Life Serenade (xiii): meredam rindu dan menahan diri untuk menjumpai

by nuzuli ziadatun ni'mah


Apa yang kamu butuhkan untuk memicu rindu? Waktu senggang? Novel klasik nan galau? Lagu patah hati? Hujan gerimis di sore hari? Lampu temaram di malam bulan Juli? Atau, apa?

Tak ada yang tahu bagaimana rindu bermula, dan bagaimana cara meredamnya, kecuali ya itu, hati yang siap untuk tidak merasakannya. Tapi tidak, saya pikir saya masih kalah menantang diri sendiri untuk tidak mencoba merasakannya lagi.

Ada kalanya ketika saya ingin menyampaikan kerinduan pada seseorang. Ada kalanya muncul rasa cinta yang begitu besar dan tak mampu terjelaskan. Bahkan ketika sesungguhnya sudah cukup lama rasa itu pergi mengelana. Ujung-ujungnya, selalu tiba masa rindu datang membabi buta dan meminta untuk segera disembuhkan.

Saya pikir, setelah sekian lama dan berkali-kali merasakannya, ada beberapa hal yang selalu saya lakukan untuk meredam keinginan untuk bertemu. Hahahaha, menyedihkan. Tapi peduli amat, saya harus menulis ini.

Pertama, berkali-kali saya akan membuka chatroom dengannya, untuk kemudian berkali-kali juga menyadari bahwa saya tak pernah seberani itu untuk memulai percakapan berarti. Bagaimana cara menyampaikan rindu pada orang yang, mungkin tak peduli? Sampaikan saja kata mereka. Tapi mereka tak pernah tahu apa-apa, yang tersimpan dalam pikiran, dan yang terselip sebagai harapan.

Lucu sekali karena pada suatu waktu, mungkin beberapa kali dalam kurun purnama, saya terbelenggu hal-hal remeh semacam ini. Tapi sungguhkah ini remeh? Tidak, ini nikmat sebagai manusia yang mampu merasa. Bahkan ketika tak ada penyelesaian yang datang atau menggenapi keresahan, pada akhirnya nikmat merindu selalu menjadi candu.

Kedua, saya akan menuliskan keresahan itu pada secarik kertas tissue di tempat makan, atau menggumamkan percakapan semu dalam selipan nuansa yang mengundang. Bahkan terkadang saya mengungkapkan lewat hal-hal yang saya yakin mampu ia lihat. Betapa picik saya selama ini. Betapa lemah untuk mengakui secara nyata bahwa saya merindu dan tak mampu meredamnya.

Saya tak pernah tahu, adakah orang lain juga merasakan hal-hal yang saya rasakan. Selalu menarik untuk mengorek cerita tentang hati dan kerisauan. Seperti cerita tentang perasaan yang tak tahu kemana akan berlabuh kemudian.

Ah, deadline kerjaan yang menuggu, buku yang belum selesai dikerjakan, kertas yang masih juga belum ada di pasaran, chat yang belum dibalas, rajutan yang sebentar lagi kelar, novel yang masih setengah jalan, atau suara dotA yang mengganggu pendengaran. Tak satu pun di antaranya mampu menahan saya menyampaikan rindu kepadamu.

Senantiasa bersama malam-malam musim kemarau yang menyenangkan, dimana langit terus terang benderang oleh bebintang, konstelasi yang mengundang untuk diperhatikan, udara yang tak berhembus tapi menghujam, atau kesunyian karena katak sudah enggan, rindu saya menyublim menjadi sederet huruf dalam layar berkedip. Mungkin frekuensinya tak sampai padamu, atau mungkin intensinya tak menyentuh perasaanmu. Tak apa, cukup buat saya.

wordsflow