insecure

by nuzuli ziadatun ni'mah


I don’t really know how to start this one actually. Seems like I just want to tell that I feel insecure right now, just that. But yeah, let me try to write something here.

Begini, ketika menulis ini, saya sedang sendirian dalam perasaan kenyang dan suasana yang menyenangkan. Jadi sedikit banyak hal-hal yang akan saya tuliskan di sini nggak sedalam yang saya pikirkan ketika suasana hati saya sedang kacau.

Saya pikir, manusia sangat rentan dengan pengaruh di luar dirinya. Dengan setiap peristiwa, entah yang berhubungan langsung dengan kita atau tidak. Sebagai contoh misalnya, dengan pemberitaan tentang Joey Alexander, Rio Haryanto, atau bahkan Saiful Jamil, setiap masing-masingnya bisa menimbulkan perasaan yang berbeda pada kita. Anehnya, perasaan itu bukan hanya berupa perasaan sementara yang muncul selama beberapa detik, tapi bisa jadi kita bawa seterusnya. Belum lagi jika peristiwa itu menyentuh sebagian memori kita akan sesuatu, maka sempurna sudah sumbangsihnya dalam mengatur pemikiran kita.

Meski begitu, sangat aneh saya pikir, bahwa setiap informasi yang kita peroleh akan mendapat reaksi yang berbeda dari masing-masing kita. Bahkan untuk diri kita sendiri, ada informasi yang bisa kita rasakan efeknya secara berbeda ketika didengar pada waktu dan momen yang berbeda. Begitu juga dengan pikiran kita sendiri.

Ada waktu-waktu ketika saya sungguh-sungguh bebas dari kekhawatiran apapun di dunia ini, tidak masa depan, tidak kematian. Tapi pada waktu yang lain saya bisa dengan mudah memutarbalikkan pendapat saya pribadi hingga saya merasa begitu rapuhnya. Begitu berat memikirkan apa yang akan terjadi esok hari, atau yang sedang terjadi di saat ini. Kenapa ya?

Kerentanan itu saya pikir, adalah juga dipengaruhi oleh keadaan lingkungan sekitar dan perasaan kita di kala itu. Mendengar berita pedofilia misalnya. Ketika kita sedang bersama dengan anak-anak dan mendengarnya, mungkin kita akan begitu marahnya. Tapi ketika kita sendirian, kita mungkin saja berpikir lebih pada psikologi pelakunya.

Nah, hal-hal yang semacam itu yang sekiranya sulit untuk saya tangani seorang diri. Saya sadar kelemahan saya akan perasaan rentan ini. Bukan berarti saya begitu saja menerima pengambilalihan kendali pikiran terhadap emosi, saya tetap melawan. Tapi terkadang ada bagian diri saya yang merasa sedang berkata, “Apakah sungguh saya tak boleh marah, menangis, atau bersedih?” Menjadi kuat bukan hal yang paling ideal. Tapi mencoba untuk menerima diri sendiri selayaknya manusia saya pikir jauh lebih baik.

Cuma ya itu, saya masih tidak suka merasa insecure, baik pada lingkungan saya atau bahkan pada pikiran saya sendiri.

Seorang Ema baru saja bertanya pada saya, “Mana yang lebih enak, jadi mahasiswa atau udah kerja?”

Agak bingung saya menjawabnya, karena jawaban ‘yang lebih enak’ itu hanya bisa dijawab dengan membandingkan perasaan dan pemikiran saya ketika masih menjadi mahasiswa dan saya yang hidup di detik ini. Bukankah enak atau nggak hanya bisa dirasakan pada momen terjadinya saja? Saya terdiam sejenak sebelum akhirnya mengakui pada Ema bahwa saya tak tahu. Hal-hal yang saya khawatirkan masih saja sama. Keresahan saya masih sama. Dan karenanya perasaan rentan itu membuat saya menjawab, “Sama saja.”

Setelah beberapa bulan belakangan melihat orang berjuang dengan dirinya sendiri kesana kemari, saya pikir sebenarnya tepat sekali perkataan bahwa Tuhan memberikan masing-masing manusia cobaan yang sesuai dengan kemampuan mereka. Tanpa meremehkan manusia-manusia ini, saya pikir kelas bawah misalnya, mereka hanya mungkin akan memiliki permasalahan dasar seperti sandang, pangan, dan papan. Kelas menengah juga akan memiliki permasalahan yang sesuai dengan kelasnya; yaitu memusingkan bagaimana cara naik tingkat menjadi manusia kelas atas. Sedang yang berada di kelas atas sibuk mencari cara mempertahankan posisi mereka di sana.

Sama saja saya pikir. Semua orang mencoba untuk menyelamatkan diri mereka; dari rasa sakit yang mungkin datang, dari hal-hal yang mungkin memalukan. Sering sekali kita begitu susah merasa puas dengan nikmat yang kita miliki, dan justru mencoba mengusik diri dengan tantangan-tantangan hidup yang dianggap mampu ditangani; membuat usaha, berjudi dengan nasib, menunggu orang lain yang tak kunjung datang, menginginkan harta yang lebih banyak, dan entah lah, manusia tak pernah lelah menantang dirinya sendiri.

Benar jika itu adalah media aktualisasi kita yang paling mudah, karena pada dasarnya manusia memang haus belajar. Hanya kadang, saya tak paham kenapa-nya.

Ah entahlah, saya pun bingung tulisan ini mau saya bawa kemana. Saya hanya merasa insecure belakangan ini, tentang beberapa hal yang tak bisa saya ceritakan. Menyebalkannya, karena perasaan ini selalu hanya saya rasakan ketika bersama orang lain. Ya masa saya harus hidup sendiri selamanya kan ya nggak mungkin juga. Jadi yah, sudahlah. Setidaknya saya aman dengan diri sendiri hingga esok hari.

wordsflow