Conversation, conversations

by nuzuli ziadatun ni'mah


Maret, sekali lagi saya merasa begitu bahagia atas bulan ini. Hahaha. Melankolis najis nggak sih saya.

Begini, saya begitu lama tidak berhubungan dengan sekawanan saya di Jurusan Arsitektur, secara waktu saya lebih banyak saya habiskan di kantor dan sekretariat sebelum ini. Jadi ketika suatu ketika datang kesempatan untuk bisa berbincang dengan rekan-rekan main saya dulu di jurusan, alhasil saya jadi keterusan ngobrol. Seperti mungkin beberapa waktu yang lalu, saya pikir obrolan seharian penuh itu adalah hadiah ulang tahun yang jarang ada dan sedikit banyak tak ternilai untuk saya. Begitu banyak hal yang kami bicarakan, bernostalgia, pisuh-pisuhan, ngeledek, dan akhirnya berusaha move on dengan sadar diri bahwa kami sudah tua.

Saya begitu suka mengobrol dengan banyak orang, bertukar pikiran dengan berbagai sudut pandang. Ada hal yang sangat menarik di sana, ketika mengetahui bahwa cara pandang kita akan begitu berbeda jika dilihat dari sisi yang berseberangan. Atau ketika saya tahu bahwa cara pandang saya tidak berarti ketika dilihat dari luar sama sekali. Yah, padahal kami cuma mengobrol sih mungkin, membicarakan sesuatu yang tidak ada, membicarakan sesuatu yang cuma eksis di dalam pikiran, dan sepersekian detik ketika dibicarakan.

Well, kehidupan berjalan begini saja buat saya. Saya masih mencoba menerjemahkan pertanda-pertanda yang diberikan sepanjang perjalanan saya. Ketika bertemu orang yang begitu lama tidak saya temui ada dorongan untuk menyapanya, baik secara langsung atau bahkan hanya dengan bantuan media sosial. Ketika suatu ketika merasa terganjal suatu momen memalukan yang membutuhkan permintaan maaf, entah mengapa saya tak lagi merasa malu untuk menghubungi dan meminta maaf.

Hemm, apa begini yang disebut sebagai dewasa? Hahahaha. Saya pikir enggak juga.

Entahlah, ketika begitu banyak orang seumuran saya mulai membicarakan tentang menikah, KPR, dan pendapatan bulanan, saya masih saja duduk-duduk sok asik di Lincak. Bukan lantas karena saya merasa hal-hal semacam itu belum penting, saya pribadi menyimpan kekhawatiran tentang masa depan. (Ya jelas laaaah, siapa sih yang enggaaak?!) Tapi bagi saya, emmm, apa yaa, kayaknya saya masih belum merasaa, butuh khawatir. Hahaha. Ya Allah, padahal udah mau punya ponakan.

Dalam hemat saya, ada hal-hal yang harus saya bicarakan begitu serius dengan diri saya mengenai masa depan. Bagaimana cara menjalani detik demi detik hidup saya, bagaimana cara berdamai dengan setiap hal yang tidak sesuai dengan rancangan ideal saya, atau bagaimana jika (garis bawahi) ada hal-hal yang begitu ajaib tetiba datang menghampiri. Bukankah terkadang ada hal-hal tak terduga yang tak semua orang bisa siap menerima.

Karenanya, yah, saya agaknya terlalu narsis sih mungkin, tapi saya berusaha siap dengan apapun. Hahaha. Sungguh, mengkhawatirkan hal yang akan terjadi tidak akan pernah ada habisnya. Saya lebih banyak berdialog dengan diri sendiri untuk membuat skenario terburuk dari hidup saya, dan mungkin (ya meski semu semata) membayangkan bagaimana cara saya menghadapinya nanti. Utopis sekali bukan saya? Hemm, saya kan utopianis memang. Hahaha.

Yak, kembali ke topik tulisan ini. Hari ini saya akhirnya bertemu dengan kawan-kawan lama dan melihat seorang teman kuliah saya didadar dosen pembimbing skripsi saya yang ganteng dan keren itu. Saya selalu bersyukur pernah dibimbing bapaknya, betapa bapak itu keren sekali dengan pola pikirnya. Kami menghabiskan setengah hari penuh untuk berbincang, tentang segala hal. Tentang setiap perkembangan yang kami lihat sehari-hari, tentang rekan-rekan kami yang lain, tentang bagaimana cara hidup membawa kami ke titik kami di hari ini. Well, berbicara sungguh sangat menyenangkan.

Ketika kemudian saya mencoba untuk menulis cerpen kembali, setelah diingatkan bahwa saya pernah bercita-cita menjadi penulis, ternyata saya baru sadar bahwa saya begitu lama tidak menulis fiksi. Sehingga kemudian cerpen yang saya maksudkan untuk membayar hutang tulisan web Satub berujung menjadi calon novel yang lain di laptop saya. Duh, saya kan jadi repot.

Ada benarnya juga kata temen saya, kayaknya pikiran saya terlalu melayang-layang. Saya mudah berpindah topik dan melompat lompat sepanjang waktu. Saya bisa dengan mudah menjungkirbalikkan pemikiran saya sendiri dengan begitu sok tahunya. Ah, saya mah apah atuh, cuma segumpal daging dan darah di pojokan teknik. Nanti juga membusuk dimakan cacing tanah.

Ah sudahlah, saya sudahi saja. Intinya saya bahagia dengan bulan Maret ini. Saya puas dengan waktu-waktu berharga yang saya habiskan, entah buat main atau bahkan begadang ngerjain buletin. Saya nulis ini untuk menumbuhkan kemampuan menulis saya, soalnya saya hutang tiga tulisan untuk web. Duh, Nak.

Yasudah. Tabik.

wordsflow