Kamila (iv)

by nuzuli ziadatun ni'mah


Cinta bisa diciptakan Sayangku, cinta bisa dimanipulasi, cinta bisa digandakan.

Kadang aku bertanya-tanya, adakah ini karena aku telah kehilanganmu, atau memang begitu cinta yang sesungguhnya ada? Aku mengingat bagaimana awal mula aku mencintaimu, tapi tak kutemui kejelasan di sana. Jelas kemudian, bahwa mencintaimu adalah sesuatu yang juga tidak bisa aku jelaskan. Cinta yang itu, memiliki perjalanannya sendiri.

Jauh setelah kamu pergi, aku masih saja dihantui keinginan untuk bertemu denganmu; rindu yang membawa pada derai air mata, rindu yang membawa pada nostalgia seorang diri, rindu yang membawa pada makammu setiap waktu. Selalu saja pada setiap malam kudengar suaramu samar-samar, atau sesekali aku masih merasakan genggam tanganmu pada jemariku. Terkadang bahkan aku harus sungguh-sungguh beranjak dari tempat tidur untuk tahu bahwa semua itu hanya ilusi semata.

Begitu sulit merelakan yang pergi, begitu sulit melepas sesuatu yang bahkan hanya merasa kumiliki.

Tapi hari ini aku belajar sesuatu tentang hati manusia; kita ini rapuh, Sayang. Sekuat apapun aku berusaha bertahan di hadapan luka, pada dasarnya isinya tetap terkoyak juga. Seberapa keras pun wajah ini bertopeng, hati ini tetap menjerit mencari teduh dalam guyur kesakitannya.

Karenanya, aku belajar memupuk cinta di atas tandusnya sakit atas kehilangan. Aku berusaha mengolah kembali tanah yang telah tercemar olehmu. Mari kuceritakan kepadamu Sayang, bagaimana caraku melakukannya.

Aku percaya, cinta itu bisa diberikan kepada siapapun di dunia ini. Perkaranya hanya bagaimana kita–aku–merelakan diri untuk melakukannya. Cinta bagiku sangatlah unik, karena aku selalu merasakannya kepada banyak orang di sekelilingku, yah meski tetap selalu ada kamu di antara mereka. Manusia bisa mencintai lebih dari satu nama pada sekali waktu, kamu juga tahu itu kan? Cinta, kemudian juga kupikir bisa dipupuk perlahan dengan keinginan.

Maka aku melakukannya.

Aku tidak sedang mengkhianatimu, atau mengkhianati diriku sendiri. Bukan. Perasaanku kepadamu tidak akan pernah berubah, cinta kepadamu adalah episode yang tidak sama. Penggal kisah itu adalah favoritku selalu, tapi hal itu tak perlu kuberitahukan kepada dunia, atau mereka tokoh baru yang menyelinap masuk ke dalam drama hidupku. Hanya saja aku butuh sembuh, karenanya aku menumbuhkan cinta dalam tanah tandus ini, agar aku bisa berbunga kembali.

Ah, setidaknya menumbuhkan cinta tidak sesulit yang kukira.

wordsflow