Gagap

by nuzuli ziadatun ni'mah


you live your own life, you are the one who responsible the path you take

Live is so unfair sometimes. And I just didn’t know what to do when those broken-hearted things happen to people we love.

Saya begitu gagap menanggapi hal yang baru menimpa sobat berbincang saya yang paling saya andalkan. Saya begitu gagap hingga bahkan tak ada suatu pesan pun yang pernah saya kirim untuknya.

Kadang saya hampir menangis, hingga kemudian saya sadar bahwa tangis saya tak akan memberi perubahan kepadanya. Dalam beberapa hal, sometimes we could do nothing even if we wanted to.

*

Buluk adalah orang yang menurut saya paling banyak saya ajak bicara. Kami tak sering memiliki pendapat yang sama. Tapi, yang saya tahu adalah, bahwa dia selalu mendengarkan saya, menyediakan waktu untuk menanggapi curhatan saya, dan mengembalikan saya ke dunia nyata. Dia yang menjawab banyak hal yang bahkan tak pernah digubris oleh orang yang saya tuju. Dia yang sedikit banyak membuat saya menjadi orang yang lebih baik.

Lebih dari apapun, meski kami seumuran tapi dia selayaknya seorang adik laki-laki yang selalu saya dambakan.

Kami sering bercerita berdua ketika waktu-waktu begadang di Lincak. Atau ketika suatu ketika survey Diksar di Ungaran. Atau ketika sedang melakukan perjalanan dari mana ke mana. Kadang sambil bergelung sleeping bag dan memejamkan mata, kami sering masih mengobrol ini itu hingga tertawa-tawa.

Manusia ini sangat mengagumkan buat saya. Bahkan hingga saya yakin bahwa dia akan bisa melalui apapun di dunia ini. Pada suatu kesempatan ketika kami caving di Sibodak, dia pernah bilang, “Aku mau belajar panahan, buat jaga-jaga kalau perang dunia ketiga.”

Tapi tak ada yang tahu masa depan bukan? Tak pernah ada yang tahu apa yang tersembunyi di luar pandangan kita. Siapa yang menyangka ‘selamat tinggal’ siang itu tidak berakhir menjadi lambaian selamat datang kembali hingga hari ini.

Saya pernah bersepakat dengan Buluk, bahwa kami yang hidup di Satub sebenarnya tak sungguh mengenal satu sama lain. Kami hanya manusia-manusia yang tergabung dalam satu ruang yang sama dan berbagi kebahagiaan, meski kami saling menyembunyikan hal paling pribadi seorang diri. Tak pernah saya sungguh tahu latar belakang Buluk. Dan begini, tak seharusnya saya menganggap diri sendiri sebagai sobat berbincangnya.

Aku yakin, kamu sangat kuat untuk mampu melewati semua rintangan di jalanmu. Aku hanya mau berpesan (meski mungkin kamu nggak akan membaca di blog ini), bahwa kami siap mendengarkanmu. Dan aku masih menantikan waktu-waktu berbincang kita yang lainnya. Kami merindukanmu, tapi kami sadar bahwa keluargamu lebih berhak akan dirimu. Kamu tetap orang yang aku kagumi selalu, Luk.šŸ™‚

*

See?? Live is so unfair sometimes.

wordsflow