by nuzuli ziadatun ni'mah


Aku tak tahu lagi kepada siapa aku harus mengadu. Kupikir ini satu-satunya saranaku untuk berkeluh kesah denganmu, sementara mata dan raga kita tak pernah bersua, namun begitu ingin aku merebahkan diri padamu.

Katakan apapun aku tak peduli, aku hanya ingin bercerita begitu panjang hingga aku tertidur pulas.

Mengapa hidup begini rumit? Mengapa begini pedih dan tak terjelaskan?

Aku tahu masalahku tak akan pernah menjadi masalah untukmu. Aku tahu masalah ini tak seberapa besar dibanding beban dunia yang kau tanggung sendiri. Tapi ketahuilah, aku hanya butuh kau dengarkan. Setidaknya aku tahu bahwa kau membaca setiap surat yang dengan pengecutnya tak mampu aku sampaikan langsung kepadamu.

*

Hingga hari ini, masih begitu sering aku memimpikanmu pada malam yang panjang. Terkadang begitu bodoh aku merelakan diri terhayut bersama mimpi, bahkan begitu aku sadar akannya. Kupikir rinduku akan terobati karena itu. Ternyata tidak.

Suatu ketika kita bertemu, rinduku tak semakin mereda, justru malah sebaliknya. Bagaimana menjelaskan ini kepadamu? Kupikir tentu kamu paham hal-hal semacam ini. Aku tahu hatimu tak terbuat dari batu.

Aku masih sangat menyukaimu, tanpa mampu kujelaskan mengapa. Masih begitu sering aku menyebut namamu dalam gumamku, dalam setiap perbincangan ringan dengan orang-orang di sekitarku. Masih begitu sering aku memandang ke ujung jalan, berharap akan mampu menemukanmu berjalan ke arahku. Setiap kau datang, mataku tak mampu berhenti mengekor padamu, setiap gerikmu, setiap ronamu, ada yang harus terabadikan dalam detik demi detik itu.

Bagaimana menjelaskan ini kepadamu? Butuhkah kamu akan penjelasanku?

Masih begitu besarnya hingga aku tidak mampu memahami bagaimana rasa ini bermula. Bagaimana rasa bergerak dalam setiap nadi dan vena. Atau bagaimana ia berputar sekali lagi menjelajah setiap sel dalam tubuh, terus-menerus hingga tak tahu kapan ini akan berakhir.

Entah mengapa, aku begitu sedih malam ini. Seakan tetiba banjir melanda kedua mataku yang sebelumnya tampak tak peduli. Bahkan tak tahu lagi kepada siapa lagi aku harus merebahkan diri, kecuali pada sepi? Siapa yang akan begitu peduli pada tetes air mataku kecuali seorang diri aku menghapusnya?

Aku tak mengerti mengapa tangis ini tak mampu berhenti. Aku begitu lelah, meski itu bukan karenamu. Aku begitu sakit.

Berulang kali aku mencoba melarikan diri, begitu jauh hingga aku tak sungguh paham bagaimana caraku melakukannya. Tapi itu bahkan tak mengobati apapun. Tetap saja sakit itu kembali terasa begitu aku menjejak tanah di tempatku duduk kini.

Kupikir mungkin hanya harapan-harapan yang sesungguhnya bisa membantuku bertahan. Meski keputusan yang sesungguhnya mampu membantu kita berjalan.

Ah, aku sungguh tak tahu kemana aku harus merebahkan diri. Aku sungguh merindukanmu.

wordsflow