Life Serenade (v): Celebrate

by nuzuli ziadatun ni'mah


March, welcome back! Love this month very much.

Tak ada yang sungguh-sungguh ingin saya tuliskan, karena saya sedang cukup sibuk dengan tulisan lain yang lebih serius, dan yah, kerjaan yang menunggu untuk disentuh kembali. But, karena tulisan teman saya tentang International Women Day, saya jadi pengen nulis sesuatu. Hehe.

Mari saya awali dengan cara pandang saya sebagai seorang wanita.

Saya punya kekhawatiran besar, yaitu menjadi seorang ibu. Saya tak pernah sungguh-sungguh membayangkan bagaimana rasanya membesarkan anak, melihat darah daging sendiri tumbuh besar dan mungkin akhirnya meninggalkan kita. Tak terbayangkan bagaimana cara mengikhlaskan sesuatu yang tumbuh dari diri kita tetapi akhirnya teralienasi jauh dan bahkan bisa jadi tidak terjangkau.

Well, saya mencoba merefleksikan hal itu kepada diri saya yang yah, bisa dibilang anak tak tahu diri. Hahaha. Saya tak tahu bagaimana ibu saya melihat diri saya, atau bagaimana ia mencoba berdamai dengan pendirian saya yang bebal begini rupa. Tapi saya pribadi khawatir, terutama dengan diri saya sendiri.

Wanita adalah topik yang menarik, karena perubahannya yang lebih fluktuatif ketimbang topik tentang pria. Wanita memiliki kontrol penuh sebagai ‘agen kehidupan’ yang entah dengan cara apapun tak akan pernah bisa digantikan oleh pria. Demikian, hingga muncul kalimat:

Wanita bisa hidup tanpa pria, sedang pria akan hancur tanpa wanita

Entah siapa pula yang bilang saya nggak peduli. Yang jelas hati kecil saya meng-iya-kan.

Rasa-rasanya kalimat itu memang cukup kasar dan mengundang banyak penolakan. Tapi coba dilihat, bagaimanapun perlakuan pria terhadap wanita dari masa ke masa, pada akhirnya mereka tunduk kembali di bawah kaki para wanita. Jelas tidak semua untuk maksud mulia, tapi tentu saja, minimal pria mendekati wanita untuk meminta mereka melahirkan darah keturunannya, yang kemudian dengan arogannya dianggap sebagai penerus dirinya. Well, hal ini digambarkan di hampir semua cerita epic dari masa ke masa. Tak pernah berakhir, tak akan berakhir.

Di sana, kadang saya merasa aneh. Mungkin banyak yang lupa bahwa manusia adalah makhluk bebas merdeka yang bisa dengan mudahnya berpindah kepribadian dan memutuskan pilihan-pilihan dalam hidupnya. Tak ada satu keturunan pun yang akan dengan begitu patuh mengikuti orang tuanya. Hei, mereka bukan benda mati yang bisa kita tuntun untuk setiap hal yang kita anggap baik di dunia ini. Mereka selayaknya udara bebas.

Begitu juga agaknya pergulatan cara pandang di dalam pikiran saya. Secara sadar saya tahu bahwa bagaimana pun juga saya tak akan pernah sungguh-sungguh memiliki sesuatu, tidak suami saya nanti, tidak anak-anak saya nanti. Satu-satunya yang harus saya percaya tak akan meninggalkan saya adalah diri saya sendiri. Karenanya saya harus tetap waras dari waktu ke waktu.

Saya mencoba menyiapkan diri untuk menjadi seorang ibu. Bagaimanapun, memiliki anak adalah sebuah keinginan yang begitu mengundang untuk segera diwujudkan. Saya suka anak kecil, saya suka melihat ibu hamil, saya tak sabar menunggu rasanya mengandung seorang anak, tak sabar belajar dan melakukan banyak hal dengannya. Saya tak sabar melihat di mana saya akan berakhir di dunia ini.

Saya tak terlalu peduli jika harus menjadi wanita karir atau bahkan ibu rumah tangga sekalipun. Tapi saya harus memastikan bahwa ilmu saya cukup untuk menjawab setiap pertanyaan yang nantinya terlontar dari mulut anak saya. Saya harus memastikan bahwa orang pertama yang ditemuinya di dunia ini mampu memberikan pendidikan yang tepat untuknya, mampu membawanya ke dunia yang lebih luas dan bebas untuk dijelajah.

Menarik sekali membayangkan hal semacam ini terjadi suatu hari nanti.

*

Well, berhubung judul tulisan ini adalah celebrate, saya merasa harus menjelaskan kenapa.

Ada hal yang selalu menarik dari bulan Maret: ulang tahun saya, awal musim semi, berakhirnya musim hujan, dan yah, IWD ini. Sebagai bulan penuh perayaan, saya kadang ragu untuk merayakannya, karena bisa jadi saya tak akan pernah mencapai ‘syarat’ perayaannya.

Hemm, ngemeng apa sih eike. Sudah ah ngelanturnya.

wordsflow