Tercatat 9 Februari 2016

by nuzuli ziadatun ni'mah


Saya mencoba merekonstruksi bagaimana cara diri memahami realitas yg ada di sekeliling kita. Bagaimana proses dialektik manusia dan lingkungan yang menaunginya itu terjadi.

Dalam suatu momen, kadang saya terpekur seorang diri dimana setiap orang di sekitar saya sibuk dengan rekan-rekan dan pikiran mereka. Betapa aneh bahwa keberadaanmu justru tak menjadi bagian dari realitas yang mereka rasakan. Lebih aneh lagi, manakala mereka sebaliknya saya anggap sebagai bagian dari realitas itu sendiri.

Rasa-rasanya terlalu absurd, bahwa ternyata kesadaran realitas antar satu sama lain bisa saja tidak saling berkaitan.

Lalu ada dunia, yang merupakan sarana dimana kita mengada dan mencoba menjadikan dunia sebagai sarana yang mulia. Dunia tak berarti tanpa manusia, dan dunia berlaku sebagai pengada bagi manusia. Bukan lamtas dunia menjadi baik atau buruk, pokok pentingnya adalah manusia tak bisa mengada tanpa adanya dunia. Demikian, hubungan antara manusia dan dunia kemudian menjadi sebuah hubungan yang nyata.

Dunia mewujudkan ide dan tujuan penciptaan manusia. Maka manusia memperkaya diri dengan pengetahuan untuk melampaui batasan yang diberikan oleh dunia.

Di sana, datang Tuhan untuk membimbing manusia dari kegelapan ketidaktahuan, tapi tidak menyediakan pengertiannya di tempat yang terang, kita diberikan batasan-batasan. Lantas, keterbatasan itu akan membawa manusia ke pemahaman dan menemukan Tuhan dalam ketakterbatasannya sebagai entitas tertinggi. Kemudian dunia menjadi sarana manusia untuk mendefinisikan keterbatasan dan ketakterbatasan itu.

Tak lama, datang agama sebagai sebuah kontrol sosial; agama dengan norma dan junjungan moral yang serba ideal. Tapi padahal, bisa jadi agama satu dan lainnya tak bisa membawa kita pada pemahaman moral yang universal. Akhirnya kita hanya terkatung-katung dalam ketidaktahuan, terjebak dalam batasan yang masih berjarak pada batas maksimal. Terjebak dogma dan nilai-nilai yang tak kita tahu kebenarannya.

Tak salah memang. Karena tak ada yang sungguh benar ketika kita bicara keyakinan.

wordsflow