Life Serenade (xi): Ketika kamu yang sendiri mencoba untuk berkoloni

by nuzuli ziadatun ni'mah


Mari bicara agak sarkastis.

Selama beberapa minggu belakangan saya mulai disibukkan dengan pengembangan usaha on-going saya yang sebenernya sudah dirintis sejak Oktober 2014. Mungkin ketika itu kondisi saya masih jauh dari siap untuk membuat usaha, nggak jelas keuangan dan sistem usahanya. Lalu, sejak April kemarin, saya akhirnya mulai menseriusi semuanya, hingga saya memutuskan untuk ikut bazaar dan join market place yang baru dirintis juga.

Agaknya keadaan ini menjadi sesuatu yang cukup menyita perhatian saya akhir-akhir ini. Tetiba, saya merasa bahwa usaha ini nggak hanya akan berakhir sebagai sebuah mula. Ia harus besar dan menjadi sesuatu, membentuk identitasnya.

Tapi, sebelum saya membahas terlalu jauh, saya mau menceritakan hal kecil yang saya alami.

Karena perkembangan yang tidak terduga, tiba-tiba saja banyak orang yang menawari kerjasama dengan SketchandPapers, yang sebenarnya sangat membantu dalam usaha pengembangan. Cuma, penawaran yang datang ini terlalu bertubi-tubi hingga saya menjadi agak kesulitan memilih mana yang paling baik dan yang paling tepat untuk saya–untuk kami.

Ah abaikan kalimat barusan.

Menjadi agak sulit ketika, suatu ketika ada yang menawari saya untuk jalan bersama. Mungkin karena dasarnya saya yang susah buat percaya sama orang lain, atau entah saya egois karena selalu merasa sanggup jalan sendiri, jadinya saya agak sulit untuk bekerja dalam koloni. Tapi saya iyakan juga akhirnya ajakan untuk berkoloni itu. Maka bergabunglah saya dalam kelompok kecil yang sedang berusaha untuk maju bareng.

Kelompok ini agak aneh, karena terdiri dari beberapa karakter orang. Ya mungkin mirip lah dengan keadaan di sekretariat saya, tapi beda. Hahaha. Lebih karena dalam urusan bisnis, orang tiba-tiba bisa beringas tanpa sebab.

Singkat cerita, setelah pertemuan pertama, saya menyimpulkan bahwa ada satu orang yang ribet luar biasa di sana, dan itu membuat saya tidak nyaman. Seperti yang mungkin sudah pernah saya ceritakan, saya orang yang lebih suka melakukan banyak hal seorang diri. Sebenarnya ada sangat banyak alasan yang menyebabkan orang lebih suka sendiri atau berkoloni. Dalam kasus saya, saya jauh lebih suka sendiri. Bukan karena alasan yang bertele-tele, tapi sederhana saja: mengatur diri sendiri lebih mudah daripada harus berkompromi dengan orang lain.

Banyak yang bilang saya terlalu nggak bisa percaya dengan orang lain, dan terlalu mau ribet sendiri padahal bisa minta bantuan orang lain. Ya dan tidak sih. Bagi saya ada hal-hal yang tidak bisa dikompromikan dengan orang lain, dan ada banyak hal pula yang bisa dikompromikan. Lebih ke arah mana yang lebih enak dijalani, sendiri atau bersama-sama. Itu saja.

Bagaimana pun, ketika mengambil keputusan dan menemui hal-hal semacam ini, di saat itu juga komitmen saya untuk berkompromi dengan diri sendiri juga turut diuji. Mana yang bisa membuat saya belajar, maka di sana lah saya akan bertahan.

wordsflow