Life Serenade (ii)

by nuzuli ziadatun ni'mah


Ada begitu banyak jenis manusia di dunia ini, itu sudah pasti. Ada begitu banyak jenis pemikiran yang terkadang tak bisa kita mengerti meskipun kita bersusah payah untuk mencoba memahami. Sungguh, hubungan yang paling sulit di dunia ini adalah hubungan antar manusia memang.

Beberapa waktu yang lalu kebetulan saja saya baru diputus pertemanannya karena, yah, pengkhianatan. Hahaha. Kadang setengah ingin ketawa, tapi mikir juga.

Saya sebenarnya tak seberapa paham cara pikir orang ini sehingga memutuskan pertemananya. Tapi saya paham bahwa ketika diri seseorang merasa tidak aman dengan lingkungan sekitarnya, maka kemudian ia akan mencari hal-hal yang bisa ia raih untuk tetap membuatnya merasa ‘aman’. Dalam hal ini pemirsa, banyak yang kemudian mencoba menjadi lebih baik dengan menjelek-jelekkan orang lain. Atau kemudian ada yang mencari kambing hitam atas tindakan buruk yang pernah ia ambil.

Buat saya pribadi, saya paham manusia bisa saja melakukan hal-hal itu kepada orang yang bahkan sebelumnya adalah orang terdekatnya. Sering terjadi kok. Lumayan sering hingga terkadang polanya terbaca.

Saya nggak juga bisa mengatakan bahwa saya orang yang selalu benar. Saya tahu di bagian mana saya salah dan bagaimana mungkin seharusnya saya berlaku. Sayangnya, dalam melakukan hubungan dengan manusia lain, persepsi orang lain menjadi faktor yang sangat penting untuk menyatakan tindakan saya benar atau salah. Ketika kebenaran bukan sesuatu yang bisa ditemukan dengan mudah oleh setiap orang, maka mau nggak mau mereka mencari bentuk kebenaran yang menurut mereka paling ideal. Di sini lah kemudian kita berbenturan.

Kegagalan sebuah hubungan terjadi ketika kebenaran yang diyakini bukan terbentuk dari hal-hal yang sama-sama kita sepakati. Menjadi rumit karena memang setiap orang secara tidak sadar memprioritaskan keamanan dirinya di hadapan orang lain, hampir sepanjang waktu. Maka, ketika seseorang merasa insecure, pilihannya adalah lari atau menantang diri dan menang.

Saya sempat membaca beberapa teori tentang etika dan moral, tapi yah, di sana para filsuf sebenarnya membicarakan diri mereka sendiri, bukan membicarakan sebuah fenomena di masyarakat. Pengetahuan itu berguna untuk saya ambil sebagai salah satu pedoman mungkin. Tapi sebenarnya lebih sulit untuk memahamkan masyarakat akan segala hal tentang kita.

Oleh sebab, kita menjadi begitu bingung akan tataran kebenaran. Kita menjadi sulit membedakan benar dan salah ketika sebuah kondisi muncul di hidup kita. Tapi, saya pribadi sebenarnya lebih menganut kata hati. Tak masalah ketika seseorang membenci saya begitu besarnya, saya pikir kita semua berhak melakukan itu. Tak ada kondisi yang sungguh-sungguh membebaskan kita dari perasaan itu. Hanya saja, ada masa ketika saya jauh lebih memilih tidak berhubungan dengan seseorang lantaran saya tidak ingin berkonflik, daripada mencoba berhubungan tapi kami tak mencapai kesepakatan.

Well then, meskipun saya sedih luar biasa atas kejadian ini, tapi saya pun paham mengapa hal ini bisa terjadi. Ada orang yang menganggap bahwa membicarakan orang lain sebagaimanapun bahasanya tetap saja sama. Menurut saya tidak. Jika bahasa sebegitu sederhana pengaruhnya, maka diplomasi tidak akan pernah ada gunanya. Nyatanya toh ada. Bahasa menjadi satu-satunya cara berhubungan seseorang yang paling kentara. Maka setiap orang merekam tata bahasa, mencoba melekatkan emosi pada setiap kata yang diambil, bahkan mencoba membelokkan makna lewat pemilihan kata. Bahasa menjadi sangat penting sebagai bentuk hubungan paling kentara dan pertama di luar bentuk-bentuk hubungan yang lain.

Hem, begitu saja mungkin. Saya nggak mau membicarakan teori hubungan manusia atau apa. Tapi sejauh yang saya tahu, adaptasi adalah kemampuan paling rendah manusia (duh saya lupa siapa yang bilang) dan saya mengiyakan pemikiran ini. Alangkah lebih baik ketika seseorang mampu menyampaikan pemikirannya dan mencoba membuat keadaan lebih baik (dalam persepsi umum). Maka, ketika adaptasi dengan orang lain ini gagal, sesungguhnya saya sedang kalah dengan lingkungan saya berpijak. Akibatnya jelas, saya akan tersingkir dari lingkungan itu kemudian, bahkan bisa jadi tanpa ampunan.

Duh ribet sih. Saya mungkin juga ribet dalam menyampaikan maksud ini. Tapi ya gitu, hal-hal semacam ini bisa saja terjadi pada siapapun. Namanya juga hidup kan. Hehehe.

wordsflow