Life Serenade (xii): Ketika kamu memisahkan eros, philia, agape, dan storge

by nuzuli ziadatun ni'mah


Sekali lagi menyoal tentang cinta. Biarlah.

Sudah lama saya mempertanyakan tentang cinta. Bagaimanapun, banyak pemahaman yang selalu secara berubah-ubah saya pahami setiap kali saya mencari pengertian baru tentang cinta.

Namun, entah bagaimana, belakangan ini pemahaman tentang cinta tiba-tiba menghinggapi saya.

Ah, tapi mungkin sebelumnya harus saya katakan bahwa saya tidak sedang jatuh cinta seperti waktu yang sudah-sudah ketika saya berulang kali menuliskan topik ini di blog. Bagi saya, hal semacam jatuh cinta adalah hal yang kini sudah terlampau jauh. Ya, dia lebih jauh dari yang saya kira saya rasakan atau saya kira bahwa saya tahu tentang hal itu.

Tentu saja dia masih semenarik dulu—ah, siapa pula yang bisa melepaskan pesona itu dari kehidupan kita? Cinta itu seperti menanam benih tanaman. Menanti setiap daunnya bertumbuh, hingga kita akhirnya sampai pada benih yang baru dan siap untuk ditanam kembali.

Well, sebaiknya mungkin saya jelaskan dulu empat jenis cinta yang saya sebutkan di judul tulisan ini. Tapi saya malas mencari referensi, jadi saya tulis seingat saya aja. Biarkan salah-salah, peduli apa saya dengan deskripsi detilnya.

Eros

Adalah sebuah perasaan yang dirasakan antar lawan jenis. Berkorelasi paling dekat dengan kata ‘hasrat’ alias sexual affection. Eros membuat kita merasakan gairah yang besar terhadap lawan jenis kita sehingga banyak orang mengartikan cinta ketika tubuh mereka bereaksi terhadap lawan jenis tertentu.

Philia

Adalah jenis perasaan sayang yang kita rasakan layaknya sebagai saudara, sahabat alias friendship. Mungkin perasaan ini jenis yang kalau kata anak jaman sekarang diartikan sebagai friendzone lantas dibaperin sampe mati.

Agape

Adalah hubungan vertikal alias love of God for man atau sebaliknya. Intinya dia adalah kasih kepada pencipta.

Storge

Adalah perasaan sayang dalam hubungan dengan keluarga, alias affection.

Secara singkat begitu saja pengertiannya (maaf saya agak malas menjelaskan lebih jauh, nanti cari sendiri saja). Dari pengertian itu, dulu saya pernah kebingungan gimana kemudian saya menemukan pengertian cinta yang sebenar-benarnya. Saya malah justru semakin jauh dari pengertian yang saya cari. Saya semakin kelimpungan mencari-cari arah dan tujuan. Mungkin karena itu akhirnya saya tersesat dan memutuskan untuk pulang dengan jalan memutar. (ngelantur)

Well, semakin banyak yang dialami, akhirnya pembelajaran itu datang sendiri.

Hanya, dan hanya jika kesemua itu terangkum dalam satu orang yang sama, maka di saat itu lah kamu menemukan cinta.

Kalimat itu yang tiba-tiba merasuk ke pemikiran saya. Mungkin memang tak akan pernah ada cinta yang sesempurna itu. Tapi menerima manusia lain sebagai komplemen hidup kita itu sulit, dan tingkat kesulitannya mungkin semacam level aman dalam suatu game; ada tantangan khusus yang harus dilalui. Kita menantang diri sendiri untuk menerima apapun, untuk berkompromi dengan satu orang lain di hidup kita selain diri sendiri.

Sangat sulit jelas. Apalagi manusia pun memiliki minimal tiga wajah dengan tiga karakter yang akan selalu ia mainkan seumur hidupnya; dia di muka umum, dia di hadapan sahabat terdekatnya, dan dia di hadapan cermin seorang diri.

Begitu kamu masih bilang bisa memahami orang lain? Lupakan.

Semakin banyak yang tidak kamu tahu, sesuatu semakin menjadi menarik. Dan sebaliknya, semakin banyak kamu tahu, kehausanmu untuk mencari tahu mungkin akan semakin berkurang. Berlaku untuk semua hal, bahkan untuk mencari pacar.

Ah, tapi itu soal rasa penasaran. Toh ada banyak yang tetap mempertanyakan banyak hal bahkan ketika sudah begitu banyak hal yang ia ketahui tentang dunia ini. Semoga saya begitu. Saya juga tak yakin saya akan mempercayai pendapat saya yang ini selama beberapa waktu mendatang. Tak masalah, segalanya mengalir dan berkembang.

wordsflow