RIP Zaha Hadid

by nuzuli ziadatun ni'mah


Entah mengapa saya terpanggil untuk menulis ini, tapi mari saya perkenalkan dulu kalian pada Zaha Hadid.

Zaha Hadid, dikenal begitu luas di dunia arsitektur sebagai arsitek wanita paling berpengaruh di era modern. Belum pernah ada sebelumnya yang begitu kontroversial seperti beliau, dengan begitu banyak karya yang luar biasa (tentu bersama kritik yang luar biasa pula). Mungkin selama seharian besok, atau mungkin beberapa waktu mendatang akan ada beberapa orang yang menyebut nama beliau. Ya, sebab kini beliau sudah tak lagi mampu berkarya, masanya telah usai dan saatnya menjadi arsitek di dunia berikutnya.

Secara pribadi, saya bukan penggila karya-karya Zaha Hadid, karena bagi saya karyanya terlalu luar biasa untuk menjadi nyata. Hahaha. Neofuturistic yang dibawanya bukan selera saya. Meski demikian, orang normal pun pasti akan terkesima dengan karya-karya yang beliau. Dengan bekal studi matematika dan arsitektur, beliau bisa menggabungkannya untuk menciptakan bangunan yang memiliki perhitungan struktural begitu rupa. Hemm, bisa dibilang cuma beliau yang membangun bangunan-bangunan semacam itu sekarang-sekarang ini. Ya nggak tau sih nanti ke depannya mungkin (dan pasti) bakal ada juga.

Tapi, mengesampingkan kritik begitu banyak orang yang nggak terlalu suka beliau, saya pribadi kagum begitu rupa dengan ibunya. Beliau adalah wanita pertama di dunia arsitektur yang mampu menembus berbagai penghargaan dunia lewat karya-karyanya yang dikritik begitu banyak pihak. Beliau wanita yang bahkan bagi arsitek pria pun dianggap sangat inspiratif. Jelas sekali bahwa sebagai seorang arsitek kemampuannya tidak dapat diragukan. Duh pokoknya dia super keren lah.

Bahkan di awal saya tahu namanya, nggak terlintas di pikiran saya bahwa itu nama seorang wanita. Saya pikir dunia arsitektur hanya dikuasai kaum laki-laki. Tapi ternyata tidak juga. Setelahnya, saya begitu sering mendengar nama Zaha Hadid, dalam berbagai pembahasan, baik di kuliah maupun di media.

Yah, nggak banyak yang bisa saya katakan tentang ibu kami yang ini, tentang guru kami yang ini. Tapi saya sedih. Tak pernah sebelumnya saya merasa kagum pada sosok wanita di luar lingkungan saya seperti pada beliau. Karenanya, saya ucapkan selamat jalan. Terima kasih atas pelajaran yang berharga semasa kuliah, atas inspirasi yang begitu besar untuk dunia arsitektur, untuk karya-karya yang menggambarkan kondisi zamannya, untuk segala yang ditinggalkan. Dunia arsitektur kehilangan satu sosok berharga sekali lagi.

Rest in peace.

wordsflow