Life Serenade (vii): mandeg, lalu mencoba melarikan diri

by nuzuli ziadatun ni'mah


Mentok.

Satu kata itu belakangan terngiang-ngiang setiap kali saya berusaha menulis di halaman kosong blog ini. Tau bahkan sering saya rasakan ketika mencoba membuat sebuah artikel yang lebih berbobot di jendela pengolah kata saya.

Saya kehilangan topik untuk saya bahas. Saya semacam sudah tak lagi punya topik yang menarik, atau mungkin tangan saya nggak cukup termotivasi untuk menulis kata-kata. Suatu kali saya begitu bersemangat ketika di jalan melihat bagaimana buruknya sistem drainase kota, atau mungkin bagaimana kacaunya budaya antri masyarakat kita. But that’s all. Pada akhirnya saya malah menulis curhatan saya yang panjang lebar, tidak berarti, dan menyedihkan.

Well, ke-mandeg-an ini sebenarnya mungkin karena saya nggak termotivasi untuk mengalahkan diri sendiri. Bulan kemarin tepat di hari ulang tahun saya, saya memutuskan untuk tidak memperpanjang kontrak kerja. Sejak itu, saya fokus mengerjakan buletin Lembah Code yang bisa kalian lihat di http://www.lembahcode.com dan mulai membenahi bisnis saya. Dari mulai merapihkan iklan di akun instagram, memperjelas pricelist, mulai membangun jaringan bisnis, mengepost beberapa tulisan baru, dan bahkan merapihkan sistem keuangan yang sebelumnya tak pernah saya pikirkan.

Dan, itu semua adalah bentuk pelarian.

Entahlah, saya semacam ingin kabur dari tempat yang selama ini membahagiakan saya; sekret. Di awal bulan ini saya bahkan mencoba peruntungan untuk ikut magang di Salihara. Salihara meeen, siapa sih yang nggak pengen?! Dan dengan sedih saya harus mengakui bahwa sampai sekarang kabar yang diharapkan tidak juga datang. Rencana escaping saya dari sekret pupus sudah.

Mungkin, barangkali saya akhirnya sekali lagi merasakan krisis percaya diri dengan berada di tempat ini. Saya berjalan di tempat, nggak kemana-mana. Entah mungkin juga tampak yang berusaha untuk kemana-mana, jadi semakin lama saya pribadi makin merasa terpojok. Yah, padahal nggak ada juga yang terlalu peduli secara khusus pada saya. Atau bisa saja itu hanya perasaan aneh karena saya berhenti bekerja; karena saya berhenti bergantung pada sesuatu.

Akhir minggu lalu saya mencoba melarikan diri ke Merapi. Mencari sisa-sisa kesenangan yang terserak di jalan menuju tempat makan siang. Atau mencoba mengingat kembali apa yang begitu menyenangkan dari mendaki bumi. Ah, proyek menulis novel saya pun saya hentikan sepihak. Hahaha.

Pada malam Minggu-nya saya menonton string concert seorang diri. Semacam mencari dalam keramaian. Dan tahu kah? Saya menangis terharu di repertoar pertama. Duh, gampang banget kebawa perasaan.

**

Tapiiii, saya nggak mau postingan ini jadi semacam menebar aura negatif. Nehi.

Jadi saya cerita saya beberapa hal menyenangkan yang terjadi beberapa waktu belakangan ini.

Secara tidak sengaja, saya kini mengampu tugas admin, dan setiap hari saya jadi berinteraksi dengan orang baru. Well, baru-baru ini saya menemukan semacam kesenangan dalam berhadapan dengan manusia. Makanya, saya menikmati tugas ini dengan senang hati. Berhubungan dengan banyak orang bukan hal yang bisa dipelajari di bangku-bangku sekolah, dan diajarkan secara lisan oleh orang lain. Tapi, kita sendiri harus mengalaminya. Bukan juga bisa didapat dengan berlindung di belakang orang lain, tapi harus juga memulai seorang diri.

Bagian paling sulit menjadi admin adalah ketika kita harus berurusan via telepon, yang mana sejujurnya menelpon adalah bagian yang paling saya benci. Udah nggak liat muka orangnya, udah begitu harus juga menginterpretasikan intonasinya. Duh, ribet.

Sayangnya, saya sebenarnya cupu karena selalu mengandalkan bahasa tulis untuk berhubungan dengan manusia lain. Terkutuklah dunia tulis dan ketergantungan saya akannya. Secara lisan saya tuh lemah dalam berhubungan. Jadi seringnya saya malah kelihatan sok asik di ruang obrol padahal di dunia nyatanya kaku kayak kanebo kering.

Yah, tapi jadi admin seru sekali.

**

Oh yeah tapi, saya termotivasi untuk menulis tentang perempuan. Tentang tubuh dan nafsu. Dan cinta dan nafsu. Tunggu ya sampai saya selesai nulisnya.

wordsflow