Life Serenade (xv): in relationship

by nuzuli ziadatun ni'mah


Sudah lama saya nggak merelakan waktu saya untuk menulis di sini. Sibuk mungkin jadi alasan yang paling mujarab yang bisa saya berikan, bahkan ketika sebenarnya di antara ‘sibuk’ itu sebenarnya saya masih punya waktu untuk browsing instagram, hehe.

Dua minggu sudah sejak terakhir kali saya menulis, dan selama itu saya pikir banyak hal berkembang di pikiran saya. Tapi, topik yang sangat menarik perhatian saya di minggu-minggu belakangan ini sudah dijelaskan dengan apik oleh teman saya, yang yaah, akhirnya membuat saya mengurungkan niat untuk merekonstruksi gagasan dan opini saya tentang pernikahan. Hahaha.

Demikian, saya beralih saja ke topik relasi, sambil sesekali mengutip omongan mentor-mentor diskusi saya, hehe.

Suatu ketika sebelum ini, saya pernah diberi tahu, bahwa setiap tindakan manusia pasti selalu dipengaruhi oleh aspek ekonomi dan politik. Artinya, setiap tindakan kita didasari oleh tujuan-tujuan politis dan rasionalisasi yang bisa jadi kita sadari atau tidak. Jelas, ketika saya mendengar itu, secara nyata saya mengatakan bahwa ‘ah, saya nggak begitu’, meski kemudian saya akhirnya melontarkan pertanyaan ke diri sendiri, ‘jangan-jangan iya?’

Resiprositas menjadi topik yang menarik perhatian saya beberapa hari ini, dan saya pikir ia bisa menjelaskan beberapa perilaku aneh yang terjadi dalam suatu relasi.

Ada istilah yang disebut sebagai positive reciprocity, yaitu ketika kita memiliki hubungan kekerabatan yang dekat, maka hutang menjadi bernilai setara dan transaksi yang terjadi lebih mudah. Tidak ada hitung-hitungan yang jelas dalam hubungan ini. Karenanya, sistem kekerabatan sangat penting sifatnya, karena hanya dari sistem kekerabatan itu, kamu bisa mendapatkan apapun. Memang saya terlalu mengeneralisir, tapi sungguh. Apapun yang tidak bisa kamu dapatkan dari lingkungan pertemananmu, bisa dengan mudah kamu tembung ke keluarga: kakak, ibu, bapak, paman dsb. Dari sana, kita bisa mengembangkan dasar ini untuk menjelaskan tentang faktor penting dalam memilih pasangan, kenapa relasi antar mertua dan menantu menjadi begitu penting, atau bahkan bagaimana menjelaskan tentang upaya tolong-menolong dalam keluarga bisa begitu diperjuangkan meskipun dalam keadaan yang sama-sama sedang tidak makmur.

Sedangkan transaksi yang sebenarnya baru akan tampak jika kita tidak memiliki hubungan kekerabatan yang dekat, maka masing-masing akan terus berhitung untuk mencari keuntungan yang lebih besar dalam transaksi itu, mereka menyebutnya sebagai negative reciprocity. Semakin rendah tingkat kekerabatanmu dengan seseorang, semakin dia perhitungan. Begitulah sekiranya kasarannya.

Hemm, saya sih nggak mau bersusah-susah membahas teorinya atau penjelasan lanjutannya. Saya cuma memberikan gambaran awal, yang memudahkan saya untuk mengkonstruksikan gagasan saya tentang relasi, dalam hal ini saya akan lebih banyak membahas tentang relasi sosial di media sosial.

Agak aneh ketika, suatu ketika kamu bertemu dengan seseorang di sebuah forum maya yang tidak dikenal, dan akhirnya berteman akrab. Saya pikir, bidang observasi dan penelitian kita akhirnya sampai pada kasus-kasus di luar ‘rumusan-rumusan’ lampau, yang akhirnya menuntut untuk dirumuskan kembali si hal baru itu.

Dalam kasus saya misalnya. Suatu ketika saya tetiba dihubungi oleh seseorang yang intinya adalah meminta pertukaran barang dengan jasa, dimana dia meminta saya membuat buku dan dia akan memberi saya jasa promosi di akun instagramnya. Seharusnya negative reciprocity terjadi di sini karena kami tidak ada hubungan kekerabatan sama sekali, pun saya tidak kenal dia siapa. Pada faktanya saya meng-iya-kan saja permintaan itu dan terjadilah kesepakatan untuk saling bertukar. Transaksi itu terjadi tanpa pikir panjang.

Pertanyaannya kemudian adalah, setelah tahu tentang resiprositas, saya sangat tertarik untuk merunut kembali pola pikir saya sampai akhirnya saya menyetujui kesepakatan itu. Agak aneh karena saya pikir, saya bukan tipikal orang yang terlalu memperhitungkan aspek politik dan ekonomi dari setiap tindakan saya. Tapi pun demikian, saya sangat tahu bahwa kesepatakan itu setidaknya akan membuat akun dagangan saya dilihat lebih banyak orang karena perbandingan follower kami yang terlampau jauh. Pun sebenarnya saya tidak menghabiskan banyak bahan dan waktu dalam memenuhi tuntutannya. Singkatnya, saya menyimpulkan bahwa dalam waktu singkat ternyata saya telah menyadari keuntungan-keuntungan itu sebelum kesepakatan terjadi. Transaksi itu kemudian, bisa dianggap adil oleh dua belah pihak.

Lanjut kemudian, bagaimana dengan tindakan-tindakan saya sebelum ini?

Ada alasan-alasan mendasar kenapa saya menolak penilaian bahwa saya punya tujuan-tujuan politis atau ekonomis dalam bertindak. Hal itu adalah perasaan hampa yang saya rasakan di beberapa kasus. Meski kemudian, saya mencoba untuk merasionalisasi semua hal itu agar saya bersikap adil pada diri sendiri.

Memang dalam beberapa hal, saya tampaknya bukan orang yang terlalu memikirkan tentang keuntungan. Tapi kemudian saya mulai menyadari bahwa itu adalah tindakan yang sengaja saya lakukan. Seolah-olah tindakan saya terjadi tanpa pamrih dan tanpa perhitungan, padahal jauh di dalam pemikiran saya, jika bukan keuntungan material yang saya dapat, setidaknya saya mendapat keuntungan sosial. Hemm, licik yak, hahahaha.

Lebih dari itu, sebenarnya yang begitu-begitu lebih saya sesalkan, mungkin karena kultur Jawa yang lebih suka melakukan dan membicarakan hal-hal tersirat, maka jadi terkesan licik. Belakangan ketika saya sudah cukup aktif terjun dalam jual-beli, saya semakin menyadari bahwa segalanya kini lebih bersifat transaksional. Hal-hal yang sebelumnya tersirat dan terkesan licik itu, akan jauh lebih mendapat tanggapan positif jika dibicarakan dan disepakati; menjadi sebuah transaksi. Ini bukan hanya soal materi, tapi juga soal relasi sosial.

Kamu nggak bisa berandai-andai bahwa seseorang akan menolongmu, maka lebih baik meminta. Atau kamu nggak bisa berandai-andai bahwa cintamu akan dibalas oleh seseorang, maka mintalah, tanyakanlah. Hal-hal semacam ini yang sekarang sedang berkembang dan populer. Semakin jarang yang bisa membaca hal-hal yang ‘tersirat’ itu, sementara di desa-desa masih banyak simbah-simbah kita yang menggunakannya. Tidak heran kemudian, jika tidak banyak yang bisa memahami maksud itu karena kita terbiasa transaksional dengan setiap orang.

Yah, saya nggak terlalu tahu banyak memang, tapi pelan-pelan menjadi orang yang nggak se-ngawang-awang dulu lagi. Biar kalo diajak ngobrol masih ada alurnya, nggak ngalor-ngidul nggak jelas, hehe. Yasudah, saya tidur dulu. Tabik,

wordsflow