Kota-kota Kecil and Romantika Pencarian

by nuzuli ziadatun ni'mah


Menuliskan sedikit cerita dari hari-hari saya yang biasa saja. Maaf nggak nyambung blas sama judulnya, hehe.

Well, belakangan memang banyak hal yang terjadi di hidup saya, meski harus saya akui bahwa itu bukan hal yang luar biasa. Saya masih saja kelayapan kemana-mana dengan diri saya sendiri. Mencari suaka atas keresahan di tempat-tempat yang teduh dan menyenangkan.

Beberapa hari setelah Lebaran tahun ini, saya berkesempatan untuk mengelilingi beberapa kota kecil di sekitaran Jogja. Awalnya saya ke Salatiga, pertama kalinya saya sungguh-sungguh datang ke kota itu setelah sebelumnya hanya tahu namanya saja. Padahal nenek saya tinggal hanya sekitar 20 menit dari kota, tapi sayangnya saya tak pernah mampir.

Entah mungkin karena saya bekas mahasiswa Arsitektur atau saya memang terlalu menyukai hal-hal yang berbau lampau, selalu saja, di manapun saya singgah, hal pertama yang menarik perhatian saya adalah bangunan Belanda yang ada di kota tersebut. Setelah sebelumnya saya pikir Salatiga adalah kota buatan jauh setelah Belanda, tampaknya saya salah besar. Banyak bangunan lama di kota ini, meski saya hanya sekilas melihatnya saja.

Beranjak ke Temanggung beberapa hari kemudian, saya juga menemukan tanda-tanda yang sama tentang peninggalan Belanda di kota ini. Bahkan ngobrol-ngobrol dengan beberapa orang, dahulu ada rel kereta dari Parakan. Bahkan rumah teman saya ada di belakang bekas stasiun.

Saya sebenarnya ingin membahas banyak tentang kota-kota kecil ini. Sejujurnya, bahkan saya berencana untuk melakukan ekspedisi kota-kota kecil peninggalan Belanda. Agak muluk memang, but it’s worth to try. Bagaimanapun, saya memang suka dengan bangunan-bangunan lama. Bukan karena bagus atau jeleknya sih, di luar nilai-nilai estetis bangunannya, bangunan lama selalu tampak syahdu dan menarik bahkan sekedar untuk dilihat dari jauh. Apalagi sampai mempelajari lebih dalam. Pasti akan sangat seru sekali.

Lanjut, masih ada Magelang yang cukup menarik perhatian saya dari lama. Apalagi setelah pernah dibekali kuliah tentang kota Magelang oleh salah satu mahasiswa S3 di jurusan saya dulu. Ibunya kelahiran Magelang dan bahkan mempelajari Magelang sampai ke Belanda. Dia sangat tahu kota itu, meski saya kurang yakin hal apa saja yang pernah ibunya berikan untuk Magelang.

Terakhir, saya tentu bersinggungan dengan Jogja, setiap waktu. Kota saya saja bahkan belum pernah sungguh-sungguh saya telusuri setiap jengkalnya. Ada beberapa tempat yang belum berhasil saya rekam dalam ingatan. Sedikit demi sedikit, saya mencoba rutin untuk jalan-jalan. Sekedar menghabiskan waktu, mengisi memori, menyembuhkan diri, dan memperkaya pengetahuan saya tentang perpetaan dan bangunan di Jogja. Semoga nanti suatu ketika saya bisa menuliskan dengan lebih detil dan cukup layak untuk dibaca.

Sekian saya tulisan saya. Cuma biar blognya nggak jamuran.

Tabik

wordsflow