chit-chat

by nuzuli ziadatun ni'mah


Ada beberapa hal ajaib yang memang bisa terjadi di kehidupan seseorang memang. Bertemu dengan orang baru, berinteraksi dengan mereka, dan pada akhirnya merasa terikat meskipun baru mengenal. Dari sana, kemudian manusia menjadi makhluk yang begitu menarik untuk dipelajari, paling menarik untuk dipahami, dan paling menarik untuk dikaji.

Banyak cabang ilmu yang memasukkan manusia sebagai objek sekaligus subjek dalam kajiannya. Banyak yang kemudian mentok pada beberapa perhatian tertentu, banyak juga yang kemudian keterusan hingga lepas arah ke persoalan yang lain. Saya pribadi nggak punya ilmu yang cukup untuk membahas tentang manusia lebih banyak di laman ini. Takutnya semuanya hanya akan menjadi tulisan yang tidak bertanggungjawab dan sok tau.

Well, tapi berhubung ini memang adalah laman pribadi, kiranya saya diperbolehkan untuk membahas manusia-manusia keren yang ada di sekeliling saya selama ini. Lingkungan asik yang membuat saya punya pandangan yang cukup untuk membuat saya lebih berpikir, namun tetap tidak kehilangan arah.

Terkadang, saya masih terus kepikiran tentang studi saya yang pada akhirnya tidak sesuai dengan angan-angan saya ketika masuk kuliah dulu. Sejak SD entah kelas berapa, saya mulai mengenal kata ‘arsitektur’dan kemudian menjadikannya sebagai alternatif kedua profesi setelah keinginan saya menjadi guru matematika. Tapi, angan-angan indah untuk langsung mampu membuat rumah idaman untuk diri sendiri itu ternyata nggak semudah yang pernah saya angankan ketika memilih arsitektur sebagai jurusan pilihan. Pada kenyataannya, untuk bisa menjadi arsitek yang begitu, kita harus, emmmm berusaha. Hahaha.

*

Well, laptop saya patah. Betapa sedih mengetahui teman bekerja kita sakit hingga penggunaannya terbatas saja.

Saya lupa tadinya mau menulis apa, tapi saya coba teruskan ya tulisan sebelumnya.

Suatu ketika, saya pernah memiliki sebuah perbincangan via wa dengan seseorang, orang yang mungkin juga kalian kenal. Agak brengsek sebenernya caranya mengorek informasi dari saya, dan yah, saya pikir kelicikannya bisa dikasih nilai lumayan bagus. Duh, saya narsis banget belakangan ini.

Tapi, dari pembicaraan itu, saya pikir ia menyimpulkan bahwa saya tipikal cewek yang jual mahal, karena satu dan lain hal. Hemm, saya kurang paham sih, penyebutan jual mahal atau apa itu bagaimana maksudnya.

Hanya saja, saya pun akhirnya menyadari bahwa, saking banyaknya manusia di dunia ini, nggak mungkin kita bisa membahagiakan semua orang kan. Begitu juga diri kita nggak mungkin bisa sesuai dengan keinginan orang lain begitu saja. Ya mudahnya, cari saja orang yang bisa menerima kita begitu saja, tanpa standar ini itu sebagai seorang wanita.

Jujur saja, berulang kali saya merasa sakit hati mendengar lontaran kalimat ‘mana ada wanita begitu’ terus menerus dari orang-orang di sekeliling saya. Lelah deh ngikutin apa kemauan orang. Jadi yasudahlah, mungkin jika memang saya tidak menyenangkan untuk kalian, yaudah. Berinteraksilah seadanya pada saya. Saya toh nggak keberatan. Sama seperti kalian ketika merasa dibatasi oleh orang lain, sedikit banyak pasti bakal memberontak.

*

Kadang saya berpikir, manusia-manusia ini, semua orang di sekeliling kita, hanyalah manusia-manusia yang hanya mampir dan tidak kita pahami. Pemahaman adalah hal yang langka. Jadi, sekalinya menemukan orang yang memahami, ada baiknya dipikir baik-baik sebelum membiarkannya menghindar, tak peduli dia laki-laki atau perempuan.

Yah, entahlah tulisan apa ini.

Saya mengantuk parah, besok saya tulis artikel yang lebih bermanfaat lah.

wordsflow