by nuzuli ziadatun ni'mah


Katamu kau ingin marah, sungguhkah?

Sudahlah, lupakan keinginan-keinginanmu itu untuk menyampaikan amarah. Kau tak akan mampu. Untuk bicara biasa saja kau butuh waktu menyusun serangkaian kata, dan kau bilang kau ingin marah?! Percuma, itu tak akan terjadi.

Tidak, tidak. Aku tak sedang meremehkanmu. Aku hanya menegurmu.

Coba sini kujelaskan hal yang sering terjadi kepadamu masalah amarah ini. Kau begitu seringnya datang kepadaku, bercerita pelan namun menggebu-gebu. Seakan-akan kau ingin mengatakan pada semua orang tentang amarahmu. Tapi kau tak tau. Kau tak bisa paham bagaimana amarah itu mampu menguasaimu selama sesaat. Lantas kau kebingungan akan sebab-musababnya, bukan?

Kan, begitu kan yang kau rasakan?

Kau pikir kau mampu mengobati penyakit bingungmu itu?! Hah, tak mungkin kau mampu melakukannya.

Kau orang yang tak paham cara melukai lawan. Ah, lebih tepatnya kau tak tahu arti luka yang sesungguhnya. Karenanya, kamu tak akan mampu menuangkan amarahmu yang sesungguhnya.

Hahaha, ah jangan membuatku tertawa. Jadi kau tak paham bahwa selama ini kau tak pernah marah? Itu gejolak yang kau rasakan, yang hanya sebatas mulanya saja. Kau tak pernah masuk lebih dalam dari seujung celupan. Sudahlah, kau tak punya alasan khusus untuk melontarkan amarahmu.

Sini duduklah mendekat, biar kuusap kepalamu perlahan–bukankah kau bilang bahwa kau sedang pusing? Kemarilah, biar kutemani kau hingga tertidur.

wordsflow