang lain. Hehehe.

Itu baru bahasan tentang wanita, sedang tren di kalangan pria lebih aneh lagi.

Pria tidak sefluktuatif wanita dalam hal perubahan tren fashion di kepala, meski juga nggak bisa dibilang sedikit. Lingkup perubahan tren di kalangan pria lebih berkisar seputar gaya rambut, kumis, jenggot, topi, dan beberapa tato. Untuk urusan rambut saja, pria termasuk yang pemilih baik dalam memilih tukang cukur maupun memilih model cukur rambutnya. Suatu ketika bahkan ada istilah ‘model rambut cowok banget’ atau ‘model rambut banci’ atau ‘model rambut homo’, dan apalah sebutannya. Tapi dalam hal ini, wanita juga berkontribusi banyak dalam mempengaruhi tingkat percaya diri mereka; sedikit berbeda dengan wanita yang tingkat percaya dirinya dimotivasi oleh sesama teman wanita.

Nah, dengan begitu banyak faktor yang sebenarnya bersifat sementara saja (ya artinya kita tak pernah tahu bagaimana mereka ketika tidak bersolek, atau ketika bangun tidur, atau ketika nge-gembel di kota orang) maka saya jauh lebih suka menyingkirkan standar kecantikan umum yang diamini masyarakat dan membuat persepsi pribadi tentang hal itu. Saya jauh lebih menyukai interaksi langsung dalam bentuk dialog dan percakapan untuk akhirnya menyimpulkan dengan nalar tentang bagaimana lawan bicara saya. Bagi saya, kecerdasan lebih sulit distandarisasi, kecerdasan tak bisa diukur, karena lebih banyak hal yang menjadi ‘pengotor’ penilaian. Pengalaman masing-masing orang juga mempengaruhi tingkat pemahaman dan cara penyampaian informasi seseorang di hadapan publik. Karenanya, saya lebih suka menyebut seseorang sebagai ‘orang yang enak diajak ngobrol’ atau ‘orang yang inspiratif’ atau penyebutan yang lain ketimbang menyebut seseorang sebagai ‘cerdas’. Ya tapi nggak juga sih, kalau memang dia begitu cerdasnya saya tetep akan menyebut ‘cerdas’, hahaha.

Hemm, sudah hampir 1200 kata saya menulis di sini dan meski masih ada beberapa hal lain yang ingin saya tulis, tapi saya sudah mulai lelah, hehehe. Jadi saya sudahi dulu saja tulisan ini.

Sedikit catatan: Sebenarnya saya juga baru benar-benar mencoba menuliskan sebagian kecil pemikiran saya tentang kepala karena saya pikir ada begitu banyak yang bisa kita bicarakan darinya. Saya agak kurang ajar dalam memperhatikan orang, jadi rada kurang ajar juga dalam mempersepsikan orang di pikiran saya. Untuk itu saya menuliskan ini sebagai penjelasan, dan mungkin pembenaran sikap saya. Hehehe.

Daan, saya ucapkan ja mata ne!

wordsflow