Sajak (xxiv): mati (rasa)

by nuzuli ziadatun ni'mah


Penghujung malam itu, kau datang dalam mimpiku. Kau genggam padamu dua takdir; saat ini yang kekal dan masa depan yang kabur.

Kau tawarkan padaku–aku menolak.

Kau dekatkan padaku–aku menghindar.

Tidakkah kau ingin bersamaku? tanyamu. Aku berpaling.

Tidakkah kau mencintaiku? Aku menantang matamu.

Masih sulitkah kau paham? Yang sejati selalu hanya bisa diperoleh ketika kita mati. Pergilah begitu malam menghilang.

Diam kita terbungkam, entah melihat dan berpikir pada apa. Ah, mataku tak mampu menahan bendungnya. Kuteteskan duka pertama; menghilang ia terbawa gelombang. Tetes kedua; kau buang takdir yang kau bawa. Tetes ketiga; kau hamburkan dirimu ke ragaku.

Kita hanya terbelenggu sepi dan mimpi. Kita hanya terpenjara raga.

Mimpi itu rusak, menghilang. Membawa ragaku pada nyata yang tak kentara.

Jelas kini, aku lebih memilih ragu, bukan bersuka pada mimpi yang hampa saja.

Ah, begitu lama aku menyimpan segenggam rindu pada lelagu kita di malam Minggu.

wordsflow