nothing but nausea

by nuzuli ziadatun ni'mah


Takbiran, agaknya semakin bermasalah saja dari tahun ke tahun. Entah bagaimana orang-orang semakin kehilangan kendali atas kegiatan itu.

Saya pribadi bukan orang yang hobi takbir keliling sejak kecil, bahkan ketika orang-orang masjid mengajak keliling sampai lingkup kecamatan atau ke kota, saya tak pernah sekalipun tertarik. Selain membuat berisik, biasanya saya lebih memilih nonton film di televisi karena lebaran sering banyak film bagus.

Well, kemudian akhirnya karena suatu hal saya dan abang saya keluar ke arah kota berdua. Sedari rumah sudah terdengar banyak orang saling bersaut-sautan mengumandangkan takbir. Semakin ke kota semakin ramai saja rombongan orang yang lalu lalang. Sampai akhirnya di perempatan Palbapang, kami bertemu beberapa rombongan takbir dengan berbagai varian. Dari yang bertakbir dengan backsound dangdut atau dengan tabuhan reog, semuanya saya temukan di malam itu. Bahkan ada yang mengumandangkannya ala musik rock. Damn.

Semakin tahun semakin aneh aja. Semakin ke sini semakin aneh saja. Padahal perintahnya sederhana, padahal bisa biasa saja.

Semakin tampak menyebalkan karena kemudian rombongan ini merasa lebih ampuh dari para polisi yang menjaga ketertiban jalan di hari-hari ramai begini. Semakin menyebalkan karena mereka merasa berkuasa; berkendara dengan suara knalpot yang memekakkan telinga, tanpa helm, dan melewati pembatas jalan.

Kalo kata Bapak, menegur orang begitu hanya malah bakal buang tenaga, nggak ada gunanya. Di saat semacam ini lah waktu-waktu saya mengapresiasi polisi dengan sangat.

Entahlah, harus dibilang bagaimana orang-orang yang begini. Banyak orang yang merasa ampuh ketika berada dalam rombongan besar. Semakin besar, semakin mereka merasa berhak untuk melakukan hal-hal yang bahkan merusak. Semakin banyak orang, semakin dirasa mudah melanggar banyak hal. Menyebalkan.

Ah tapi sudahlah, saya kira marah-marah saya cukup saja.

wordsflow