Wacana (i): Plastik Berbayar di Pasaran

by nuzuli ziadatun ni'mah


Tiba-tiba saya kepikiran tentang plastik berbayar siang ini.

Ah, setiap beres-beres kosan atau membuat buku, selalu ada hal-hal menarik bermunculan di kepala.

Saya ingat sudah beberapa bulan terakhir saya selalu menghindari menggunakan plastik saat belanja. Terkadang bahkan sampai memaksakan diri untuk dibawa pake tangan aja, hahahaha.

Lantas saya tetiba kepikiran, uang 200 setiap bayar itu dikemanakan ya? Saya barusan searching sih, masing-masing perusahaan masih mengumpulkan sendiri dan menggunakannya untuk kegiatan yang mereka inisiasi sendiri. Misalkan Gra****a digunakan untuk penanaman pohon. Di beberapa artikel saya juga membaca tentang perdebatan untuk menyerahkan si dana ke pemerintah daerah saja, tapi dikhawatirkan akan disalahgunakan untuk tujuan non lingkungan. Satu pendapat yang lain setuju untuk menyerahkan dana ke badan khusus pengelola untuk kemudian digunakan untuk pengelolaan lingkungan.

Hemm, agak rumit ya tampaknya. Tapi dengan demikian sih, saya cuma bisa menyimpulkan kalau sebenarnya pemerintah belum siap dalam eksekusi plastik berbayar ini. Bahkan setelah berbulan-bulan begini, saya belum pernah membaca di koran bagaimana dana plastik berbayar ini dikelola dan dialokasikan.

Mungkin saya cukup terburu-buru untuk menyimpulkan, bahkan ketika saya baru membaca tiga atau empat artikel saja, tapi sebagai masyarakat awam, kesimpulan saya beralasan. Kalau sebagai lapisan masyarakat yang bahkan masih berada di zona dimudahkan informasi saja sampai nggak tahu, bagaimana dengan masyarakat yang lebih minim akses? Apa mereka tidak semakin bertanya-tanya tentang itu?

Bisa jadi saya akan dianggap terlalu konseptual ketika membicarakan kasus semacam ini. Dalam pikiran saya, agak aneh ketika menerapkan plastik berbayar sementara semua belanjaan yang diplastikin itu juga menggunakan bungkus plastik. Apa malah bukan lebih baik menekan perusahaan untuk menggunakan bungkus yang lebih ramah lingkungan?

Saya pribadi orang yang suka menyimpan plastik bekas belanjaan, sekedar untuk bungkus berikutnya, atau untuk tempat sampah. Tapi bahkan sebenarnya saya jauh lebih suka dapat plastik belanjaan yang besar daripada beli makanan yang plastikan. Bekas plastik makanan jelas lebih nggak bisa dipakai dibanding dengan plastik belanjaan, dan itu hemmm. Kan, jadi mendingan perusahaannya aja kan yang dituntut untuk ganti penggunaan bungkus makanan.

Jadi, meskipun penggunaan plastik belanjaan berkurang, tetap saja pengurangan jumlah sampah plastik secara keseluruhan tidak begitu besar. Katanya, survey pengurangan penggunaan plastik belanjaan mencapai 80% paling tingginya (baca di sini). Tapi itu pun masih perlu dipertanyakan validitasnya, berapa jumlahnya sehingga bisa keluar presentase demikian. Sedangkan yang saya lihat di lingkungan saya tampaknya tidak sesignifikan itu.

Mundur ke belakang, saya teringat obrolan istirahat siang dengan bos saya di tempat kerja sebelumnya. Bos saya ini lulusan kimia, dan dia pernah bilang kalau memang sampah plastik seharusnya dibakar saja.

Terdengar agak gimana? Mari saya jelaskan pendapat saya.

Begini. Saya beberapa kali kepikiran sesuatu tentang perihal siklus carbon, dan mencoba mempelajarinya dengan bertanya sana-sini. Jika memang pembakaran sampah atau plastik itu melepas CO2 ke udara, sungguhkah jumlah pohon di sekitarnya tidak bisa mengkonversi CO2 itu menjadi O2?

Saya bukan anak energi, jelas kemudian kalau hal-hal yang saya tuliskan di sini sebenarnya juga merupakan pertanyaan, atau kalaupun pernyataan, dasarnya masih sangat lemah. Tapi yang saya tahu, mendaur ulang plastik pun menggunakan energi lagi. Dalam pemikiran saya, daripada si plastik didaur ulang lagi dengan susah payah dengan energi yang juga berasal dari minyak bumi (artinya melepaskan CO2 juga ke udara), kenapa nggak sekalian aja dibakar. Sama-sama melepaskan CO2 kan? (Iya nggak sih?)

Demikian, jadi setiap orang bisa dengan bebas membakar sampah rumah tangga mereka sendiri, dengan konsekuensi menanam sejumlah pohon di tanah mereka sebagai kompensasi terhadap sampah yang mereka bakar. Hal itu saya anggap sebagai adopsi sistem REDD. Kalau selingkupan negara aja bisa dan sah, kan harusnya nggak ada perbedaan di level yang lebih kecil. Dengan sistem itu, mungkin lingkungan rumah menjadi lebih hijau karena mereka diwajibkan menanam pohon untuk kompensasi tadi.

Beberapa mungkin berpendapat untuk diwajibkan daur ulang di setiap rumah. Tapi masalah di Indonesia saya kira adalah nggak bisanya masyarakat untuk membedakan jenis-jenis sampah. Sampah lebih sering dihujan-hujankan, sehingga bau dan penuh belatung. Kalau sudah begitu kan jadi nggak ada yang mau pegang. Coba kalau tempat sampah selalu ditempatkan di tempat kering dan setiap sampah yang basah wajib dipisahkan. Atau jika itu botol bekas minum wajib dikeringkan. Saya pikir, sampah ini akan terasa lain. Sedikit cerita, saya suka mengumpulkan sampah di kamar kosan, beberapa bungkus makanan saya elap-elap buat jadi kertas cover buku, atau disimpan sekedarnya. Tapi karena tetap kering, sampah ini jadi nggak pernah bau meski sampai lebih dari satu minggu.

Hemm, menulis wacana memang menyenangkan, apalagi kalau bukan praktisi semacam saya ini. Jadi konsepnya bisa kedengaran bagus, hahaha. Kendala di lapangannya jelas akan banyak. Warga jelas mendingan bayar ke tukang sampah daripada ngurus sendiri sampahnya. Sering kali ada sampah-sampah yang bingung gimana kalau mau diurus sendiri. Misal, kosmetik yang nggak habis, atau baterai, atau sampah kaca. Apa sebaiknya di setiap kemasan ada aturan cara mengolah atau membuangnya dengan benar?

Well then, sudah pukul 00.24, dan saya pikir saya harus segera tidur. Cukup sekian wacana saya di malam ini. Semoga bisa menulis yang lebih mencerahkan lagi. Tabik.

wordsflow