Babak

by nuzuli ziadatun ni'mah


Akhirnya, ini adalah postingan ke 400 saya di blog ini. Komentar saya tentang itu? Ternyata dikit, hahahaha.

Sudah sangat lama saya punya blog ini dan nggak pernah sampai hati beralih ke apapun juga. Saya pikir membacai tulisan lamanya selalu menghibur dan menggenapi kerinduan saya akan momen yang terlupa.

Menulis, mungkin adalah upaya kita untuk membuang ingatan, meski dia kemudian tidak akan sama dengan yang kita pikirkan. Lalu, ada apa dengan ‘babak’ sehingga ia harus menjadi judul di postingan ini?

Saya pikir, sudah saatnya saya memandang segala hal tersekmentasi dengan berbagai cara. Mungkin saya percaya pada kebebasan bertindak, berpikir, dan merasa, tapi pada tataran praksisnya, kebebasan itu akan berbenturan dengan berbagai hal. Yang paling dekat adalah karakter personal. Freud menjelaskan bahwa id, ego, dan super ego lah yang mengontrol kesemuanya. Tapi di tahapan super ego, kita berhubungan pertama kali dengan lingkungan sosial kita, di sana nilai-nilai sosial menjadi batas tindakan kita.

Eh, ngomong apa sih saya. Hahahaha. (Saya sudahi saja ngomongin Freud, nanti salah :p)

Maka, meski kita berpikiran begitu bebas, kadang kita menjadi begitu tertekan karena lingkungan sosial kita memiliki nilai-nilai yang lebih sempit dari cakrawala kebebasan kita. Di sana kemudian, orang-orang jenis ini akan mengalihkan hal-hal di luar batas itu dalam bentuk kegiatan yang setara; menulis, berbicara, dan berhubungan dengan taktik yang membuat mereka akhirnya teralienasi dari nilai-nilai sosial yang mengukung itu.

Misal, saya menulis di blog ini secara rahasia (saya katakan demikian karena tak pernah sekalipun ibu-bapak saya membaca), dan hanya mempublikasikannya pada orang-orang tertentu yang menurut saya memiliki pemikiran yang sama bebasnya. Sehingga kemudian saya menjadi tidak tertekan. Atau orang-orang yang berhubungan dengan teks (surat, chat, atau email) karena merasa bertatap muka menimbulkan penilaian yang merugikan.

Ah, ribet sekali ya hidup.

Sampai sini, saya yakin ada suara-suara yang bilang; ah, gue enggak kok. Hahaha. Bahkan kadang saya menolak mengakui tulisan saya sendiri. Kalo kata teman saya yang berasal dari orang entah siapa, dia pernah cerita tentang konsep death of author. Artinya, setelah menulis sesuatu, yasudah, kita mati. Kita menjadi orang yang berbeda dengan kita yang menulis di kala itu. Karenanya pula, sangat penting untuk memahami siapa penulis suatu artikel, buku, atau tulisan. Bagaimana pandangannya ketika itu. Apa kecenderungannya, latar belakangnya, peristiwa yang sedang terjadi di sekitarnya, semuanya akan mempengaruhi isi dan bentuk penulisan seseorang.

Pun demikian dengan yang sedang saya lakukan sekarang.

Ada hal-hal yang tiba-tiba muncul di hidup saya, entah manusia atau peristiwa. Begitu banyak hingga sekali lagi (saya katakan sekali lagi karena sebelumnya sudah pernah) saya merasa terlempar dari realitas diri sendiri. Kadang saya merasa begitu jauh, kadang begitu dekat hingga memuakkan. Muak sekali merasakan kemarahan yang tiba-tiba, atau kesedihan yang datang entah dari mana, atau emosi-emosi yang begitu bergejolak hanya karena melihat suatu peristiwa?

Babak hidup setiap orang berbeda-beda. Ah, mungkin ini tulisan saya yang paling memotivasi diri, hahaha.

Begitu dinamisnya seseorang, hingga suatu ketika bisa saja kita terbangun dan ingin bertemu keluarga untuk minta maaf, tanpa alasan. Atau dalam suatu momen diam, kamu ingin mengakui setiap kejahatan batin yang kamu lakukan pada seseorang. Sederhana saja, semua terjadi karena kita mengendalikannya. Hal-hal semacam itu, tak bisa terwujud tanpa kita sungguh-sungguh mengikutinya untuk menukarnya menjadi tindakan. Pemicunya selalu ada kok, tapi tindakan setelahnya selalu menjadi pilihan.

Saya pikir, saya sudah melalui banyak babak kehidupan. Dari anak kecil yang merasa diduakan, anak-anak yang tidak punya teman perempuan, remaja yang tak tahu cita-citanya, hingga akhirnya saya yang duduk di lincak dan menulis di laptop yang rusak. Kesannya sedih mulu nggak sih hidup eke. Enggak kok, ini cuma pencitraan.

Kita melewati banyak perlawanan diri hingga akhirnya menjadi orang yang hidup di hari ini. Kita berkeluh-kesah dengan diri sendiri untuk mencari penyelesaian, yang sebenarnya penyelesaian itu tak akan pernah datang. Hahaha. Atau kita mencoba mencari jawaban-jawaban dengan perbincangan dengan orang lain, untuk mencari sudut pandang yang berbeda. Sayang kita lupa, bahwa yang ada pada mereka sepenuhnya begitu berbeda dengan kita. Segalanya, hingga kamu tak akan menemukan jawaban apapun atas pertanyaanmu. Jawaban itu hanya akan ada jika kita merefleksikannnya ke diri kita sendiri. Hubungan timbal-baliklah–si ‘saling’ itu–yang akan membuat segala pertanyaan terjawab.

Kemudian, ketika kamu tidak pernah memperoleh ke-ter-saling-an dari seseorang, kenapa tidak tinggalkan saja dia? Benar begitu? (Tidak, aku tak sangguuuupp) Adalah pembenaran yang kemudian menghalangi kita untuk melakukan tindakan-tindakan. Atau kita merasa mampu bertahan dengannya, sehingga akhirnya tak merasa perlu untuk melakukan tindakan apapun. Suatu ketika, ah tidak, sampai akhirnya tiba saat ini, ketika semuanya menjadi hambar dan saya tak merasa perlu untuk memikirkannya.

Tiba-tiba saya ingat pernah disumpahin temen saya bakal hidup selibat.

Babak kita berbeda-beda, dengan waktu tempuh dan jarak tempuh yang berbeda pula. Aneh sekali ketika bisa menyerahkan diri pada keterikatan dengan suatu entitas tertentu (maksud saya menikah). Di antara ketidaksamaan itu, terkadang ada dua orang yang sangat sinkron dan mampu berada pada ritme yang sama. Beberapa berhasil melakukannya. Saya sih belum, hahaha.

Jadi ingat kata-kata Mas Laks, kalo kenyataan adalah perwujudan dari kata-kata. Setiap orang berdoa untuk mewujudkan keinginannya lewat kata-kata. Setiap yang terwujud kemudian kita bersyukur atasnya, merasa doanya terkabul, dengan kata lain merasa kata-katanya menjadi kenyataan. Yang tidak terwujud atau berbeda cerita sama-sama diakui sebagai takdir yang tak bisa dihindarkan, sebagai kuasa Tuhan, sang tangan-yang-tak-terlihat. Kita mengatur dan menciptakan jalan yang kita pilih sendiri. Semua menjadi pilihan.

Ah, agaknya saya harus menyudahi tulisan ini. Membingungkan? Memang. Nggak penting? Sangat.

Tapi saya senang kalian membaca sampai sini.

wordsflow