Life Serenade (iv)

by nuzuli ziadatun ni'mah


Membicarakan hidup adalah tentang merayakannya. Merayakan setiap kesusahan, penderitaan, ketidakmengertian, rasa penasaran, semua bimbang yang telah terlanjur usang, semua resah, dan semua pertimbangan yang pernah melintas di dalam pikiran kita.

Seakan semua diputar ulang dalam pikiran saya ketika malam ini secara tidak sengaja saya berbincang dengan seorang teman. Topik bahasan tentang hidup, tentang persoalan yang selama ini hanya ada dalam pikiran saya, pada titik ini ternyata saya merasa butuh untuk menyampaikannya pada seseorang. Bukan untuk mencari solusi, jelas. Tapi hanya sekedar menyampaikan yang terlalu lama mengendap dalam pikiran. Agar tak meracuni, agar tak membusuk begitu saja.

Terkadang perasaan menyesal dan penasaran menjadi dua hal yang sangat bersinggungan dan mengganggu pikiran. Ada sebuah kalimat yang pernah saya baca, entah lupa di mana. Dia mengatakan,

Penyesalan akan kesalahan yang pernah kita perbuatan akan berlalu seiring waktu, namun penyesalan karena tidak melakukannya akan tetap bertahan selamanya.

Demikian, terkadang ada pemikiran berandai-andai yang terus menghantui saya selama beberapa tahun belakangan ini. Saya cukup bekerja keras untuk tetap membuat diri saya berada pada keadaan normal, dimana saya menikmati hari-hari dan momen-momen saya saat ini. Tapi dalam kesendirian yang begitu sunyi, ada teriakan-teriakan semacam itu yang terus bergema dalam hati saya. Seakan ia mencoba terus menerus untuk saya kenali.

Perasaan itu mungkin tidak cocok disebut sebagai penyesalan, mungkin lebih tepat dianggap bahwa itu adalah rasa penasaran. Bagaimana seandainya saya menjalani hari sebagai orang lain? Adakah kemudian saya akan merasakan kebahagiaan yang sama, atau bahkan lebih besar? Siapa yang bisa menjamin bahwa saya tidak akan mendapatkan penderitaan yang lebih besar dari diri saya yang sekarang?

Begitu banyak pertanyaan dalam sebuah pengandaian, tentu saja. Tapi saya kemudian sering ditampar kenyataan bahwa bagaimanapun juga, masa lalu itu telah terlampau. Dan seberapa keras pun kita mencoba untuk memikirkan hal ini, tak akan ada yang akan berubah dari nasib kita kecuali kesadaran bahwa kita sejatinya telah memilih satu jalan ini sejak lama. Jadi mengapa harus bersusah payah mencoba kembali ketika seharusnya ada begitu banyak kejutan di depan sana?

Kami bercerita begitu panjang. Hingga akhirnya saya pun sadar, bahwa ada begitu banyak ‘kesempatan’ bagi Tuhan untuk mengambil nyawa saya dari raga yang begitu fana ini. Ada begitu banyak momen yang seharusnya membuat saya lebih paham mengapa saya masih belum dipensiunkan dari panggung sandiwara ini. Mungkin saya memang belum menemukan sesuatu yang sungguh-sungguh bisa dengan bangga saya katakan bahwa saya memang ditugaskan untuk itu. Tapi hal itu ada datang, akan datang pada setiap manusia.

Saya masih percaya bahwa beban manusia akan selalu seimbang dengan kemampuan dirinya untuk melawan. Maka semakin besar nama seseorang, akan semakin banyak pula hal yang akan dia hadapi. Pada dasarnya, kesetaraan manusia dilihat dari bagaimana ia memaknai setiap harinya, bagaimana ia merayakan setiap detik dalam hidupnya. Merayakan yang nyata dan yang semu di dalam pikiran.

wordsflow