Melompat

by nuzuli ziadatun ni'mah


Ada loncatan-loncatan emosi yang terjadi di sepanjang waktu. Setiap hari sedari saya membuka mata hingga akhirnya kembali bermimpi.

Saya pikir ada yang begitu janggal yang sedang terjadi pada saya.

Bosan. Begitu membosankan ketika saya tidak melakukan apapun. Hingga rasanya saya sudah begitu tak mampu membiarkan tangan saya diam. Begitu sehingga, harus saya akui bahwa saya kini menjadi budak ponsel pintar. Berapa lama saya bisa bertahan tanpa benda itu di tangan? Kapan terakhir kali saya lebih suka memegang buku ketimbang benda itu?

Aneh sekali, jika merasakan kekosongan yang luar biasa setelah bersemangat begitu rupa di tempat kerja. Apa saya memang gila kerja?

Bahkan menulis di blog ini sudah tidak begitu saya nikmati. Agaknya saya harus pergi sejenak.

Bahkan menulis untuk buletin Satub atau web Satub sedang tidak begitu menggairahkan. Atau bahkan mengerjakan buku di kosan pun tidak begitu menenangkan dan adiktif seperti yang pernah saya rasakan dulu.

Saya kehilangan diri saya, dan mungkin memang sedang membangun seseorang yang baru. Tapi saya benci fase pembangunan ini.

Ah sudahlah, saya pun menulis ini hanya agar tempat ini tidak kosong; seperti hati saya yang terus sedih, tanpa sebab, tanpa alasan, tanpa jawaban.

wordsflow