Revolusi Sempak

by nuzuli ziadatun ni'mah


Sekali lagi, perjalanan menjadi sebuah sarana kontemplasi yang paling mujarab untuk saya. Well, mungkin agak jenes mendengar istilah sempak, tapi menurut saya ini topik yang sangat seru untuk dibahas.

Saya sangat tertarik membicarakan sempak, atau mungkin bahasa halusnya pakaian dalam, baik itu untuk perempuan maupun laki-laki. Sharing pengalaman sejenak sebelum beralih ke intinya, saya mau sedikit cerita beberapa hal yang ingin saya garis bawahi perihal persempakkan ini.

Pertama, untuk saya pribadi, sebenarnya pembahasan sempak itu saya anggap saru. Sempak (maksud saya pakaian dalam) sering kali diasosiasikan dengan hal-hal yang berbau seksual. Memang sih benda itu membungkus hal-hal paling vital dari tubuh manusia, tapi sebenarnya lebih dari itu, sempak itu memegang hal yang jauh lebih penting dari itu. Hal saya maksud adalah kesehatan reproduksi.

Ketika saya masuk Mapala, saya pernah mendapat pembekalan sebelum melakukan pendakian perihal barang-barang yang harus dibawa ketika mendaki gunung. Dan dalam pembekalan itu disebutkan bahwa saya hanya diperbolehkan untuk membawa sempak 2 buah saja. Satu yang saya pakai, dan satu lagi yang mau nggak mau entah apapun yang terjadi harus tetap kering. Hemm, terdengar sangat jorok bukan? Memang. Jika dipikir ulang, saya merasa lha kok saya mau-maunya mengiyakan hal itu. Tapi ya bagaimana lagi, ketika itu saya hanya kunyuk-kunyuk yang entah. Hahaha. Begitu maka kemudian saya menjalani hari-hari selama di gunung, di awal-awal masa pendakian saya. Kemudian, berkali-kali setelah itu saya lebih memilih memakai sempak sekali pakai yang jelas enteng dan nyaman.

Itu mungkin dari sisi penggunaan sempak yang paling ekstrem yang pernah terjadi dalam hidup saya.

Kalau mengingat hal itu, berkali-kali saya menggelengkan kepala seakan tak percaya. Memang tak banyak yang cukup perhatian dengan sempak, dalam kaitannya dengan kesehatan reproduksi. Sekedar info aja, harga pakaian dalam itu nggak murah men. Rasanya mau nangis-nangis sekalinya beli banyak di toko, saya pribadi nggak serela itu buat beli. Makanya baru akan beli ketika saya punya banyak duit, jadi nggak kerasa. Kalau lagi bokek yo mending urungkan niat deh buat beli sempak dan sekawanannya.

Belum lagi dengan perubahan bentuk dan modelnya. Seingat saya ketika saya masih duduk di bangku SMP, sempak yang saya beli ketika itu masih seputar warna-warna netral saja, hitam dan putih. Tapi semakin ke sini, semakin banyak jenis dan bentuk yang ada. Saya sejujurnya merasa kagum dengan benda-benda itu. Belakangan, sempak dan komplotannya sudah menjadi konsumsi non privat, sehingga bentuk dan gaya pun harus mampu diterima oleh banyak orang. Bentuk dan motifnya juga bisa ‘dinikmati’ nggak hanya oleh penggunanya saja, bahkan beberapa sudah jadi barang yang yaudah sih pakaian dalamku bagus kok, atau ini lho be-ha aku waknanya pink gonjreng, atau eh, merk sempak aku calvin klein coy, dan seterusnya, dan seterusnya.

Semakin ke sini, semakin banyak hal yang berubah di masyarakat sosial kita. Industri sempak dan pakaian dalam menjadi sesuatu yang punya pangsa pasarnya sendiri, apalagi di negara-negara atau tempat-tempat yang nggak masalah dengan sempak yang sedikit kelihatan, atau bahkan tanpa tedeng sama sekali. Semakin menjadi bahasan yang seru, karena dunia persempakan ini nggak dibahas oleh banyak orang men. Hanya orang-orang yang kurang kerjaan atau memang saking udah nggak taunya lagi mau ngomongin apa, akhirnya dia milih topik sempak.

Oh astaga, saya ngomong apa sih. Yaudah, kita ke akhirnya saja yaa.

Jadi, akhir dari tulisan ini adalah, belakangan saya lebih melihat sempak (termasuk semua yang berkaitan dengannya) dari segi kesehatannya. Ketika saya membahas sempak dari sekedar sebuah pakaian, maka tidak perlu saya bersusah payah memikirkan bahan dan sebagainya. Mungkin memang urusan kesehatan ini agak terasa urgent untuk semua kalangan. Ketika sesuatu dikaitkan dengan kesehatan, orang langsung buru-buru melaksanakan instruksinya. But it’s okay for me, toh kalo nyaman saya juga enak.

*maaf atas ke-random-an ini

wordsflow