Peluruhan

by nuzuli ziadatun ni'mah


luruh1/lu·ruh/ v jatuh atau gugur karena sudah sampai waktunya

Luruh. Memiliki pelafalan yang indah dalam pendengaran saya. Peluruhan adalah sebuah proses menggugurkan diri, dan yang kali ini ingin saya ceritakan adalah perihal ‘peluruhan’ dalam tubuh wanita.

Setiap sekitar 4 minggu sekali, wanita mengalami ‘peluruhan’ dalam dirinya, atau sering juga disebut sebagai haid atau menstruasi. Siklus ini mengakhiri sebuah usaha menunggu, ketika akhirnya tubuh memproduksi prostaglandin  yang menyebabkan darah yang membentuk jaringan di dinding rahim akhirnya meluruh. Proses ini menyakitkan, yang pada kasus tertentu bahkan kamu yang bukan wanita tak akan mampu membayangkan rasa sakitnya.

Saya tak ingin banyak membahas tentang proses biologi selama ‘peluruhan’, tapi saya hanya ingin bermelankolia.

Saya pikir, peluruhan adalah sesuatu yang puitis. Sebuah representasi nyata dari menunggu dan kecewa. Sebuah kombinasi yang menarik antara usaha untuk hidup dan takdir dijemput mati.

Adakah kamu ingin tahu dimana bagian puitisnya?

Dan sesungguhnya Kami telah menciptakan manusia dari suatu saripati (berasal) dari tanah. Kemudian Kami jadikan saripati itu air mani (yang disimpan) dalam tempat yang kokoh (rahim). Kemudian air mani itu Kami jadikan segumpal darah, lalu segumpal darah itu Kami jadikan segumpal daging, dan segumpal daging itu Kami jadikan tulang belulang , lalu tulang belulang itu Kami bungkus dengan daging. Kemudian Kami jadikan dia makhluk yang (berbentuk) lain. Maka Maha Sucilah Allah, Pencipta Yang Paling Baik”. [QS. al-Mukminun (23):12-14]

Manusia diciptakan dari segumpal darah, dan sungguh indah menghayati bagaimana proses itu bermula. Agaknya wanita memang beruntung karena memiliki womb di dalam tubuhnya, hingga mampu menghayati kehidupan sepanjang desah napasnya. Kami diberi anugerah untuk merelakan dan merasakan bagaimana hidup bertumbuh atau mati di dalam diri kami.

Peluruhan adalah hal yang mengharukan jika dipandang dari sisi melankolisnya. Pada proses ini, ovum ibarat seseorang yang menunggu datangnya orang lain. Ia menyiapkan diri dalam rumah yang baik, dengan singgasana yang sudah begitu siap dalam bentuk jaringan yang berisi darah dan pembuluh.

Dan bukankah itu menunjukkan bahwa dalam bagian tubuh kita, kita sudah diajarkan untuk selalu menyiapkan diri?

Maka, pada akhir setiap ‘deadline’, ketika yang ditunggu tak juga menampakkan dirinya, maka ia bersiap untuk mengakhiri hidupnya sendiri. Ia meluruh. Ia mengakhiri penantiannya. Ia menyudahi masa tunggunya.

Proses peluruhan itu membuat setiap orang mengalami reaksi yang berbeda-beda. Tapi, hampir setiap wanita akan truly menjadi wanita ketika masa itu tiba. Rasa sakit itu, buat saya adalah sebuah akhir, hingga nantinya bertumbuh sekali lagi harapan baru untuk sekali lagi menunggu dan mengulang proses yang sama.

Jadi, bukankah memang wanita ditakdirkan untuk selalu menunggu?

Saya kurang tahu sebenarnya, korelasi antar keduanya. Tapi siang ini saya tetiba merasa peluruhan adalah hal yang sepuitis itu. Hal yang seindah itu untuk didalami sebagai sebuah akhir. Bisa jadi akhir yang sakit itu adalah syarat untuk memupuk awal harapan baru yang lebih murni.

Peluruhan mungkin bisa disebuat juga sebagai usaha bunuh diri. Sebuah hal yang katanya dibenci oleh Tuhan, tapi secara natural tubuh kami (para wanita) mengalaminya setiap bulan.

Aneh sekali terkadang, ketika kita baru menyadari bahwa selalu ada rahasia pada setiap proses hidup kita. Bahkan hingga saya menulis ini, saya masih belum juga sepenuhnya tahu, seperti apa sesungguhnya menjadi seorang wanita.

wordsflow