Life Serenade (vi): when she talks about her love story

by nuzuli ziadatun ni'mah


Every moment spent with you is a moment I treasure

_Aerosmith

Well, saya mungkin kedengaran agak norak jika menulis ini. Perkara hati, sekali lagi, hehe. Tapi mungkin karena saya sedang dalam usaha-yang-nggak-menguras-tenaga untuk membaca novel romance, saya pikir saya butuh nulis juga tentang beberapa hal; sehubungan dengan novel ini, dengan hati saya juga, dengan, eerrrr orang yang saya suka. Hehehe.

Saya bukan orang yang bisa banyak bicara seputar urusan pribadi, pada masa yang lampau. Pada masa ketika saya lebih banyak bercengkerama dengan pulpen dan pensil, ketika saya lebih suka mencari-cari ‘pertanda’ (yang jelas ngarang semata) dari novel-novel atau imajinasi saya yang terlalu, indah. But time flies, and here I now. A girl with–what should I call it?–an open minded, about life. Ah, let’s make it clear; about love-life.

Ada apa baru-baru ini?

Sebelum ini, saya mungkin sudah banyak menuliskan tentang hal-hal menjijikkan di laman ini. Begitu banyak tulisan yang ditulis dalam keadaan tidak baik-baik saja, dan begitu banyak tulisan yang sedikit banyak saya maksudkan untuk diketahui oleh tokoh utama tulisan-tulisan saya. But not this one. I never meant it. Just in case he is reading it now, just let him reads this ’till the last word. Saya mau cerita saja, karena saya pikir apa yang saya rasakan, akan saya tuliskan, atau cerita saya ini bisa sedikit banyak ‘membantu’ orang lain dalam menghadapi gambaran indah kisah percintaan mereka. Hahaha. (Siapa tahu saya bisa jadi konsultan semacam ini. Hehe.) Yah, meski sebelumnya saya harus mengingatkan, that this one going to be a looooong post. Just stop reading if you feel tired.🙂

And here the story begin…

Saya pernah melewati masa alay ABG dengan cinta monyet mereka pada sesama teman sekelasnya, atau pada teman dekatnya semasa sekolah, atau pada kakak kelas, atau yah, pada siapapun yang mereka temui ketika itu.

Semasa saya kelas 1 SD, saya pernah menjadi bulan-bulanan anak kelas 5 hanya karena saya sering main dengan satu teman cowok saya di kelas. Ingatan ini agak memalukan sebenarnya, tapi berhubung saya masih begitu ingat kejadian ini, saya pikir yaudah cerita aja. Mungkin karena masalah ini juga, sejak kecil saya jadi terbiasa untuk nggak usah deket-deket manja dengan anak cowok. (Kebayang nggak sih anak kelas 1 SD, but yeah, I did that)

Olok-olok itu menjatuhkan mental saya secara sungguh-sungguh, dan karenanya saya tumbuh sebagai anak cewek yang lebih menganggap cowok sebagai rival. I truly meant it. Saya merasa setiap hal yang dilakukan cowok, harus kemudian mampu saya lakukan juga, in every details. Begitu seterusnya hingga saya lulus dari SD. Selama itu juga, saya nggak pernah sekali pun segan untuk sungguhan ngajak berantem, bahkan suatu ketika saya pernah dihadang ‘berandalan’ SD yang isinya kakak kelas semua. Dan anehnya, saya lupa bagaimana saya selamat sampai rumah.

Saya bahkan menyadari, bahwa ada pikiran-pikiran terlalu dewasa yang saya miliki setika itu, yang jelas dipengaruhi oleh hal-hal yang saya lihat, saya dengar, dan saya logikakan.

Waktu berlanjut hingga akhirnya saya masuk SMP dan saya merasa ‘oh, lingkungan baru’. Saya seorang diri dari SD saya ketika masuk ke SMP. Ya, SD di pelosok desa dengan jumlah murid cuma 13 bisa berharap apa? Maka saya menjadi satu dari sedikit orang yang rumahnya berjarak lebih dari 3 km dari SMP saya. I tried my best, doing those kind of competitions with boys, all the time. Lalu saya suka sama temen sekelas saya ketika itu. Saya begitu susahnya untuk berakrab-akrab ria hanya karena takut diledek sekelas. Maka saya menulis surat, setiap beberapa hari. Pada akhirnya surat itu saya tumpuk sampai jumlahnya lebih dari 20 lembar. Saya urutin lembar per lembarnya, saya masukin ke amplop besar. Pada suatu kesempatan yang langka (ketika itu ruang kelas kosong) saya akhirnya memasukkan di amplop besar ke dalam tasnya. Then one of my friends came in, hahaha. Saya kepergok dan malu setengah mati. Nama temen saya Lisa kalo nggak salah ingat.

Begitulah. Selama beberapa hari saya bahkan nggak berani nyapa, apalagi ngobrol. Alay parah sih ini, tapi ini sungguhan karena saya tahu saya memang alay, jadi saya akui saja sekalian. Dalam surat itu saya pernah menulis ‘komet Halley akan melintasi bumi setiap 76 tahun sekali, dan di saat berikutnya kita harus nonton bareng’. Hebat sekali kan tingkat najong saya sampai segitunya. Saya bahkan menciptakan kode (baca: membuat sandi sendiri!) khusus biar surat-suratan saya sama dia nggak dimengerti orang lain. Hahaha. Tapi yah, kemudian saya berhenti begitu saja karena, pada suatu kesempatan teman saya ini menyinggung si-surat-yang-panjangnya-super-itu dengan bilang, ‘yang surat itu maksudnya apa sih, aku nggak paham’. Tentu saja ngomongnya pakai bahasa Jawa. Dan begitu, ketika itu agaknya saya jadi semakin ketat ‘menjaga diri’ dan nggak nyoba-nyoba lagi bicara pada orang yang saya suka.

Kehidupan kelas 2 dan kelas 3 saya mungkin bisa dibilang lebih berkelas dibanding kelas 1. Saya join semacam klub matematika di sekolah, mulai suka baca komik sampai rela nggak istirahat jam pertama buat jajan, dan yang paling membantu adalah bertemunya saya dengan seorang Anis (yang pada akhirnya jadi temen sekelas di kampus). Hingga sekarang cerita-cerita konyol tentang diam-diam suka sama cowok di klub, dan cerita tentang teman sekelasnya Anis masih saya arsipkan dengan apik. Beserta semua cerpen alay kami yang setiap seminggu sekali kami kirimkan lewat pos. Duh saya jadi rindu SMP.

Well then, kebiasaan diam ini sesungguhnya tidak menghasilkan apapun dari rasa suka saya sama beberapa orang (terutama orang terakhir di SMP yang saya suka saat kelulusan). Kadang saya kalau ingat kejadian semasa SMP saya jadi suka marah-marahin diri sendiri karena tololnya nggak ketulungan. Saya yang jarak rumahnya sudah 3 km kadang sering merelakan diri memutar jauh lewat selatan hanya karena rute itu adalah rute pulang doi. Secara karena temen klub jadinya kami sering sambil ngobrol pulangnya. Saya bahkan sesekali dua kali duduk satu bangku saat ‘les’ matematika. Ya karena beda kelas, begini lah cara saya mencari-cari kesempatan.

But at last, it didn’t work. At all.

Maka saya move on ke SMA, yang dengan ajaibnya bagai sinetron Cinderella Boy di SCTV suatu ketika, saya dapat beasiswa. Di ibukota lagi. Ya pinggiran sih, tapi tep aja, IBU KOTA men!

Duh, kok udah hampir 1000 kata aja nih. Oke saya persingkat aja yak, nanti jadi bosen kalau panjang-panjang.

Perpindahan saya ke kondisi lingkungan yang Masya Allah kontrasnya tidak membuat saya lebih baik, hahaha. Saya tetap menulis diary, menyelipkan keinginan-keinginan utopis saya lewat novel dan cerpen yang saya tulis, menulis puisi untuk membesarkan hati (semua kegiatan itu bahkan masih saya lakukan hingga beberapa saat yang lalu). SMA dengan lingkungan yang semakin kompleks, karakter manusia yang jauh beda dengan lingkungan SMP, kultur yang beda karena harus ketemu sama guru-guru saya (kebanyakan bukan orang Indonesia), dan sistem sekolah yang, hemm, agak memenjara, saya tumbuh menjadi wanita yang lebih dewasa.

SMA memang masa penting pertumbuhan mental seseorang menurut saya, dan saya mendapat banyak hal di sana. Meski ya, saya juga melewatkan banyak hal karena berada di sana.

Kadang yang membuat saya heran, adalah kenapa saya sering suka pada orang-orang yang tidak biasa. Mereka bahkan seringnya bukan yang menonjol di antara banyak. Tapi ceritanya masih semembosankan sebelumnya, saya pun nggak berhasil dan mendapat balasan yang saya idamkan. Lebih karena saya saking nggak tahunya malah melakukan banyak hal-hal bodoh. Orang yang kemudian saya suka sejak awal masuk SMA ini pada akhirnya pernah chattingan sama saya pasca saya masuk kuliah. Entah bagaimana akhirnya kami sampai ke pembahasan itu, intinya dia minta maaf. Karena dulu bahkan setelah dia tahu tanpa saya bilang, dia nggak pernah berkata apapun. Nggak pernah mencoba menjadi dekat, tapi juga nggak mencoba biasa saja. Saya pikir, itu pembicaraan paling dewasa saya dalam make a deal sama orang yang saya suka. Setelahnya kami beberapa kali bertemu, tapi ya, begitu saja.

Yeah, kuliah. Hehehe.

Saya nggak mau cerita-cerita banyak di awal masuk kuliah saya. Rada membosankan, apalagi cerita kegagalan saya sudah begitu banyak. Oh astaga, saya kok najong begini. But let’s keep going.

Saya pikir, hanya ada dua hal yang bisa membuat orang berhenti menyukai seseorang. Pertama, karena kita disakiti begitu dalam oleh orang yang kita suka sampai yah, kita tak mampu menanggungnya. Atau kedua, kita bertemu dengan orang lain.

Tapi ada banyak hal yang bisa membuat seseorang begitu hancur perasaanya, dan mungkin dua ini yang paling berpengaruh. Pertama, ia tahu dirinya bukan satu-satunya (bisa jadi diselingkuhin, atau ditinggal pedekate sama banyak orang, atau cuma iseng-iseng). Yang kedua, diabaikan. Yang terakhir saya sebut ini efek yang ditimbulkannya jauh lebih dasyat dari yang para cowok kira, saya rasa. Saya sudah mendengar cerita banyak orang. Yah, anggap saya juga merasakan hal yang serupa.

Kuliah memang lebih keras. Maksudnya, kehidupan yang kita jalani jauh lebih real dari sebelumnya. Lebih banyak perspektif, lebih banyak orang, lebih banyak tipe manusia, lebih banyak kultur yang bersinggungan. Pokoknya lebih kompleks. Hal itu yang kemudian membuat harapan nggak begitu saja bisa direalisasikan, atau dalam kasus saya, disinggung ke permukaan pun saya nggak berani.

Saya kadang begitu pede kalau saya cukup cerdas untuk bisa mengambil langkah yang tepat dalam perjalanan hidup saya. Well, I did it before. Saya masuk meneruskan setiap jenjang pendidikan karena keinginan pribadi. Saya punya kesempatan yang membuat saya pernah melakukan aksi berontak secara frontal dan lain-lainnya. Karena ketika saya suka seseorang pun, saya mempertimbangkan banyak hal sebelum lanjut.

Saya tahu saya tidak pernah punya keberanian sebesar sesumbar saya ke orang-orang. Saya jelas tipe yang akan meringkuk dengan buku harian berharap jika itu bisa menyembuhkan. Terkadang saya sok mencari pertanda-pertanda seperti yang sering disebut di cerita-cerita. Ya, tapi pertanda itu tidak datang. Saya dua kali mendapat ucapan terima kasih karena saya bilang saya suka. That’s all. But I don’t know why, not long after that, I didn’t feel anything to them anymore. So, that’s not love I think.

Hanya saja, saya punya pengecualian dengan orang yang terakhir ini.

Jika saya pernah berpikir saya bisa membaca pikiran orang, ya saya akui saya salah besar, dan amat fatal. Saya tolol nggak ketulungan kalau berpikir bahwa orang lain akan begitu mudah dikasih kode, atau disukai secara diam-diam dan berharap dia sadar lalu melakukan tindakan. Life never did that. Saya naif sekali, saya pikir. Terlalu berangan-angan dengan pikiran melayang-layang pada…, ya, pada apa? Bukan pada apapun melainkan utopia.

Saya yang sebelumnya selalu, hemm agak najong menyebutnya, bertepuk sebelah tangan, pada akhirnya sadar bahwa mungkin sebaiknya saya pasang perlindungan diri. Selama beberapa waktu mungkin dia bertahan, sampai pada suatu ketika saya merasakan sensasi butterflies-in-my-tummy yang pada imajinasi terindah saya pun tidak pernah terbayang akan saya rasakan. Saya kadang uring-uringan sama syaraf-syaraf saya yang nggak mau kompromi. Tapi butterflies in my tummy??! Saya memang sudah lama nggak percaya pada pertanda, tapi ini tubuh yang ngasih respon. So, don’t you think it means something?

Saya mengikuti hal-hal itu hingga tanpa sadar, kayaknya saya jadi suka parah sama orang ini. Sesuka itu hingga saya nggak bisa paham kenapa bisa, padahal yaitu tadi, saya berulang kali merasa diabaikan. Perasaan sakitnya bisa membuat saya merasa nggak berguna dan hina dina. Seringnya setelah itu saya memforsir diri melakukan banyak hal. Saya merasakan banyak hal hingga sering keluar masuk siksaan imajinasi-imajinasi saya tentang orang ini. Saya membangun imaji luka itu, ngasih bumbu pula! Padahal ya siapa sih yang tahu apa yang terjadi. Nggak ada jaminan bahwa faktanya lebih baik atau lebih buruk dari itu.

Bisa sampai 100 postingan mungkin jika saya cerita setiap detilnya. Hehehe.

Kadang begitu menjijikkannya saya sampai saya kadang berubah mood dalam 5 menit hanya karena merasa begitu malu dengan tindakan saya pada 5 menit sebelumnya itu. Hal-hal sejenis itu berulang kali terjadi. Berkali-kali mencoba udahan karena yah, kalau kata temen saya sih ‘Cowok yang suka nggak mungkin mengabaikan orang yang dia suka. If he did, he definitely just a friend of you’. Dan banyak lagi diskusi panjang perihal cinta-cintaan ini.

Hanya kadang, untuk menerima kita akan selalu melewati masa penolakan diri. Memang begitu fasenya saya rasa, dan saya melakukan banyak pembenaran atas hal-hal yang saya rasa menyakitkan (padahal bisa jadi sebagian besar itu hanya prasangka). Tapi toh momen demi momen berlalu dan saya pikir, apa yang bisa lebih buruk dari ini? Diabaikan? Ditinggalkan? Sudah. Semuanya sudah pernah saya rasakan, sudah pernah saya pikirkan. Lalu, apalagi yang lebih buruk dari ini? Ditinggal menikah?

Well, menikah adalah urusan lain, dan saya sadar bahwa jika itu terjadi pun, manusia ini, orang ini, tidak bisa begitu saja saya anggap orang biasa dalam hidup saya. Saya jelas masih nggak bisa menyingkirkan dia dari pikiran-pikiran, terkadang mimpi, dan yah, dia begitu sering muncul. Berulang kali saya diolok-olok karena ke’romantis’an saya, but so what? Memang begitu yang bisa saya lakukan. Saya pikir, puisi bukan hal yang menjijikkan dan saya menyukai hal-hal kecil tapi, tepat sasaran. Saya mencoba menjadi saya yang jatuh cinta. Saya pikir hal-hal itu bisa menyentuhnya.

Tapi sesungguhnya, saya kadang bertanya-tanya, apa sih yang saya harapkan dari ini? Mendapatkannya? Tidak. Belakangan saya membuat skenario jika saya tidak ‘mendapatkan’nya pun, that d*mn butterflies-in-my-tummy masih ada di sana, setiap saat saya berkontak dengannya. Saya tak tahu apa yang saya inginkan dari orang ini. Nggak ada mungkin. Lalu respon-respon itu maksudnya apa?

Mencintai pada level yang asik adalah ketika memang sealay yang sering dibilang, if you love him, just set him free. Nggak perlu dituntut, nggak perlu diapa-apain. Masalah kita sakit hati atau apapun, sejak semula mencintai memang harus berani mengambil resikonya. Sakit, yaudah sakit aja. Kalau nggak mau sakit ya cari orang lain yang jelas mencintai kita. Itu jelas perkaranya.

Nah, jadi tapi saya masih suka orang ini, dan saya menerima begitu saja sensasi-sensasi gelitik dan adrenalin meningkat ketika berkontak dengannya. Tapi apapun, saya pikir saya harus berhenti menuntut apapun. Nggak pantas.

Kadang orang-orang paling terpercaya saya bertanya, apakah dia tahu saya sesuka ini. Saya yakin iya. Kecuali orang itu rabun atau apa sampai nggak bisa membaca gelagat saya, ya bisa jadi dia nggak tahu. Tapi penyakit saya adalah, malam membuat saya jadi melankolis eksibisionis yang pengennya di-notice hingga berulang kali (dulu) saya menulis banyak hal yang menjurus-jurus. Perkara orang lain tahu saya nggak ambil pusing, suka-suka kalian saja. Hidup saya nggak akan lebih buruk dari ini. Saya yakin, dia bukan orang yang bakal nge-unfriend saya bahkan jika saya mengaku. (Sok tau parah nggak sih aku, kayak yang sering kamu bilang)

Yah, kalau ada yang mungkin penasaran kenapa saya menulis ini, emmmm saya jawabnya gimana ya? Jujur saja, saya suka cerita pribadi saya, because it’s mine. Hehehe. Ada banyak hal yang memang belum (dan nggak akan) saya ceritakan di sini. Nanti saja suami, anak, dan cucu saya tinggal saya sodorin buku harian. Mungkin kerasa miris karena sampai detik ini saya nggak juga punya cowok, dan bahkan nggak punya temen deket cowok. Tapi lantas kenapa? Masalah menikah punya solusi yang jauh lebih mudah ketimbang urusan cinta. Kasarnya, saya tinggal ta’aruf, menikah, berumah tangga. Nggak pengen nyari sendiri? Jika memang bukan begitu cara saya berumah tangga, ya kenapa harus dipaksa. Toh saya juga menghargai perasaan orang lain.

Nggak ada win-win solution untuk semua orang dimana mereka bisa bahagia semua. Kadang kita harus juga yang ‘menjadikannya’ kebahagiaan. Ya, mungkin sesederhana itu saja.

Bagian rada sedihnya, saya jadi nggak lagi termotivasi untuk bersajak setiap merindukannya. Hehe.

Dan yak, ini adalah 2500 kata yang, entah. Persepsikan sendiri, lalu rayakan sendiri kisah kalian. Saya tidur dulu, besok mau naik gunung. See you, and thanks for have been reading this far.

wordsflow