Kamila (iii)

by nuzuli ziadatun ni'mah


Hari ini aku berkumpul dengan begitu banyak orang sayangku. Mereka yang dulu pernah mengenalmu begitu dekat, mesra, dan begitu akrab. Kami berbagi banyak cerita tentangmu. Setiap hal yang menyenangkan, setiap hal yang menggembirakan, dan setiap hal yang membuat kami begitu bersyukur bahwa pada suatu masa hidup kami, pernah ada kamu yang mengisi.

Tentu ada aku yang bercerita banyak disana, jika kamu ingin tahu. Aku menceritakan pertemuan kita pada suatu malam yang larut, tanpa perkenalan, hanya mataku yang memandang lekat padamu. Sesekali aku melontarkan cerita lucu tentangmu, atau hal konyol yang pernah kamu idekan kepadaku. Selebihnya adalah kekaguman-kekaguman rahasiaku dan semua hal menyenangkan yang pernah kita lakukan bersama.

Ah, adakah kau pernah membaca buku ‘Soe Hok Gie, Sekali Lagi’? Ya, kami mengenangmu hampir dengan cara seromantis itu.

Kupikir ada hal yang begitu luar biasa darimu yang pada nyatanya mempengaruhi seluruh hidup kami yang berkumpul malam tadi. Sungguh, begitu menyebalkannya dirimu. Bahkan dalam tenangmu pun kamu masih membuat kami mengharu biru mengenangmu. Kau sungguh menyebalkan.

Sayangku, ada bagian darimu yang begitu mempengaruhi hidupku. Entah bagaimana menjelaskannya kepadamu, dengan cara apa aku harus membuatmu paham bahwa yang kamu lakukan, apapun itu, pernah membuat begitu banyak orang merasa terpengaruh.

Aku ingat, bagiku dulu kamu adalah orang yang begitu jauh dan tak terjamah di antara semua yang ada. Kurasa, dalam pikiranku, kamu adalah orang yang tidak bisa aku dekati. Kamu bercanda tentang semua hal, kamu menikmati setiap detil di dunia ini, kamu menikmati apapun yang menarik perhatianmu. Dalam kesenanganmu dengan diri sendiri itu, aku selalu mencoba untuk menemukan sela yang harus aku isi, tapi tak ada.

Bertahun-tahun kemudian baru aku paham bahwa caraku memandangmu bukan lagi tatapan ingin tahu, tapi tatapan malu-malu. Berkali-kali kuyakinkan diriku bahwa yang begitu tidak seharusnya kurasakan untukmu. Mengapa harus kepadamu? Mengapa bukan kepada orang lain yang ada dalam lingkaran itu. Begitu rapatnya Tuhan merahasiakan cara seseorang mencintai hingga aku tak pernah menemukan alasan apapun hingga hari ini.

Kupikir, menatapmu membuatku begitu nyaman, berada di dekatmu membuatku merasa tenang, dan ketika mendengarmu berkata-kata, aku merasakan kehangatan. Sungguh aneh bukan, bahwa pada beberapa kesempatan sesungguhnya kamu memberikan tatapan dingin yang menggigit.

Ah, berkeluh kesah padamu hanya akan membuatku sedih. Jadi kuceritakan saja malam ini.

Aku bertemu dengan wanitamu, gadis yang begitu mempesona itu. Sudahkah aku pernah bercerita kepadamu, bahwa aku pun jatuh cinta kepadanya. Karenanya aku begitu paham mengapa kau merasakan perasaan itu kepadanya. Aku tahu bagaimana ia bisa membuat setiap orang begitu jatuh cinta. Ada sesuatu yang magical darinya, ahahaha.

Kami saling bercerita tentangmu. Semua hal yang kutahu tentangmu, dan semua hal yang tak pernah kutahu darimu, semua kami ceritakan. Kami mengenangmu dalam perasaan sayang yang dalam, perasaan yang tak bisa kujelaskan.

Dan kini aku merasakan cinta yang begitu besar membanjir di dadaku. Jadi biarkan kuhabiskan malam ini untuk mendoakanmu.

wordsflow