Uang

by nuzuli ziadatun ni'mah


Oke, saya sebelumnya ingin menulis sajak sebenarnya. Tapi kok tiba-tiba saya berubah pikiran untuk menuliskan ini.

Well, saya benci uang. Saya membenci ketergantungan akan uang. Saya membenci setiap hal yang diukur dengan uang. Saya membenci setiap perseteruan karena uang. Saya benci uang, karena dia menyusahkan.

Sedikit tidak adil memang, sementara hidup saya sendiri dipengaruhi oleh uang. But please, these conflicts over money really make me sick.

Saya nggak paham bagaimana cara orang hidup di atas uang. Begitu banyak orang yang menjadikan uang sebagai sebuah takaran hidup dan standar kemakmuran. Duh, emosi begini bikin tulisan jadi nggak jelas.

Oke, mari saya ulangi saja dari awal.

Jadi begini, belakangan ini saya secara kebetulan melihat dan merasakan beberapa konflik yang melibatkan uang. Orang mengancam saudaranya karena uang, orang bertikai karena uang, beberapa mungkin dalam tataran ekstremnya adalah bunuh diri karena uang.

Jujur saja, saya pribadi tidak pernah sungguh-sungguh berada dalam masalah besar dengan si uang ini. Saya nggak pernah melakukan pinjaman hingga angka yang susah disebutkan. Tapi sebaliknya pun, saya nggak pernah sungguh-sungguh memiliki uang. Jadi secara psikologis saya tidak tahu menahu rasanya punya begitu banyak uang dan memiliki begitu banyak hutang.

Tapi, secara pribadi saya sangat menyayangkan ketergantungan manusia akan uang. Nggak tau sih, menurut saya orang jadi nggak manusiawi aja kalo udah berurusan sama uang. Beberapa menjadi begitu arogan, begitu sombong, semena-mena, dan seakan-akan melihat orang yang hidup tanpa orang itu jauh lebih buruk daripada dirinya.

Dalam kondisi begini biasanya saya akan menyalahkan uang sebagai biang keladi dari semua tindakan manusia yang begitu itu. Tapi setiap saya mencoba melihat ke belakang; pada sejarah uang, rasanya jadi tidak adil jika saya menyalahkan begitu saja si uang ini.

Dahulu manusia melakukan barter karena memang itu satu-satunya cara untuk mendapatkan barang yang mereka inginkan dengan harta yang mereka miliki, hingga kemudian orang semakin memiliki kebutuhan yang bervariasi. Semakin variatif kebutuhan, semakin susah mereka membayar dengan sistem barter. Apalagi mungkin ketika itu kesepakatan dengan menggunakan sistem barter menjadi sedikit lebih sulit. Jadi yah, akhirnya digunakanlah cara lain yang lebih bisa diterima secara umum.

Dari sana aja sebenarnya tampak bahwa terciptanya uang sejatinya hanya untuk memudahkan manusia. Guru saya dulu mengatakan bahwa uang sebenarnya hanya pengganti, hanya perantara untuk mendapatkan tujuan kita. Misal kita ingin memiliki handphone, akhirnya kita bekerja untuk mengumpulkan uang demi membeli si handphone ini. Padahal jika ditarik garis langsungnya, kita bekerja untuk mendapatkan handphone. Tapi untuk meyakinkan penjual handphone bahwa kita bekerja, maka dia menggunakan uang sebagai bukti, sebagai jaminan bahwa ia bekerja. Hemm, bener nggak sih saya?

Nah, yang jadi aneh kini justru orang-orang yang menjadikan uang sebagai tujuan akhirnya. Di situ lah saya merasa nggak paham dengan pola pikir orang-orang ini. Rasanya aneh ketika seseorang tidak menginginkan sesuatu tapi masih saja ia mencari uang. Lebih aneh lagi bahwa merasa uang bisa menyelesaikan permasalahannya. Atau suatu permasalahan harus diselesaikan dengan uang.

Ah au ah, pusing pala berbi.

Seakan-akan saya mau membuktikan kalau uang tuh bukan apa-apa. Ah sudahlah, dalam suasana emosional begini omongan saya jadi suka ngawur. Tapi ya begitu, saya lagi benci parah sama uang, dan semua konflik karena uang.

wordsflow