Life Serenade (xiv): What’s up with the jealousy

by nuzuli ziadatun ni'mah


So, what’s up there?

Kembali ingin mengungkap hal-hal memalukan dalam pikiran. Biar saja, dari pada membusuk terus menerus dan meracuni saya, ada baiknya saya menggumbarnya saja keluar. Setidaknya akan ada orang-orang yang menertawakan atau ‘mengasihani’ saya. Hahaha, sarkas sekali.

((sembari diiringi album All is Violent, All is Bright-nya God is An Astronaut))

Enggak sih. Ini berkaitan dengan sebuah perbincangan tempo hari perihal marxisme. Jangan tanya saya itu apa, coba cek sendiri di google atau buku-buku di Togamas atau Gramedia. Saya juga belum paham, dan masih mengawang-awang. Tapi, berkaitan dengan judul ini, yang mau saya bahas adalah perihal jealousy. Rasa iri men, adalah bagian yang ambil bagian cukup besar dari setiap tindak tanduk manusia.

Well, saya tak akan mengeneralisir hal ini, karena pasti bakal ada suara-suara di belakang yang menolak menerima opini saya. Maka, biar nggak terlalu jadi bahan perdebatan, saya akan (dengan lugas dan tanpa tahu malu) menjadikan diri saya sebagai contoh kasus.

Dimulai dengan pernyataan pembuka bahwa Marx mengganggap dunia ini tercipta dari konflik, bahwa dunia ini sebenarnya full of tension. And instead of thinking that everything work like it should be, he believed that everything was a product of a conflict. This conflict would never end, because one conflict would always lead us to another one–they just let us to compromised.

Hemm, sebelum saya lanjutkan, harus saya sampaikan dulu bahwa kata-kata di sini keluar tanpa mikir. Artinya saya sedang tidak sedang dalam kondisi prima untuk berpikir dan hanya ingin mengeluarkan kata-kata mengganggu dalam pikiran saya. Aneh sekali karena sepanjang sore ini saya melakukan self-conversation yang berujung pada keharusan untuk menuliskannya.

Well, ketika teori konflik itu disampaikan di hadapan saya, tiba-tiba saya merasa dicerahkan dengan sebaris kalimat itu. Bukan karena saya pun sependapat seratus persen dengan pernyataannya, namun lebih kepada kebingungan yang selama ini saya rasakan akhirnya mendapat pencerahan. Pada kondisi berbeda di hidup saya, sering kali saya merasa bahwa konflik batin yang selama ini saya rasakan atau konflik yang saya lihat di sekeliling saya hanyalah suatu realitas palsu dibandingkan dengan tentramnya hidup di pedesaan atau di pedalaman suatu wilayah. Atau terkadang saya begitu merasa teralienasi ketika berada di lingkungan yang begitu tentram, padahal pikiran saya berkecamuk dengan banyak perhitungan.

Di sana lah saudara-saudara, kebingungan saya menemukan titik terang.

Kemudian, kini pertanyaan saya yang berikutnya harus juga bisa saya jawab. Di antara kedua hal itu, nama yang akan saya yakini atau saya anut? Bahwa dunia ini sebenarnya tenteram jaya, atau dunia ini hanya topeng dari berbagai konflik yang ada? Itu pertanyaan sulit, karena memilih salah satunya berarti menjebakkan diri untuk selalu bisa berada pada perspektif salah satu dan membangun argumen darinya.

Pilihan saya jatuh pada yang kedua. Saya pikir dunia ini memang berisikan konflik semata. Setiap tindakan kita berikutnya, tidak lebih dari kompromi untuk meredam konflik yang kita rasakan, untuk sebenarnya membawa kita kepada konflik lanjutan.

Mari mencoba mencari contoh dari tindakan saya sehari-hari.

Saya suka menganalisis diri sendiri terkait rasa iri. Perasaan ini sebenarnya tidak berhubungan langsung dengan diri saya, tapi dia sangat mempengaruhi segala perilaku dan bahkan hasil yang ingin atau akhirnya saya dapatkan. Pada suatu ketika, bahkan saya merasa menjadi budak rasa iri saya tanpa alasan. Sebegitu mengikatnya sampai saya kesulitan untuk melepaskan diri.

Terkadang, saya memandang orang-orang di sekitar saya sebagai orang yang lebih dari diri saya sendiri. Lebih segalanya-galanya, bahkan ketika mereka sesungguhnya tampak tidak lebih bahagia dari saya, saya akan bisa menemukan hal yang bisa saya irikan dari mereka. Hemm, kadang saya kira saya tidak waras. Tapi begitu sih yang sungguh-sungguh saya rasakan.

Sejak detik obrolan tentang teori konflik itu, saya kemudian menyadari bahwa setiap tindakan saya sebenarnya hanya produk dari konflik internal dalam diri saya. Sebagian menjadi kompromi yang bisa saya terima, tapi sebagian lagi menimbulkan perdebatan yang lebih tiada habisnya. Kemudian, hal-hal semacam itu akhirnya menumpuk dalam diri saya berteriak-teriak meminta penyelesaian, tapi yah, nyatanya tak satu pun bisa saya selesaikan.

Produk itu selalu mengandung tujuan-tujuan politik yang saya skenariokan (dengan sadar atau tidak sama sekali) untuk kemudian diharapkan mampu memenuhi tujuan akhir yang saya inginkan. Tidak bisa dihindarkan terkadang, hingga rasa-rasanya begitu sulit menjadi ‘ikhlas’ saja tanpa perlu embel-embel apapun. Lebih lagi, dalam kondisi yang paling netral saya pun, terkadang kemudian hari saya mencoba untuk mengambil keuntungan darinya. Hmmm, sangat tidak mengherankan jika kemudian ada orang-orang yang tidak pernah minta bantuan saya. Hahaha.

Tapi tidak kok, saya begitu hanya pada beberapa orang saja. Hal yang sulit saya kontrol dari diri sendiri. Lebih lagi jika hal semacam ini dibahas bersama dengan psikologi komunikasi (bahasan yang baru keluar beberapa jam yang lalu), bakal seru sekali bukaan.

Yah, walau pada akhirnya tulisan ini belum berkesimpulan dan berbobot, maaf sekali saya tetap harus menyudahinya. Waktu saya tinggal 10 menit. Sampai jumpa di postingan selanjutnya.

wordsflow