Kentjan

by nuzuli ziadatun ni'mah


Saya mau mengutip seseorang, yang katanya kualitas pekerjaan kita bisa dilihat dari berapa banyak orang yang kita temui, dan berapa pembicaraan yang kita ciptakan setiap harinya.

Hari-hari saya belakangan ini sangat ajaib.

Dimulai dengan malam Minggu yang menyenangkan ke Jagongan Wagen. Sebuah acara seni bulanan yang dikunjungi rutin oleh anak-anak. Saya sih baru dua kali ke sana. Ketika itu secara tiba-tiba Anis menghubungi saya untuk mengajak jalan. Jadilah saya ajak aja kencan ke sana sembari menikmati atraksi seni yang ada.

Beranjak ke hari Minggu. Saya bersama anak-anak Satub yang lain berkesempatan datang ke Yayasan Kampung Halaman. Kali itu mereka mengadakan Selamat Pagi vol 9 sekaligus launching La Bunyi (kependekan dari Laboratorium Bunyi). Suasana yang begitu syahdu yang menyenangkan. Begitu banyak wajah baru yang saya lihat. Begitu banyak orang yang tidak bisa saya definisikan satu per satu karena begitu menariknya mereka.

Hari Senin, tetiba Nanut yang tidak pernah sebelumnya saya ajak bicara, tetiba datang ke kosan saya. Kami berbincang banyak hal, kami menceritakan banyak hal yang sebelumnya entah pernah saling kami ceritakan ke orang lain atau tidak. Suasana dekat yang tiba-tiba. Hahaha. Agak aneh kalau memikirkan bagaimana itu bisa terjadi. Selanjutnya saya bertemu dengan teman-teman sesama crafter yang bermaksud buka bazaar bareng di Ngasem pada hari Sabtunya.

Selasa, saya bertemu dengan Nove, seorang teman lama dari Kayonara. Kami berbincang banyak seputar bisnis dan kehidupan kuliah yang sudah entah. Banyak hal yang kami ceritakan sepanjang malam itu. Bahkan saya baru kembali saat gerbang sudah hampir ditutup.

Rabu, saya bertemu dengan teman-teman Sampit. Kelompok manusia yang lain yang bisa saya ajak berdiskusi tentang disiplin ilmu saya, tentang hal yang sebelumnya belum saya tahu. Bukan kelompok yang sungguh ideal, tapi mereka mampu menggambarkan hal yang sebelumnya tidak pernah saya lihat.

Kamis. Secara ajaib lagi, saya diajak bertemu dengan Mbak Zil. Orang yang tadinya sulit saya raih. Nggak pernah punya topik yang sama, sulit diajak bicara. Saya bahkan nggak tau siapa sebenarnya Mbak Zil ini. Nggak banyak yang kami lakukan, hanya minum segelas es cokelat sebelum akhirnya saya pergi makan ramen dengan Nanut. Hehehe.

Jum’at adalah hari yang agak sibuk. Saya mengurus beberapa hal. Dan di hari itu saya diajak diskusi dengan seorang adik angkatan perihal Tugas Akhirnya. Seru sekali membicarakan hal semacam itu. Entah berapa lama waktu yang kami lewatkan bersama untuk membahas ini. Kebetulan dosen pembimbing kami sama-sama Pak Djowi yang ganteng itu. Agak jahat sih bapaknya, tapi beliau jujur dan seru diajak diskusi. Dan mungkin, bisa dibilang dia cukup realistis.

Hingga akhirnya Sabtu tiba dan kami membuka bazaar bersama di Ngasem. 5 orang yang sebenarnya saling kenal tapi baru ngeh kalo kenal. Duuuh, menceritakan detil ini akan lama. Tapi meski nggak ada penjualan berarti, saya senang dengan bazaar itu. Saya kadang membayangkan bahwa suatu ketika saya akan membuat semacam komunitas crafter yang seumuran dengan saya. Berbagi cerita dan banyak hal lainnya.

Daan, oh yeah, Minggu lagi!

Selama Sabtu dan Minggu, saya banyak berbagi waktu dengan Monot, dan bahkan berkunjung ke Sunmor terakhir sebelum puasa pun bersama dengannya. Dalam jalan-jalan kami yang entah itu, kami bertemu dengan sepasang suami-istri crafter yang lain. Hehe. Kami awalnya hanya bertanya seputar dunia crafter karena juga baru kenal. Lama berbincang, saya akhirnya mengetahui bahwa ibunya ada seorang arsitek sekaligus anggota Mapala Unisi! Wow sekali lah pokoknya. Sedang suaminya anak Sasenitala lulusan Desain Interior.

Well, singkat cerita saya mensyukuri setiap waktu yang saya habiskan dengan diri sendiri. Mungkin ini masih pelarian dari banyak hal. Tapi berlari hingga kehabisan tenaga itu nikmat. Atau berusaha hingga lupa cara bernapas itu juga sama nikmatnya.

Bahkan apapun yang terjadi, selalu akan ada hal ajaib yang terjadi. Hanya mungkin waktunya belum sampai. Atau saya terlalu takut menerimanya.

wordsflow