Life Serenade (i)

by nuzuli ziadatun ni'mah


Oke, sekarang 22.22 dan saya lagi punya mood yang bagus untuk menuliskan sesuatu di hari ini.

Well, live goes on everybody, no matter happen, no matter we feel, no matter we hope. Everything keep moving in their track.

Karenanya, saya hari ini memutuskan untuk melakukan perjalanan paling kontemplatif yang pernah saya lakukan seumur hidup saya; touring seorang diri. Sebagai pendahuluan, asal muasal cerita ini adalah agenda saya ke Semarang sejak sebulan yang lalu (sebenernya udah lama banget sampai nggak tau kapan). Tapi kemudian karena satu dan lain hal akhirnya rencana itu tertunda di hari ini. Sayang sekali juga, pagi tadi saya diberitahu bahwa temen saya nggak bisa nemenin di sananya. Yah begitu lah, daripada buru-buru ternyata di sana nggak dapet apa-apa, akhirnya saya memutuskan mengganti tujuan saya. Meski ketika itu saya masih nggak tau mau kemana.

Setelah mandi super bersih, pakai gincu dan eye liner (hehe) plus pakai baju baru, berangkatlah saya ke Satub untuk mengambil helm dan sepatu. Ketika saya datang mereka sedang bersih-bersih, dan beruntung sekali karena ada gorengan banyak nangkring di lincak. Hohoho. Jadilah saya kenyang duluan sebelum memutuskan untuk makan.

Berhubung saya sudah terlanjur gembar-gembor kalau mau ke Semarang-tapi-ternyata-nggak-jadi, akhirnya dengan gengsi sebesar badan saya, tanpa tujuan saya melenggang keluar Satub.

Perjalanan ini saya mulai dengan belanja kebutuhan darurat yang nggak perlu saya ceritakan lah yak. Hehehe. Begitu selesai belanja, saya pun meluncur ke Prawirotaman untuk memenuhi hasrat saya makan es krim. Oh my God, no one could reject it! Jadi meski seorang diri, saya tetap makan es krim di sana. Hahahaha. Sembari menekuni setiap sendoknya, saya memikirkan alternatif perjalanan saya. Jujur saja, saya masih begitu ingin pergi ke Semarang. Itu keinginan saya sejak lama, dan entah mengapa rasanya susah sekali merealisasikannya.

Yak, pilihan saya jatuh pada Purworejo dan Gunung Kidul, dan selama 2 detik lampu merah Prawirotaman itu akhirnya saya memilih untuk belok ke kanan. Tampaknya secara pribadi saya lebih jatuh cinta pada Gunung Kidul meski saya sesungguhnya tak punya tujuan khusus ingin kemana. Sempat beberapa waktu yang lalu saya melihat seseorang membagi foto sebuah pantai di Wonogiri. Tapi itu terlalu jauh karena hari sudah menunjuk pukul 1 siang. Maka saya memutuskan untuk pergi ke tempat yang lebih pasti. Waduk Gadjah Mungkur tampaknya menarik untuk dijelajah.

Lantas saya menepi di pinggir jalan dan membuka Maps sebagai imam hampir setiap manusia nyasar di dunia ini. Hahaha. Saya sengaja mencari jalur tengah karena jalannya pasti paling seru. Jika harus lewat Klaten sepertinya terlalu panas. Kalau lewat Bedoyo rasanya terlalu jauh. Jadi saya mengambil jalur Nglipar-Semin-Manyaran-Wonogiri. Berasa tahu banget, padahal pengetahuan jalan-jalan di sana nol besar.

Tapi saya sangat penasaran dengan perjalanan ini. Lebih karena saya sudah lama mengingikan melakukan perjalanan jauh seorang diri. Dan tujuan saya yang ini juga sudah cukup lama saya masukkan ke dalam list. Lebih-lebih lagi, Semin juga menjadi salah satu tujuan perjalanan saya yang lain. Dahulu saya sering sekali ke sana, ke sekolah Bapak saya, mancing, jalan-jalan. Hahaha.

Berbekal ingatan lewat GPS hape, saya berbelok ke arah Nglipar. Saya sempat melewati jalur ini beberapa bulan lalu, ke Betara Srinten. Tapi tempat itu baru setengah jalan menuju ke Semin. Sempat ada insiden kecil ketika di tikungan saya kelebihan kecepatan. Hahaha. Untungnya ada dua orang yang menolong saya. Dan meskipun pegal-pegal perjalanan ini harus tetap berlanjut hingga tuntas.

Setelahnya saya mencoba lebih berhati-hati karena jalanan yang basah. Perjalanan cukup statis menuju ke Semin karena hanya ada satu jalur. Paling-paling saya hanya melakukan dialog-dialog dengan diri sendiri. Entah bagaimana rasanya saya tidak merasakan emosi apapun kecuali bahagia dan tenang menempuh perjalanan. Aneh sekali.

Barulah begitu masuk ke kecamatan Semin saya memutuskan untuk berhenti dan mengisi perut. Hehehe. Sesekali saya membalas pesan dari orang-orang yang setiap hari mengisi ruang obrolan saya. Ah, perjalanan yang ini juga kebetulan tidak diketahui ibu saya. Jadi seperti biasa, saya menggunakan adik saya untuk menjadi pendukung.

Jam menunjukkan pukul 3.30 sore, dan menurut peta perjalanan saya masih sekitar 1 jam lagi. Maka saya bergegas dan kembali mengecek jalur dengan GPS. Apes sekali ternyata, sinyal di daerah Semin dan seterusnya tersendat-sendat. Jadi saya berbekal arah saja mengikuti jalan yang sekiranya tampak seperti jalan utama. Yang penting ke arah timur aja. Hahaha. Beruntung juga karena di beberapa simpangan terdapat plang penunjuk arah yang siap membantu saya. Patokan saya hanya ke arah Klaten, atau Wonogiri, atau Pracimantoro. Ya begitu deh pokoknya, sampai setelah beberapa kali ada adegan putar balik, sampailah saya di simpangan Wonogiri-Pracimantoro.

Saya terus menuju ke utara dengan semangat perjalanan yang semakin menggebu. Semakin bersemangat setiap kali ada bagian waduk yang nongol dan tampak di sela-sela dedaunan. Sebenarnya tujuan saya bukan ke tempat wisatanya sih, lebih ke tempat yang bisa melihat di waduk dengan sudut paling menariknya. Tapi melihat perbukitan di depan yang begitu indah, alhasil saya memutuskan untuk terus menuju utara sampai ke lokasi rekreasinya.

Hemm, sedikit menyesal, tapi bangga dengan perjalanan yang saya buat seorang diri. Ahahaha. Bersebelahan langsung dengan si waduk, jajaran tebing menghiasi sisi barat. Bagus. Anggun. Cantik. Dan rasa-rasanya saya harus kesana sekali lagi, dengan perbekalan yang lebih serius lagi. Tentu dengan seorang teman untuk menjelajah.

Saya hanya keliling-keliling sejenak, berpuisi via instagram, lantas memutuskan untuk pulang.

Bagaimana pun, yang lebih saya sukai dari kegiatan ini adalah ketika saya menghabiskan waktu sepanjang jalan; seorang diri, menantang berbagai kemungkinan buruk, dan mencoba menikmati apapun yang bisa saya nikmati. Saya tak perlu ijin orang lain untuk berhenti, untuk terus berjalan lagi, atau untuk memilih simpangan mana yang harus saya ambil. Semua kan terserah saya. Dan saya pikir itu kebebasan yang menyenangkan untuk sesekali dinikmati. Apalagi ini kan hari Minggu.

Yah begitu lah. Saya baru menginjakkan kaki kembali di Sekret sekitar pukul 8 malam. Bahagia, dan entah kenapa nggak lelah sama sekali.

Oiya, tulisan ini memang nggak dimaksudkan untuk jadi prosa. Saya lagi malas mencari padanan kata yang puitis. Hehehe. Jadi saya cerita-cerita biasa aja lah.

So, good night people.

wordsflow